Surya Paloh Temui Luhut, Pertanda Hubungannya dengan Jokowi Kian Renggang?

surya paloh luhut mojok.co

Ilustrasi Surya Paloh (Mojok.co)

MOJOK.COSurya Paloh kembali bertemu Luhut. Pengamat politik UGM mengindikasikan bahwa pertemuan itu semakin menegaskan kerenggangan hubungan Ketum NasDem tersebut dengan Jokowi. 

Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menemui Menko Marinves Luhut Binsar Panjdaitan (LBP) di sebuah restoran di Wisma Nusantara, Thamrin, Jakarta, Jumat (5/5/2023) kemarin.

Sejumlah rumor pun mencuat terkait isi pertemuan tersebut. Termasuk yang mengarah ke isu hubungan Surya Paloh dan Jokowi, hingga bursa pencapresan Anies Baswedan yang diusung Partai NasDem.

Pengamat komunikasi politik UGM Nyarwi Ahmad pun menduga, pertemuan tersebut bisa jadi menandakan bahwa kerenggangan hubungan antara Presiden Jokowi dan Surya Paloh kian nyata menjelang Pilpres 2024 mendatang.

Seperti yang sudah kita ketahui, sejak mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai calon presiden pada awal Oktober 2022 lalu, kehangatan hubungan Paloh dan Jokowi mulai memudar.

Bahkan, kata Nyarwi, sejak saat itu pula pintu komunikasi politik Surya Paloh secara langsung kepada presiden juga kian sempit.

Pun, keberadaan Luhut dalam pertemuan tersebut pun bisa kita baca sebagai representasi dari orang dekat Presiden Jokowi. Mengingat, sudah sejak lama Luhut menjadi menjadi orang dekat—bahkan tangan kanan—Presiden Jokowi

“Agenda yang dibawa LBP [Luhut] ketika bertemu Surya Paloh, saya kira juga tidak lepas dari agenda besar presiden Jokowi,” kata Nyarwi kepada Mojok, Minggu (7/5/2023).

“Bahkan bukan tidak mungkin LBP mengemban misi atau mendapatkan penugasan dari Presiden Jokowi, ketika menemui Surya Paloh. Paling tidak menyampaikan pesan-pesan dari Presiden Jokowi kepada Surya Paloh,” imbuhnya.

Bisakah mengubah bursa pencapresan?

Banyak rumor beredar, bahwa salah satu pembahasan dari pertemuan Surya Paloh-Luhut tersebut adalah terkait cawapres Anies, yang hingga saat ini belum ketahuan hilal-nya.

Bahkan, Ketua DPP Partai NasDem Sugeng Suparwoto sampai mencak-mencak dan meminta kepada Luhut untuk berhenti meng-endorse nama cawapres ke partainya.

Terkait hal tersebut, Nyarwi pun mengamininya. Direktur Eksekutif Indonesian Presidential Studies (IPS) ini mengatakan, meski pertemuan Surya Paloh-Luhut tidak akan menggoyang peta bursa tiga capres hari ini (Ganjar, Prabowo, Anies), pembicaraan ini mungkin mengarah ke sosok pendamping ketiga capres tersebut.

“Apakah pertemuan keduanya dapat mewarnai bursa cawapres yang potensial mendampingi masing-masing tokoh tersebut? Kalau itu, menurut saya masih memungkinkan terjadi,” ujar Nyarwi.

Nyarwi menduga, pertemuan dua sahabat lama elite pentolan Partai Golkar itu berisi negoisasi dan tawaran-tawaran tertentu. Baik itu menyangkut politik, kebangsaan, maupun politik elektoral.

Terkait dengan pembahasan politik elektoral, kata Nyarwi, misalnya terkait siapa saja yang potensial menjadi sosok capres dan cawapres dan siapa saja yang layak dapat dukungan dalam perspektif masing-masing.

“Tentu secara detail, yang lebih tahu siapa dan seperti apa agenda mereka, ya mereka berdua ini atau orang-orang yang ada di lingkaran dekatnya,” tukasnya.

Bursa capres belum akan mengerucut

Kendati ada pembahasan intens terkait nama-nama capres dan cawapres, Nyarwi menilai bahwa pertemuan itu belum akan bikin bursa pasangan koalisi parpol—ataupun pasangan capres-cawapresnya—mengerucut.

Untuk saat ini, tiga nama capres yang siap bertarung: Anies, Ganjar, Prabowo, belum memiliki pasangan, meskipun parpol sudah mulai cawe-cawe ke sejumlah tokoh untuk dipinang menjadi cawapres.

Namun, tetap saja, bursa pencapresan belum akan mengerucut. Sebab, untuk saat ini dan beberapa bulan kedepan, dinamika elite dan elektoral masih akan terus terjadi, sehingga opsi-opsi lain masih mungkin tercipta.

“Saya kira variabel ketua-ketua umum parpol lainnya, khususnya yang tergabung dalam KIB dan KIR menjadi faktor penting yang menentukan, baik format pasangan koalisi parpol maupun pasangan capres-cawapres yang akan didaftarkan ke KPU pada bulan oktober-november mendatang,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Prabowo, Airlangga, hingga Cak Imin Kunjung JK, Ada Apa? tulisan menarik lainnya di Kanal Pemilu.

Exit mobile version