Mimpi Masa Kecil “The Next Minions” yang Masih Tertunda

Mimpi Masa Kecil "The Next Minions" yang Masih Tertunda (dok. BWF)

Gemuruh di Istora Senayan mencapai puncaknya pada Minggu (25/1/2026) sore. Ribuan pasang mata tertuju pada duet ganda putra masa depan Indonesia, Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin, yang sedang bermain final Indonesia Masters 2026.

Namun, harapan publik untuk melihat pasangan berjudul “The Next Minions” itu berselebrasi riang di penghujung turnamen, harus tertunda. Pasalnya, mereka harus puas mengakhiri turnamen sebagai runner-up setelah takluk dari pasangan senior Malaysia, Goh Sze Fei/Nur Izzuddin. 

Dalam pertandingan dua gim langsung tersebut, Raymond/Joaquin tampak kesulitan membendung pola permainan taktis dan pertahanan rapat yang diperagakan lawan. 

Intensitas tinggi bercampur dengan teriakan “ea, ea”

Pertandingan final tersebut, sejak awal berjalan dalam tensi tinggi. Istora Senayan, yang dikenal sebagai salah satu arena paling berisik di dunia bulu tangkis, memberikan tekanan ganda. 

Di satu sisi, teriakan penonton menjadi suntikan semangat bagi Raymond/Joaquin. Di sisi lain, ekspektasi besar yang menyelimuti udara Senayan seolah menjadi beban di pundak mereka.

Raymond/Joaquin, yang biasanya dikenal dengan gaya main agresif dan cepat, kali ini seperti kehilangan ritme. Goh Sze Fei/Nur Izzuddin tampil sangat solid, memaksa pasangan muda Indonesia itu melakukan banyak kesalahan sendiri. 

raymond, joaquin.MOJOK.CO
Pertandingan final berjalan dalam tensi tinggi. Namun, pasangan Malaysia bermain lebih tenang. (dok. BWF)

Setiap kali smash keras Raymond berhasil dikembalikan lawan, tekanan mental di lapangan terasa kian menebal. Beberapa kali Joaquin mencoba melakukan interception di depan net, tetapi ketenangan pasangan Malaysia membuat serangan-serangan tersebut mentah kembali.

Hasil akhir, mereka kalah dua set langsung: 19-21, 13-21. Kekalahan ini memang terasa pahit, apalagi terjadi di hadapan publik sendiri.

Mimpi kecil Joaquin, berjaya di “tempat sakral” bernama Istora

Di balik ambisi mengejar gelar, bagi Nikolaus Joaquin, final ini adalah tentang menunaikan janji pribadi. Istora Senayan bukan sekadar gedung olahraga baginya. Ia menyebut tempat ini sebagai “tempat sakral” yang membentuk jati dirinya sebagai atlet.

Joaquin bercerita, bahwa cintanya pada bulu tangkis lahir di tribun Istora. Bertahun-tahun lalu, saat ia masih kecil, sang ayah mengajaknya duduk di antara ribuan penonton untuk menyaksikan pahlawan-pahlawan bulu tangkis Indonesia bertarung. 

“Lupa tepatnya tahun berapa. Tapi itu Indonesia yang bertanding, diajak ayah waktu itu,” kata pebulu tangkis kelahiran Jakarta ini kepada Mojok, Senin (19/1/2026) silam.

Joaquin mengenal bulu tangkis berkat Istora. Oleh karena itu, berjaya di sini adalah ambisinya, dan kini harus tertunda. (dok. BWF)

Momen itulah yang memicu “mimpi kecil” Joaquin: suatu hari nanti, ia ingin berdiri di podium tertinggi di bawah atap ikonik ini.

“Saya mengenal olahraga ini di sini. Ayah saya yang memperkenalkan saya pada atmosfer Istora. Sejak saat itu, memenangkan gelar di sini adalah impian terbesar saya,” imbuhnya.

Meski trofi juara pertama belum berhasil diraih kali ini, berdiri di partai final Indonesia Masters tetap menjadi pencapaian emosional yang signifikan bagi pemuda tersebut.

Dominasi sepanjang 2025

Jika menilik ke belakang, performa Raymond/Joaquin sepanjang tahun 2025 sebenarnya sangat mengesankan. Mereka tidak datang ke Istora sebagai kuda hitam semata, melainkan sebagai pasangan yang sudah kenyang gelar di berbagai level BWF.

Nama mereka mulai menjadi perbincangan hangat saat menjuarai Australian Open 2025 (Super 500). Di partai puncak saat itu, mereka menunjukkan keberanian luar biasa dengan mengalahkan senior mereka, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri. 

Kemenangan tersebut membuktikan bahwa secara teknis, mereka sudah mampu bersaing di level World Tour yang tinggi.

Selain gelar di Australia, lemari piala mereka sepanjang tahun lalu terisi penuh oleh berbagai gelar juara, mulai dari Indonesia Masters II 2025 (Super 100), Singapore International, Sri Lanka International, hingga dua gelar di daratan Eropa, yakni Luxembourg Open dan Denmark Challenge.

Rentetan kemenangan ini menunjukkan konsistensi yang jarang dimiliki oleh pasangan semuda mereka.

Meskipun Raymond/Joaquin harus mengakhiri turnamen sebagai runner-up dan gagal menggenapi ambisi di sektor ganda putra, publik Indonesia tetap memiliki alasan untuk merayakan kemenangan. 

Di sektor tunggal putra, Alwi Farhan sukses keluar sebagai juara sekaligus menjadi penyelamat wajah tuan rumah. Alwi tampil dominan dengan mengalahkan wakil Thailand, Panitchaphon Teeraratsakul, lewat skor telak 21-5 dan 21-6. 

Keberhasilan Alwi ini memastikan Indonesia tetap mengamankan satu gelar juara di rumah sendiri, sekaligus menjadi penutup yang manis di tengah perjuangan keras Raymond/Joaquin yang harus puas di posisi kedua.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Memetik Makna Lain Kekalahan saat Para Bintang Muda Urung Bersinar di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version