Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

Lagu Patah Hati dan Piknik di Kuburan: Sebuah Curhatan Wong Klaten yang Tinggal di Amerika

Krisnasari Willoughby oleh Krisnasari Willoughby
20 Juli 2021
A A
Lagu Patah Hati dan Piknik di Kuburan : Sebuah Curhatan Wong Klaten yang Tinggal di Amerika

Lagu Patah Hati dan Piknik di Kuburan : Sebuah Curhatan Wong Klaten yang Tinggal di Amerika

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tidak terasa sudah setahun saya menjalani hidup baru di Amerika Serikat. Sebagai orang Klaten yang tinggal di negara yang menurut Lord Rangga telah dimerdekakan Banten ini, pertanyaan orang yang sering muncul untuk saya adalah, “Piye ning kono?” Saya balik nanya “Lhah, apane sing piye?”

Ketidakjelasan pertanyaan dari orang-orang tersebut memicu kegelisahan saya akan hal-hal tidak jelas seperti: sebagai orang yang lahir dan besar di Klaten, apa yang sulit saya bayangkan dan “can’t relate” di sini akibat cultural shock yang saya alami?

Iklan

Lagu-lagu patah hati 

Kegelisahan saya tersebut tentu juga mewakili pertanyaan-pertanyaan teman-teman saya di Indonesia. Misalnya ada yang tanya, ada nggak sih di Amerika Serikat, lagu-lagu sedih yang enak dijogeti seperti lagu-lagunya Didi Kempot. 

Baiklah, dari observasi, sedikit riset, dan sedikit wawancara saya mencoba menyajikan liputan ringan buat Mojok.co. 

Seni itu tampil sebagai cerminan sosial masyarakat. Di negara adidaya seperti Amerika, masyarakatnya sepertinya jarang ada yang rendah diri apa ya? Soalnya selama saya tinggal di sini saya belum pernah lho nemu lagu-lagu yang menggambarkan bubarnya hubungan dua insan akibat perbedaan, meminjam istilah Vicky Prasetyo, “statusisasi kemakmuran” mereka. 

Di Jawa ada Godfather of Broken Heart, Didi Kempot, yang beberapa lirik lagunya menggambarkan keterpisahan dua anak manusia akibat jurang si kaya dan si miskin. Diikuti penyanyi-penyanyi baru lainnya seperti Denny Caknan dan Ndarboy Genk yang punya lagu dengan tema yang sama. 

Apakah di Amerika tidak ada orang miskin? Uakeh Mas, sak ndhayak koplak. Cuman karena banyak faktor seperti sejarah, budaya, ekonomi, pendidikan, dll, mereka itu jarang yang tumbuh sebagai warga negara minderan. 

Makanya sulit dibayangkan Jennifer Lopez menyanyikan lagu putus cinta akibat “aku mung wong ora duwe”, yang ada adalah “MY LOVE DON’T COST A THING”. Atau sulit membayangkan Lady Gaga bersenandung begini, “Sugih dunyo ugo sugih bondo, bedo karo aku iki.” 

Heyyy, yang ada malah, “I WANT YOUR EVERYTHING AS LONG AS IT’S FREE.” Amargi mekaten nggih para sedherek sedaya, if it’s true love, material things kan kudune won’t matter, hilih…

Piknik di Kuburan kok  gak kesurupan

Saya tinggal di Houston, Texas,  kota di mana NASA berada. Ada komplek rumah dinas astronot, ada museum antariksa, Sandy Cheeks yang di Spongebob itu kalau nggak salah asalnya dari Houston Texas, karena bajunya astronot kayak gitu.

Saya ingin menceritakan tetang komplek pemakaman di kota yang juga dikenal karena koboinya ini.

Salah satu areal pemakaman di Houston. Dok. Krisnasari
                                                                   Salah satu areal pemakaman di Houston. Dok. Krisnasari.

Komplek pemakaman di sini resik dan terawat sehingga jauh dari kesan angker. Yang paling nggapleki, di sini ada yang namanya cemetery tourism atau cemetery travels, alias piknik di kuburan.

Iklan

Biasanya orang datang ke komplek pemakaman yang agak tua, lihat-lihat batu nisannya, kemudian sok jadi ahli sejarah -menganalisis almarhum/almarhumah ini hidup di zaman yang bagaimana. “He died on July 1863.” 

“Oh eighteen-sixties, itu masih jamannya Lincoln, Bro!” 

Saya sebagai orang Jawa, melihat orang trithikan di sasono loyo, nudhing-nudhing kijing, ngrasani swargi yang jasadnya tengah bersemayam dengan damai di pusara itu, saya cuma mbatin, ini bule nggak pernah keno sawan apa gimana ya? 

Pertanyaan ini juga yang saya tanyakan ke penduduk asli sana, suami saya sendiri, Steven Willoughby. Yang ada, saya ditertawakan olehnya. “Yeah…Ghost stories are lots of fun, especially on Halloween.” Yah, katanya cerita hantu itu sesuatu yang menyenangkan, terutama saat Hallowen. Gak seru pokoke. 

Sementara orang lain sedang pada jadi historian dadakan, saya tengah berusaha mengatasi keterkejutan budaya yang saya alami: Seriusan ra angker to iki? Ra kualat? Kiro-kiro lelembute ono sing ra trimo gak yo? 

Steven selalu menertawakan, jika saya cerita tentang keangkeran makam-makam di Indonesia, juga tentang setan-setan di Jawa. Piknik di kuburan di Houston ini sudah jadi tujuan destinasi di kota terbesar keempat di Amerika Serikat ini. 

Jadi jangan heran, kalau ada kunjungan wisatawan ke makam, bukannya kirim yasin malah lihat guide, me-roasting, orang-orang yang sudah di dalam kubur.  Apa nggak tersinggung itu? Padahal kalau di desa saya, benefit yang didapat dari cemetery tourism itu sebenarnya lebih dari sekadar nilai edukasi: nilai ekonomis. 

Tetangga saya pada tembus togel itu, dapat nomor jitu dari mana kalau bukan dari kegemaran cemetery tourism. Selama tinggal di sini, saya kerap jalan-jalan di beberapa makam. Tanpa mengucapkan “kula nuwun mbah buyut” lebih dulu dan cuci tangan-kaki sepulang dari makam, saya tidak pernah tuh menggeliat-geliat di lantai, bola mata bergerak ke atas, mengalami perubahan suara, dll yang menunjukkan gejala kesurupan itu.

‘Wong nggragas’ dan hukum di Amerika

Saya menyayangkan tabiat adik laki-laki saya yang masih tinggal di Klaten. Namanya Krisnanto. Nggragas-nya itu lho. Mosok tiap kali saya kirim hasil hunting foto saya selama tinggal di sini, seringnya berupa foto-foto binatang liar karena saya anaknya memang suka wildlife photography. Dia langsung nyeletuk, “Weh ono bulus, disate enak kuwi!” 

Sejenis menthok yang banyak ditemui di Houston, Texas. Dok Krisnasari.
                                                Sejenis menthok yang banyak ditemui di Houston, Texas. Dok Krisnasari.

Lain kali ada foto menthok dan bebek di danau, “Dirica-rica enak kuwi!” Ada foto ular, “Enak kuwi, aku wingi yo bar jajan tongseng ulo ning Jetis.”

Ini lho, aku lagi pamer wildlife photography kok jatuhnya jadi kayak food porn photography. Di sini tuh ya, yang namanya kura-kura, segala jenis burung dari dara, bebek, menthok, sampai elang yang jadi burung nasional kebanggaannya Amerika, ular, kelinci, aligator, dll hidup di alam bebas dan dilindungi hukum. 

Sebenarnya di Amerika berburu itu legal, tapi banyak syarat yang harus dipenuhi, seperti izin berburu, hewan apa yang boleh diburu, mematuhi jam dan musim berburu, area berburu, dan senjata apa yang boleh digunakan untuk berburu. Dan yang paling utama mengapa binatang liar itu bisa hidup damai di alam bebas, karena di sini hampir tidak ada orang nggragas seperti adik saya. 

Bayangkan orang nggragas hidup di sini, tiap hari makan tongseng bulus, rica-rica menthok, sate aligator, tumis biawak, kelinci goreng, sop ular… 

Mau dikasusin kok sepele… Amerika kan urusannya udah geopolitical level ya, masak mau dibikin capek sama bentukane Nanto yang nelik bulus di sungai tanpa ijin Parks & Wildlife Department. Meh dijarno kok yo tuman…

BACA JUGA Balap Kelereng, Pemuas Dahaga Suporter Sepak Bola di Indonesia dan liputan menarik lainnya di Mojok.

Terakhir diperbarui pada 21 Juli 2021 oleh

Tags: amerikaDidi KempotklatenKuburanpiknik di kuburansusul
Krisnasari Willoughby

Krisnasari Willoughby

Ibu rumah tangga, tinggal di Houston, Texas Amerika Serikat.

Artikel Terkait

KOMSAH: Sejahterakan petani di Klaten. MOJOK.CO
Eksplor

Tinggalkan Profesi Dokter untuk Jadi Penasihat Kelompok Tani, Optimalkan Anugerah Tanah Klaten yang Subur

20 Juli 2026
Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten dan dirikan KOMSAH. MOJOK.CO
Sosok

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026
Jumirah dan suami merupakan pemulung di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO
Eksplor

“Nrimo ing Pandum” ala Ibu Jumirah: Berteman dengan Belatung dan Diabetes di Tengah 150 Ton Sampah Residu Warga Klaten

12 Juli 2026
Truk sampah di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO
Bidikan

Mengais Asa di TPA Troketon, Benteng Terakhir Penghidupan Warga Klaten

10 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
Pakai jastip Mie Gacoan di Jombang: bayar lebih mahal untuk menu membagongkan MOJOK.CO

Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan

20 Juli 2026
Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026
Impact of Asia Limited (IOA) Global Pte Ltd Singapura jajaki kerja sama jangka panjang dengan Jawa Tengah lewat investasi manufaktur hingga pengembangan SDM MOJOK.CO

Peluang Investasi dan Kesempatan Pelatihan di China bagi Anak Muda Jateng

14 Juli 2026
Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif MOJOK.CO

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif

21 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

21 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.