Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kotak Suara

Pro Kontra Proporsional Tertutup, Pakar UGM Malah Sebut Sistem Ini Punya Keunggulan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
10 Juni 2023
A A
proporsional tertutup mojok.co

Surat suara proporsional tertutup pada Pemilu 1987 (Istimewa)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Publik gaduh dengan wacana perubahan sistem pemilu dari proporsional terbuka (pilih kandidat) ke proporsional tertutup (pilih partai). tak sedikit yang kontra dengan narasi ini, tapi benarkah sistem tersebut bikin demokrasi kita mundur?

Pembahasan sistem pemilu ini kembali ramai setelah mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana, menyebut telah mendapatkan bocoran informasi “dari sumber terpercaya” bahwa Mahkamah Konstitusi (MK) telah memutuskan Pemilu 2024 akan kembali ke sistem proporsional tertutup.

Iklan

Pernyataan Denny pun langsung mendapat banyak respons. Mayoritas warganet banyak yang khawatir sistem proporsional tertutup bakal membawa Indonesia ke masa otoritarian seperti Orde Baru.

Terkait hal tersebut, pakar politik UGM Mada Sukmajati menyebut bahwa proporsional tertutup sebenarnya tak sepenuhnya buruk. Kata Mada, ia dipandang negatif, salah satunya, karena istilah “tertutup” yang asumsinya sebagai sesuatu yang buruk.

Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Sebab dalam literatur politik, belum ada bukti yang menunjukkan kalau proporsional tertutup selalu negatif dan proporsional terbuka selalu demokratis.

“Malahan, dalam praktiknya di Indonesia, kita sudah membutikan bahwa proporsional terbuka tidak sepenuhnya demokratis,” kata Mada kepada Mojok, Senin (5/6/2023).

“Misalnya, seperti maraknya politik uang, problem politik representasi hasil pemilu yang kinerjanya buruk, dan sebagainya,” imbuhnya, ia mencontohkan.

Mendorong transformasi di partai politik

Selain itu, proporsional tertutup juga memiliki beberapa keunggulan. Salah satunya, proporsional tertutup dapat digunakan untuk mendorong transformasi dalam tubuh partai politik.

Caranya, kata dosen Ilmu Politik dan Pemerintahan UGM ini, adalah dengan mendorong partai politik untuk menekankan prinsip partisipasi dalam proses pencalonannya.

Seperti yang ia ungkapkan, partisipasi politik tak hanya dimaknai sebagai proses pencoblosan saja, melainkan juga proses pencalonan kandidat yang akan maju dalam pemilu. Dalam proses ini, parpol bisa mendorong agar kadernya berpartisipasi aktif untuk dicalonkan.

“Proporsional tertutup dapat meningkatkan derajat dan mutu demokrasi internal partai politik, terutama terkait fungsi rekrutmen politik dan proses kandidasi,” ujarnya.

Selain itu, sistem proporsional tertutup juga dapat mendorong lahirnya model perwakilan politik yang programatik antara rakyat dan para wakilnya. Sehingga, kata Mada, kita akan dapat mengembangkan politik berbasis ide atau gagasan ke depannya—bukan berbasis sentimen maupun politik uang.

Sejauh ini, dalam kerangka proporsional terbuka, model tersebut jarang ditemui dalam tubuh partai politik. Menurut Mada, saat ini kebanyakan parpol malah menaikan artis maupun publik figur yang bukan merupakan kader partai dalam pencalonan.

Alhasil, mereka hanya membawa visi pribadi tanpa mewakili ideologi partai. Padahal, seorang kader partai harus dituntut memiliki kemapuan menerjemahkan visi besar partai ke dalam program kerja mereka—alih-alih sekadar pamer popularitas.

Iklan

“Sistem saat ini [proporsional terbuka] seolah mereduksi ataupun melemahkan model perwakilan yang programatik tadi, karena, misalnya, banyak artis yang tidak paham soal visi partai tiba-tiba muncul mewakili nama partai,” jelasnya.

“Dalam proporsional tertutup, hal itu akan sangat jarang dijumpai,” lanjut Mada.

Efisien dan solutif

Di samping mampu menjadi agenda transformasi partai politik di Indonesia, proporsional tertutup juga ia pandang lebih efisien. Salah satunya terkait rekapitulasi atau perhitungan suara.

Mada amat menyayangkan pada pemilu sebelumnya banyak petugas pelaksana pemilu di lapangan yang harus meninggal dunia akibat kelelahan. Kebanyakan petugas ini kelelahan setelah melewati rangkaian tahap rekapitulasi suara yang panjang dan rumit.

Sementara dalam proses rekapitulasi di sistem proporsional tertutup sendiri, hanya mensyaratkan perhitungan suara untuk partai. Jadi, proses perhitungannya lebih mudah dan efisien, sehingga masalah serupa pada Pemilu 2019 dapat terminimalisir.

“Dalam proporsional terbuka, petugas harus menghitung satu-satu untuk nama caleg yang dipilih. Sementara dalam proporsional tertutup, prosesnya lebih mudah dan cepat karena hanya menghitung perolehan suara untuk partai,” kata Mada.

“Jadi, cara konsep ini lebih efisien dan solutif,” tegasnya.

Harus ada pemilu pendahuluan

Meski sistem ini lebih sesuai, pelaksanaan pemilu legislatif dengan sistem proporsional tertutup perlu ada pemilu pendahuluan atau proses kandidasi di internal partai politik.

Kata dia, hal ini untuk memenuhi prinsip transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi.

“Ada beberapa negara yang melakukan ini, termasuk Perancis dan AS, yang bahkan dalam pilpres juga melakukan pemilu pendahuluan,” jelasnya.

Ia juga menyarankan bahwa di setiap kepengurusan partai politik mulai dari level desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi sampai level nasional, terdapat forum musyawarah oleh anggota-anggota partai politik.

Dari forum tersebut, barulah kemudian ada penentuan siapa kandidat yang akan partai politik calonkan.

“Hanya dengan cara ini, partisipasi masyarakat bisa lebih dijamin ketika nanti sistemnya tertutup,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Daftar Tokoh NU yang Masuk Bursa Bakal Cawapres Pemilu 2024

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 10 Juni 2023 oleh

Tags: Pemilu 2024proporsional terbukaproporsional tertutupsistem pemilu
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, KKN Undip.MOJOK.CO
Kampus

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, Semua Urusan Jadi Mudah Meski Suasana Bikin Tak Betah

14 Juli 2024
Komeng: Olok-Olok Rakyat Biasa untuk Menertawakan Politik MOJOK.CO
Esai

Komeng Adalah Bentuk Olok-Olok Paling Menohok yang Mewakili Lapisan Masyarakat Biasa untuk Menertawakan Politik

19 Februari 2024
bayi prabowo gibran di sumatera selatan.MOJOK.CO
Ragam

Kisah Bidan yang Membantu Persalinan Bayi Bernama Prabowo Gibran di Sumatera Selatan

16 Februari 2024
Menyaksikan Coblosan di Wotawati, Kampung Warisan Majapahit yang Mataharinya Tenggelam Pukul 15.00 MOJOK.CO
Kabar

Menyaksikan Coblosan di Wotawati, Kampung Warisan Majapahit yang Mataharinya Tenggelam Pukul Tiga Sore

14 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif MOJOK.CO

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif

21 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Konten Kreator Perjalanan dapat pelajaran hidup di Lombok. MOJOK.CO

Konten Kreator Perjalanan Nyaris Luntang-lantung karena Tak Punya Uang, Malah Menangis Saat Meninggalkan Lombok

21 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.