Berburu Takjil di Yogya, dari Gratisan hingga yang Berbayar

Berburu takjil gratisan dan yang berbayar dari pasar ramadhan Jogokariyan hingga Pasar Ramadhan Langenastran

Berburu takjil seperti sudah jadi kebiasaan yang tak boleh dilewatkan saat bulan Ramadan. Di Yogya sebenarnya banyak tempat berburu takjil, baik yang berbayar maupun gratisan.  Berikut beberapa tempat yang bisa jadi jujugan kalau mau berburu takjil di Yogyakarta.

Pasar Sore Kampoeng Ramadan Jogokariyan

Meskipun harus menggunakan protokol kesehatan yang ketat karena masa pandemi Covid-19, namun Pasar Sore Kampoeng Ramadhan Jogokariyan tetap buka. Sekitar 179 pedagang takjil menjajarkan gerobaknya. Ada pula pedagang yang menggunakan meja panjang. Di atas meja sudah tersusun nampan warna-warni. Nampan itulah, tempat bagi pedagang takjil menata jajanan.

“Bu, pepes ikan tongkol satu, ikan tuna satu,” ungkap seorang ibu berambut pendek yang datang bersama suaminya. Saya pun mengikuti arah pandangnya. Rupanya bungkusan daun yang sedari tadi ada dihadapan saya itu pepes ikan. Saat saya datang, hanya terdapat dua menu pepes, yaitu  pepes ikan tongkol yang dijual seharga enam ribu rupiah dan pepes ikan tuna seharga sembilan ribu rupiah.

Saya mendekat kepada suami dari Ibu berambut pendek yang masih asik memilih makanan untuk menu buka puasa. Namanya Pak Supri (61) warga asli Jogja yang bertempat tinggal di sekitar lembah Universitas Gadjah Mada (UGM). Baru Ramadan tahun ini Pak Supri dan istrinya berburu takjil di Pasar Sore Kampoeng Ramadhan Jogokariyan. Katanya, tahun sebelumnya ia dan istrinya memilih untuk mencari takjil di seputaran rumahnya saja.

Kedatangan Pak Supri ke Jogokariyan saat ini bukan yang pertama kali. “Kemarin, saat hari pertama Ramadan, naik sepeda ke Masjid Jogokaryan,” jelas Pak Supri sembari menunjuk Masjid Jogokariyan yang tidak jauh dari tempat saya dan Pak Supri berdiri. Menurut Pak Supri, takjil yang disajikan di tempat ini sesuai dengan lidahnya. Karena itulah, hari ini ia dan istrinya kembali berbelanja takjil di Pasar Sore Kampoeng Ramadhan Jogokariyan.

Saya kembali melihat meja tempat makanan yang berjajar. Terlihat arem-arem, pie susu, lumpia, tahu bakso, puding, dan masih banyak jajanan lain yang memanggil untuk masuk ke perut saya. Saya menelan ludah kasar,  belum waktunya berbuka puasa. Hingga mata saya menatap sebuah es berwarna merah yang menggugah selera. “Itu minuman apa Bu?” tunjuk saya ke sebuah gelas yang hampir membuat liur menetes. “Es kopyor Mbak, murah sepuluh ribu saja,” ucap Bu Tirta Segara (50).

Berbekal informasi dari Bu Tirta, es kopyor adalah es yang dibuat dari kelapa kopyor. Namun, sekarang sudah banyak juga penjaja takjil yang membuat es kopyor dari jeli rasa kelapa yang dibuat sedemikian rupa hingga menyerupai serat-serat kelapa kopyor. “Wah, ternyata ada yang asli dan ada yang kw (red : palsu) ya Bu,” ceplos saya yang disambut tawa Bu Tirta. Tidak hanya es kopyor, Bu Tirta juga menjual seger-seger lainnya, yaitu jus jambu dan pisang kopyor.

Salah seorang penjual takjil di Pasar Ramadhan Jogokariyan melayani pembeli. Foto oleh Brigitta Adelia/Mojok.co
Salah seorang penjual takjil di Pasar Ramadhan Jogokariyan melayani pembeli. Foto oleh Brigitta Adelia/Mojok.co

Persiapan Bu Tirta untuk berjualan takjil sudah dimulai dari pukul setengah enam pagi. Bu Tirta biasa berbelanja di Pasar Prawirotaman. Alasannya, Pasar Prawirotaman dekat dengan rumah Bu Tirta dan sudah lengkap. Bu Tirta juga sudah berlangganan dengan beberapa penjual. “Kadang kalau ada penjual yang lewat sini nanti dibawakan,” ungkap Bu Tirta. Pasalnya, membeli di penjual sayur dan daun pisang langganan dapat menjamin mendapatkan barang yang kualitasnya bagus, contohnya daun pisangnya bersih dan tidak ada yang lubang.

Setelah berbelanja di Pasar Prawirotaman, Bu Tirta kembali ke rumah dan mulai membuat beberapa takjil, yaitu pepes ikan, carang gesing, dan pisang kopyor. Racik-racik bumbu dan mempersiapkan takjil yang dilakukan Bu Tirta dibantu oleh anak dan suaminya. Resepnya turun menurun dari ibunya. Berjualan saat Ramadan memang sudah menjadi kegiatan wajib Bu Tirta sejak sebelas tahun yang lalu.

Harga takjil di masa pandemi Covid-19 ini tidak dinaikkan. “Kalau ditanya omset jelas menurun,” ungkap Bu Tirta. Pasalnya, sebelum Covid-19, banyak orang-orang luar kota yang turut berbelanja di Jogokariyan. Hal itu berbanding terbalik dengan saat ini. Bahkan sekarang pengunjung dibatasi. Terlihat dari sistem buka tutup jalan agar pengunjung tidak berdesakan. Meskipun demikian, terdapat fasilitas kesehatan yang diperoleh pedagang di Pasar Sore Kampoeng Ramadan Jogokariyan, yaitu tidak perlu membayar tes Genose berkala.

Duka penjaja takjil adalah saat hujan. Kata Bu Tirta, pernah dagangannya tidak habis karena sore hari diguyur hujan. Namun, Bu Tirta tidak merasa sedih dan kecewa. Ia malah membagikan takjil sisa itu kepada tetangga-tetangganya. “Kalau biasanya dagang mulai jam tiga sore, nanti kalau sudah waktu buka puasa, baru kembali ke rumah untuk persiapan salat Tarawih,” pungkas Bu Tirta yang juga membuka warung makan saat di luar Ramadan.

Selain lapak milik Bu Tirta, masih banyak lapak pedagang takjil lain di sepanjang jalan di Jogokariyan. Beberapa jajanan tradisional yang saya temukan seperti jenang dan coro bikang. Adapula jajanan kekinian seperti waffle, dimsum, dan minuman alpukat kocok. Sebuah lapak yang berbentuk alat pemanggang menarik perhatian saya. Di sekeliling alat pemanggang itu, ditutup spanduk berwarna merah bertuliskan Taste Of Jerusalem.

Selain aneka jajanan yang dijual di sepanjang jalan di Jogokariyan, Masjid Jogokariyan setiap harinya juga menyediakan sekitar 2000 takjil nasi gratis untuk orang-orang yang datang. Kegiatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan menjadi ikon Masjid Jogokariyan.

Pasar Ramadan Langenastran

Hal berbeda saya temukan saat berburu takjil di Pasar Ramadan Langenastran. Cukup menarik perhatian saya lantaran tidak hanya melihat pemandangan aneka jajanan saja, melainkan juga pernak-pernik masker, pakaian, dan tas.

Sebenarnya, saya menemukan Pasar Ramadan Langenastran ini tidak sengaja ketika tengah melewati Alun-Alun Kidul. Ternyata, pasar ini memang baru diadakan tahun 2021 ini. Tanpa berpikir panjang, saya segera memarkirkan motor dan mulai berkeliling dari lapak satu ke lapak lainnya.

Lapak pertama menjual baju olahraga. Penasaran, saya pun mencoba untuk mendekati lapak tersebut dan melihat-lihat. Tiba-tiba seorang Ibu paruh baya menunjuk saya yang tengah asik memotret. “Itu Dek wartawannya datang,” kata Ibu paruh baya itu kepada anaknya. Memanfaatkan keadaan itu, saya mendatangi Ibu paruh baya itu untuk mengobrol seputar Pasar Langenastran.

Sayuran yang tertata rapi di atas tampah menarik perhatian saya. Namanya Bu Endah (48). Sehari-hari, ia memilih berjualan roti. Namun, selamam Ramadan ini, ia mengeluarkan menu andalannya yaitu pecel. Pagi hari, sekitar pukul enam, Bu Endah sudah pergi ke pasar untuk membeli sayuran. Setelahnya, sayuran itu dipetik dari tangkainya atau dipotong menjadi kecil-kecil agar mudah dinikmati.

Sedangkan, bumbu sambal kacang sebagai bahan utamanya telah disiapkan Bu Endah dalam tando (red : tempat penyediaan). “Nanti kalau mau membuat tinggal di jer,” jelas Bu Endah yang berarti bumbu sambal kacang itu hanya dicairkan pakai air.

Menurut Bu Endah, Pasar Ramadan Langenastran ini pedagangnya berasal dari bekas pedagang Alun-Alun Kidul yang memang sudah setiap hari Sabtu dan Minggu pagi berjualan di Kampung Langenastran. “Sudah tiga bulan, sejak pinggir Alun-Alun Kidul tidak boleh untuk berjualan,” cerita Bu Endah. Katanya, Bu Endah dan beberapa rekannya di lapak pertama, kedua, dan ketiga adalah perintis dari paguyuban pedagang di Kampung Langenastran ini.

Pasar Ramadan Langenastran dikelola oleh pemuda dan pemudi Kampung Langenastran. Rupanya, sebanyak 57 lapak yang berjejer bukan hanya dari paguyuban pedagang Kampung Langenastran, namun juga dari warga Kampung Langenastran. Sekedar informasi, sebagian besar anggota paguyuban pedagang Kampung Langenastran memang bukan warga Kampung Langenastran. Anggota dari paguyuban pedagang Kampung Langenastran ini ada sekitar 30 lapak. Katanya, lapak-lapak itu sudah buka sejak pukul dua siang dan akan tutup pukul tujuh malam.

Menurut Gading (33), Koordinator Paguyuban Pedagang Kampung Langenastran, adanya Pasar Ramadan Langenastran ini merupakan bentuk antusiame dari warga. Perizinan yang dilakukan untuk mengadakan kegiatan ini sangat lengkap, begitu pula protokol seperti pengunjung harus mencuci tangan sebelum masuk, penggunaan masker harus tepat, dan harus ada jarak antar lapak sesuai dengan garis kuning di aspal yang telah ditentukan panitia.

Saya masih menikmati wangi makanan di Kampung Ramadan Langenastran. Hingga mata saya menatap es berwarna hijau yang sering disebut es kuwut. “Es kuwutnya satu,” ungkap seorang gadis seumuran saya sembari mengeluarkan selembar uang lima ribuaan. Es kuwut merupakan minuman yang terbuat dari kelapa, sirup melon, sedikit jeruk nipis, dan selasih.

Tyas (21), warga sekitar Gejayan yang datang bersama teman-temannya untuk ngabuburit di Pasar Ramadan Langenastran. Berbekal setelan baju dan sepatu olahraga, Tyas dan teman-temannya baru saja menyelesaikan tiga putaran Alun-A\alun Kidul. “Walaupun puasa juga tetap harus olahraga,” kata Tyas yang kemudian berpamitan untuk bergabung dengan teman-temannya lagi.

Kampung Ramadan Notoyudan

Saya sudah mulai menyerah berburu takjil di pasar Ramadan di sekitaran Kota Yogya. Pasalnya, di masa Covid-19 ini, tidak terlalu banyak pasar Ramadan yang buka. Mungkin mengurus perizinan yang sulit dan juga ketakutan menjadi tempat penularan virus Covid-19 karena menyebabkan kerumunan.

“Parkir masuk, parkir masuk,” teriakan para pemuda di pinggir Jalan Letjen Suprapto memecah perhatian saya mengendarai sepeda motor. Rupanya, di sana terdapat Pasar Ramadan Notoyudan. Sekilas, Pasar  Ramadan Notoyudan tampak ramai. Saya pun bergegas masuk dan berjalan dari lapak satu ke lapak lainnya.

Dibandingkan dua pasar Ramadan sebelumnya, Pasar Ramadan Notoyudan memiliki lebih sedikit penjual. Saya pun tertarik dengan es kopyor yang hanya dihargai dua ribu rupiah saja. Rupanya, ini adalah es kopyor yang terbuat dari jeli. Meskipun begitu, dari semua lapak, lapak ini yang terlihat paling laris, bahkan es kopyor itu tinggal tersisa tiga bungkus saat saya datang.

Mega Saputri (22), lulusan SMK jurusan pemasaran yang bersemangat menawarkan es kopyor ke pengunjung Pasar Ramadan Notoyudan. Mega yang ditemani ibunya turut berjualan di Pasar Ramadan Notoyudan ini untuk memeriahkan dan agar semakin rukun dengan tetangga-tetangganya. Maklum, para penjual Pasar Ramadan Notoyudan ini kebanyakan berasal dari RW 24 Kampung Notoyudan saja.

Dikoordinasi oleh pemuda dan pemudi Kampung Notoyudan, Pasar Ramadan Notoyudan memang baru diadakan tahun 2021 ini. “Kalau lapak yang rame ya rame, kalau yang tidak rame ya dagangannya masih utuh,” ungkap Mega sembari menunjuk beberapa lapak yang mengundurkan diri karena tidak laku. Mega mengatakan bahwa ini adalah kali pertamanya berjualan saat Ramadan.

Berburu takjil take away gratisan

Menjelang tanggal tua memang sangat meresahkan. Maka berburu takjil gratisan jadi pilihan. Beberapa masjid besar di Yogyakarta biasanya menyediakan takjil gratisan bagi masyarakat. Selain itu ada juga komunitas atau kelompok masyarakat yang membagikan takjil.

Berbekal informasi dari seorang teman, saya menemukan takjil take away gratis ini di depan Masjid Baiturrahim Gejayan.

“Takjil gratis, takjil gratis, takjil gratis,” rekaman suara yang menyita perhatian setiap orang yang lewat di Jalan Garuda samping Masjid Baiturrahim Gejayan. Acara bagi-bagi takjil gratis dilakukan setiap hari oleh Komunitas Pelajar Peduli. Pembagian takjil dimulai pukul setengah lima sore.

Pembagian takjil gratis di Masjid Baiturrohim. Foto oleh Briggita Adelia/Mojok.co

Totalnya ada 190 takjil take away gratis yang dibagikan. Sebanyak 90 takjil berasal dari Komunitas Pelajar Peduli dan 100 takjil berasal dari Masjid Baiturrahim. Sedangkan, untuk takjil on the road, terdapat 100 takjil gratis yang dibagikan.

Namanya Mas Rahman Al Padli (19), ketua pelaksana pembagian takjil gratis tahun 2021. Mas Rahman mengatakan acara pembagian takjil yang bernama Ramadan Pelajar Peduli ini sudah empat tahun diadakan. Namun, ini adalah pertama kalinya bekerja sama dengan Masjid Baiturrahim Gejayan.

Bersama tiga puluh tujuh anggota Komunitas Pelajar Peduli, Mas Rahman mengadakan dua acara pembagian takjil, yaitu takjil take away dan takjil on the road. Jika takjil take away menetap dan tidak berpindah-pindah, maka takjil on the road dilakukan di titik tertentu, seperti kemarin di sepanjang Jalan Gejayan. Namun, takjil on the road hanya diadakan sekali seminggu, yaitu setiap hari Jumat. “Diadakan takjil on the road agar yang tidak bisa datang ke Masjid Baiturrahim, bisa merasakan mendapatkan takjil gratis,” jelas Mas Rahman yang mengajak saya ikut berbagi takjil.

Awalnya hanya sedikit yang datang ke stand berbagi takjil take away di seberang Masjid Baiturrahim. Namun, semakin mendekati waktu berbuka puasa, semakin banyak yang datang untuk mengambil takjil. “Tidak ada syarat khusus untuk mendapatkan takjil, semua orang bisa mendapatkan,” ungkap Mas Rahman sembari memasukkan dua nasi kotak ke kantong plastik.

Terdapat tiga macam menu takjil gratis yang tersedia, yaitu nasi kotak dengan lauk ayam dan sayuran, nasi ayam cepat saji, dan nasi kuning.

Takjil Take Away gratis di Masjid Baiturrahim diterima baik oleh warga sekitar dan beberapa orang yang kebetulan sedang lewat. Salah satunya, Bu Lastri (63), warga sekitar yang ikut bahagia melihat wajah senang dari setiap penerima takjil gratis. “Kalau dahulu makan di tempat, di Masjid Baiturrahim, namun karena Pandemi Covid-19 jadi takjil take away ini juga sangat baik, menghindari kontak fisik,” ungkap Bu Lastri.

Kebahagiaan juga dialami Lina, mahasiswi universitas swasta di Jogja yang kebetulan mampir ke Masjid Baiturrahim sepulang dari mengerjakan tugas di rumah temannya. Lina sebelumnya tidak tahu adanya takjil take away gratis ini. “Buat nanti buka puasa di rumah,” ungkap Lina yang bertempat tinggal di Turi.

Takjil take away di seputaran Universitas Gadjah Mada

Saya melanjutkan berburu takjil di sekitar Universitas Gadjah Mada (UGM). Katanya, di Jalan Agro dekat Fakultas Kehutanan dan di dekat Lembah UGM setiap hari disediakan takjil take away. Namun, sepertinya keberuntungan tidak berpihak pada saya. Katanya, untuk mendapatkan takjil take away gratis yang laris manis ini harus datang di lokasi tiga puluh menit sebelum jam pembagian takjil.

Pembagian takjil take away di sekitaran UGM ini digawangi oleh Ramadan di Kampus (RDK) UGM di bawah Unit Kegiatan Mahasiswa Jama’ah Shalahuddin. Kebetulan, seorang teman saya, merupakan panitia dari takjil take away gratis di sekitaran UGM ini. Namanya Lonita (21), menurutnya takjil take away gratis ini untuk membantu menyediakan makanan berbuka puasa bagi masyarakat sekitar UGM atau yang kebetulan sedang lewat. Salah satu syarat untuk mendapatkan takjil gratis adalah harus ikut antri atau tidak boleh diwakilkan.

Dimulai dari jam empat sore, sebanyak tiga ratus porsi menu buka puasa dibagikan. “Menentukan katering dilakukan untuk melihat kecocokan rasa dan harga. Beberapa katering yang dipilih adalah usaha mikro kecil menengah yang terdampak dan yang pernah bekerja sama dengan RDK,” ungkap Lonita. Uang untuk memesan takjil take away gratis itu merupakan hasil donasi dari tanggal 22 Januari 2021 kemarin.

Bersama empat belas panitia lain, Lonita merasa senang bisa ambil bagian dalam pembagian takjil take away gratis. “Untuk menambah amal,” pungkas Lonita menyebutkan alasannya bergabung di kepanitiaan kegiatan ini.

BACA JUGA    Sandal Hilang di Masjid dan Pembelaan yang Mengambilnya  dan liputan menarik lainnya.

Exit mobile version