Ketika Lapangan Hijau Berbayar Kalah Mewah dengan Paving Gratis Masjid Kauman

Bermain bola di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Di sini ada yang cita-citanya jadi atlet sepak bola nggak?” tanya saya kepada segerombolan anak yang bermain di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja pada Jumat (3/7/2026) sore. 

Salah seorang anak berbaju hitam bernama Reza tampak mengacungkan tangannya malu-malu tetapi antusias, lalu menjawab dengan tegas.

“Aku ingin jadi pemain timnas (Indonesia),” ucapnya. 

Reza dan Zaky. MOJOK.CO
Reza berbaju hitam dan Zaky berbaju merah sedang berebut bola. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Sambil bertelanjang kaki, anak kelas 1 SMP itu mengaku bahwa dia penggemar klub Argentina. Bahkan, saat jadwal pertandingan Argentina berlangsung pada malam hari di Indonesia, Reza ikut begadang bersama ayahnya.

“Untungnya pas libur sekolah, jadi nggak dimarahin,” kata dia. Kegemaran menonton klub idola tersebut rupanya jadi pemantik semangat bagi Reza untuk terus bermain bola.

Anak-anak dan remaja membaur untuk bermain bola di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Kemampuan Reza pun tidak bisa dianggap enteng. Dia sering ‘melatih’ teman-temannya secara tidak langsung, meskipun hanya di lapangan paving sederhana seperti Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja.

“Aku nggak ikut klub (akademi bola),” ungkapnya sembari melihat seorang anak berjersey dan bersepatu futsal yang dibonceng ibunya menuju lapangan berbayar.

Suasana sore di lapangan bola Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Sedangkan bagi Reza, lapangan paving di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja nan gratis itu sudah terbilang cukup untuk menyalurkan bakat dan minatnya. Toh, mereka bisa menggunakannya dari pagi sampai malam. Saat azan berkumandang, mereka baru berhenti untuk jeda.

Seorang anak bertugas menjaga gawang dan mengoper bola. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Meski tak bisa bermain di atas rumput hijau, menurut Reza, yang terpenting dari permainan sepak bola adalah nilai-nilai soal kerja sama tim dan solidaritas. Hal itu terlihat saat Reza bermain bola dengan teman-temannya di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. Sesekali dia mengoper ke temannya Zaky untuk membantunya berlatih menyundul bola. 

Anak-anak berbagi lapangan bola di Pelataran Masjid Gedhe Kauman Jogja.(Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Di sisi lain, Reza dapat melatih kemampuannya untuk mengontrol bola alih-alih menendang tanpa arah. Bahkan, dia juga menjaga junior-juniornya yang masih duduk di bangku SD.

“Awas punggung, punggung,” kata Reza sembari mengawasi mereka bermain. 

“Terus! Terus! Terus giring sampai gawang, jangan sampai lepas!,” ujarnya menyemangati, saat dia melihat juniornya hampir menuju gawang. 

Shoot, keren!!!” teriaknya mengapresiasi, apapun hasil dari tendangan mereka.

Anak-anak berhenti bermain bola saat azan magrib berkumandang. MOJOK.CO(Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Tak hanya Reza, suasana di Pelataran Masjid Gedhe Kauman Jogja sore itu didapati oleh anak-anak hingga remaja. Mereka membaur dan saling berbagi ruang. Tertawa riang dengan kesederhanaan.

Fotografer: Aisyah Amira Wakang
Kurator: Muchammad Aly Reza

LIHAT JUGA: Mengais Asa di TPA Troketon, Benteng Terakhir Penghidupan Warga Klaten atau konten Membidik Cerita (foto jurnalistik) Mojok lainnya di rubrik Bidikan

Exit mobile version