“Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten

Pengendara sepeda melintas di sekitar jalan Masjid Mlinjon untuk berburu takjil. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Membidik Cerita: Di tengah banyaknya pilihan jajanan Korea di acara Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten pada Sabtu (7/3/2026) kemarin, saya akhirnya menemukan beberapa kuliner khas Indonesia. Salah satunya adalah pecel.

Sebagai orang Surabaya, saya merindukan makanan tradisional yang terdiri dari sayuran rebus dan sambal kacang ini. Jujur saja, sejak merantau ke beberapa kota di luar Jawa Timur, saya belum menemukan pecel dengan rasa yang pas. 

Pedagang pecel. MOJOK.CO
Rini, pedagang pecel dan plecing di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Yang ada malah pecel berganti istilah jadi “pecel lele” alias penyetan. Oleh karena itu, saya sangat jeli dalam memperhatikan lapak pedagang pecel di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten agar tidak kena zonk lagi.

Untungnya, saya tidak salah pilih. Rini (53), penjual pecel di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon itu begitu ramah menawarkan dagangannya ke setiap pelanggan yang lewat. Ia pun dengan senang hati menjelaskan kuliner lain yang ia jual pada saya, misalnya plecing.

Rini sedang membuat plecing pesanan pembeli. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Kalau plecing ini masakan khas Lombok dan Bali. Mirip seperti pecel, bahannya dari sayuran rebus (biasanya kangkung air) tapi bumbunya bukan kacang. Bahan dasar bumbunya dari  cabai rawit, terasi, tomat, sama perasan jeruk limau,” kata Rini sembari menyiapkan pesanan dari pelanggannya yang antre.

Warung Bu Topo di Klaten. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Selain pecel dan plecing, Rini juga menjual aneka baceman, gembus, dan bakmi. Berdasarkan pengamatan Mojok, ada satu lagi lapak yang menjual kuliner serupa dengan Rini di kampung Ramadan Masjid Mlinjon, yakni warung Bu Topo. Harganya pun sama, yakni Rp5 ribu per porsi untuk tiap kuliner.

(Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Saya sebetulnya sehari-hari jualan baju di Pasar Gedhe Klaten, terus kalau minggu di car free day, tapi karena puasa saya ambil peluang jual makanan. Khususnya pecel, bakmi, sama plecing. Soalnya saya lihat yang lain pada jual makanan kekinian,” ucap Rini yang sudah 4 tahun ini jualan pecel di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten.

Purnomo sedang membakar sate di lapaknya. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Selain pecel dan plecing, saya juga menemukan kuliner tradisional lain, yakni Sate Kere Bu Misinem Merbung. Kuliner khas Solo dan Jogja yang terbuat dari tempe gembus (ampas tahu) atau jeroan sapi.

“Satu porsi isi 8 tusuk, harganya Rp10 ribu,” kata Purnomo (43), penjual Sate Kere Bu Misinem Merbung di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten.

Pembeli sate kere. MOJOK.CO

Melansir dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sate kere sudah ada sejak zaman kolonial. Kala itu, sate merupakan makanan mewah yang hanya bisa disantap oleh kalangan menengah ke atas. Oleh karena itu, muncul istilah sate “kere” (miskin) yang terbuat dari jeroan sapi alih-alih daging, sehingga bisa disantap oleh kalangan bawah.

Seorang pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Meski kuliner tradisional seperti pecel, plecing, dan sate kere terbilang murah serta menggunakan bahan yang sederhana, tapi penikmatnya tak pernah surut dari berbagai generasi. 

Lapak pedagang selain jajanan tradisional Indonesia. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Terutama saat Mojok ikut antre membeli kuliner tersebut di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. Di tengah banyaknya jajanan kekinian, kuliner itu masih memiliki rasa autentik yang belum bisa tergantikan. Adapun, harganya juga masih terjangkau.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version