Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kotak Suara

Mengenal Efek Ekor Jas, Formula Parpol Naikan Elektabilitas via Figur Capres

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
11 April 2023
A A
Mengenal Efek Ekor Jas, Formula Parpol Naikan Elektabilitas via Figur Capres. MOJOK.CO

Pemilu 2019, banyak parpol menggunakan efek ekor jas dengan mendekat ke Jokowi agar mendapatkan limpaha suara. (Ilustrasi Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Setahun menjelang Pemilu Legislatif maupun Pemilu Presiden di 2024, keriuhan mengenai bursa calon presiden dan wakil presiden semakin ramai. Parpol-parpol pun berbondong-bondong merapatkan dirinya ke capres yang mereka nilai tepat, populer, sekaligus diterima masyarakat. Partai-partai politik ini berebut efek ekor jas demi meningkatkan elektabilitas mereka. 

Namun, apa sebenarnya efek ekor jas itu? Secara bahasa, efek ekor jas (coat-tail effect) dimaknai sebagai istilah umum  yang merujuk pada hasil yang diraih oleh suatu pihak dengan cara melibatkan tokoh penting, tersohor, atau berpengaruh, baik langsung maupun tidak langsung melalui suatu perhelatan.

Iklan

Dalam dunia politik, efek ekor jas terkait dengan pengaruh figur atau tokoh dalam meningkatkan suara partai di pemilu. Figur atau tokoh tersebut bisa berasal dari calon presiden ataupun calon wakil presiden yang diusung.

Sederhananya, partai politik akan mendapatkan limpahan suara dalam pemilihan umum anggota legislatif. Ini terjadi bila mencalonkan tokoh atau figur yang populer serta memiliki elektabilitas yang tinggi.

Efek ekor jas di Amerika Serikat

Fenomena efek ekor jas biasanya terjadi di negara-negara yang menganut sistem presidensial. Di AS, misalnya, seperti dicontohkan Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan bahwa kemenangan telak Partai Demokrat, baik di DPR maupun Senat AS pada Pemilu 2008, tak terlepas akibat tingginya popularitas dan elektabilitas Barack Obama yang juga memenangi kursi kepresidenan.

“Sebaliknya, kekalahan telak Partai Republik, baik di DPR maupun Senat AS, terjadi pada pemilu 2008, juga karena efek ekor jas. Antara lain akibat rendahnya popularitas dan penerimaan masyarakat AS terhadap George W. Bush yang partai tersebut usung pada pemilu sebelumnya,” tulisnya,  di laman SMRC, Rabu (5/4/2023).

Alhasil, lanjut Djayadi, di setiap pemilu legislatif AS—yang berlangsung setiap dua tahun—pun selalu ada fenomena calon anggota DPR atau Senat yang ramai-ramai mengasosiasikan diri mereka dengan calon presiden atau presiden yang populer.

Begitu juga sebaliknya, banyak calon anggota DPR atau senat yang ramai-ramai menjauhkan dirinya dari seorang calon presiden atau presiden yang tidak populer atau yang tidak disukai masyarakat, ketika pemilu akan berlangsung.

Selain Pemilu AS 2008, fenomena efek ekor jas juga berlanjut di Pemilu 2018. Menurut Djayadi, dalam Pemilu yang akan memilih kembali semua anggota DPR dan sepertiga anggota Senat itu, para calon dari Partai Republik mencoba sedapat mungkin menjauhkan diri dari Donald Trump.

“[Karena] Trump adalah seorang presiden AS yang sangat tidak populer sepanjang sejarah Amerika. Selama tahun pertama kepresidenannya, tingkat kepuasan publik terhadapnya hampir selalu di bawah 40 persen,” jelasnya. 

Bagaimana di Indonesia?

Selain di AS, fenomena efek ekor jas juga terlihat di Indonesia sepanjang perhelatan Pemilu 2019 lalu.

Saat itu, banyak parpol yang ramai-ramai memberikan dukungan mereka kepada Jokowi karena petahana tersebut punya elektabilitas paling moncer. Parpol-parpol itu antara lain PDIP, Partai Golkar, Partai NasDem, PPP, Partai Hanura, hingga parpol baru PSI.

Menurut Direktur Riset Monitor Indonesia Ali Rif’an dalam opininya di Detik, dengan mendukung Jokowi, partai-partai politik tersebut berharap mendapat insentif elektoral. Minimal, perolehan suara mereka tidak menurun dari pemilu sebelumnya, sehingga setiap parpol berlomba-lomba mengidentikkan diri dengan figur Jokowi.

“Maka tidak heran jika di pinggir jalan tol atau perempatan jalan ibu kota sering kita jumpai baliho atau spanduk besar yang menunjukkan wajah ketua umum partai disandingkan dengan capres tertentu,” tulis Rif’an, mencontohkan bentuk fenomena tersebut.

Iklan

Lebih jauh, menjelang Pemilu 2024, survei terbaru PolMark Research Center menunjukkan bahwa efek ekor jas berdampak positif pada elektabilitas partai pengusung dan parpol koalisi lainnya.

Dalam survei tersebut, mayoritas voters, yakni 61,8 persen di antarnya, cenderung akan memilih capres terlebih dahulu ketimbang parpol. Pendeknya, mereka akan memilih parpol yang mengusung figur capres pilihan mereka.

Dampak positif berupa kenaikan elektabilitas, salah satunya dirasakan Partai NasDem. Kenaikan elektabilitas parpol yang digawangi Surya Paloh itu disebut-sebut karena efek ekor jas Anies Baswedan, capres yang mereka usung.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Alasan Artis Nggak Bisa Lagi Jadi Senjata Parpol Mendulang Suara dan tulisan menarik lainnya di Kanal Pemilu.

 

Terakhir diperbarui pada 11 April 2023 oleh

Tags: barack obamaefek ekor jasjokowiKota SuaraparpolPartai PolitikPemilu 2024
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Feri Amsari: Partai Politik Adalah Masalah Terbesar Bagi Demokrasi Kita
Video

Feri Amsari: Partai Politik Adalah Masalah Terbesar Bagi Demokrasi Kita

1 Juni 2025
Kotak Pandora Politik Terbuka: Gus Romy Ungkap Krisis di PPP
Video

Kotak Pandora Politik Terbuka: Gus Romy Ungkap Krisis di PPP

20 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jadi gini rasanya keracunan motor Yamaha Xabre bekas MOJOK.CO

Akulah yang dulu meremehkan motor Yamaha Xabre karena harganya yang nggak ngotak, tapi kini rasa ingin memilikinya semakin tinggi

23 Juli 2026
Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) 31 jadi sumber sukacita dan perkuat posisi Yogya sebagai Kota Budaya di mata dunia MOJOK.CO

Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) 31: Sumber Sukacita dan Perkuat Posisi Yogya sebagai Kota Budaya di Mata Dunia

22 Juli 2026
Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum.MOJOK.CO

Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum

20 Juli 2026
Lulus SMA nekat kerja ke Jakarta untuk jadi cleaning service. MOJOK.CO

Modal Ijazah SMA Kerja Jadi Cleaning Service di Jakarta demi Lulus Sarjana, Kini Pilih Resign untuk Keliling Indonesia

22 Juli 2026
Tawadhu Tidak Seharusnya Membuat Santri Diam saat Menjadi Korban MOJOK.CO

Tawadhu sebagai Pisau Bermata Dua: Santri Tidak Seharusnya Dibungkam saat Menjadi Korban

26 Juli 2026
Konten Kreator Perjalanan dapat pelajaran hidup di Lombok. MOJOK.CO

Konten Kreator Perjalanan Nyaris Luntang-lantung karena Tak Punya Uang, Malah Menangis Saat Meninggalkan Lombok

21 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.