Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kotak Suara

3 Faktor yang Bikin Dinasti Politik Subur di Indonesia

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
18 Oktober 2023
A A
3 Faktor yang Bikin Dinasti Politik Subur di Indonesia MOJOK.CO

Ilustrasi 3 Faktor yang Bikin Dinasti Politik Subur di Indonesia. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Isu dinasti politik makin jadi perbincangan panas di Indonesia. Putusan MK tempo hari terkait gugatan usia cawapres yang diklaim menguntungkan Putra Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, jadi bahan bakar tambahan.

Gibran, yang saat ini dikaitkan sebagai cawapres Prabowo Subianto, dikatakan bahwa jalannya makin mulus akibat putusan tersebut. Jokowi sendiri secara terang-terangan memang belum memberikan dukungan kepada salah satu pasangan calon presiden. 

Iklan

Dinasti politik langgeng di Indonesia

Namun, salah satu kelompok relawan terbesarnya, Projo, sudah mendeklarasikan untuk mendukung Prabowo.

Seandainya Gibran benar-benar berpasangan dengan Ketua Umum Gerindra itu, banyak pengamat politik melihat ini sebagai siasat Jokowi untuk melanggengkan dinasti politiknya.

Sebelum ini, Jokowi memang sudah “menaruh” keluarganya di posisi-posisi strategis pemerintahan. Antara lain Gibran yang menjadi Wali Kota Solo, Kaesang Pangarep yang baru saja menjadi Ketua Umum PSI, Bobby Nasution (menantu) yang menjadi Wali Kota Medan, hingga adik iparnya Anwar Usman yang jadi Ketua MK.

Lantas, kira-kira apa yang bikin dinasti politik ini langgeng di Indonesia? Pengamat politik Institute for Advance Research Unika Atma Jaya Jaya Jakarta, Yoes C. Kenawas, menyebutkan ada 3 faktor dari maraknya fenomena itu.

#1 Faktor institusional

Yoes menyebut, secara institusional, konstitusi di Indonesia tidak melarang kerabat politikus untuk mencalonkan diri dalam pemilu. MK, bahkan telah membatalkan klausul anti-dinasti yang sebelumnya tertuang dalam UU Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota.

Alhasil, dalam situasi seperti ini kerabat politisi cenderung diuntungkan. Karena kedekatan mereka dengan petahana, kerabat politikus ini memiliki popularitas yang lebih tinggi ketimbang non-kerabat.

Ia juga punya privilese lain, seperti kemampuan membiayai kampanye hingga bisa mengakses sumber-sumber dana kampanye. Para kerabat ini juga bakal dilirik oleh parpol karena bisa menguntungkan partai.

“Maka tak mengherankan kalau partai politik tidak malu-malu mencalonkan kerabat politikus dalam perhelatan pilkada maupun pemilu legislatif,” tulis Yoes, dalam opininya di Koran Tempo, dikutip Selasa (17/10/2023).

#2 Perilaku pemilih

Selain karena masalah yang sifatnya institusional, dinasti politik bisa marak karena perilaku pemilih. Menurut Yoes, dari sisi pemilih, mereka tidak serta-merta menolak kerabat politikus yang dicalonkan dalam Pemilu. Hal ini sesuai dengan riset yang ia lakukan jelang Pilkada serentak 2020.

Dengan demikian, Yoes menyimpulkan, pemilih tak serta merta “alergi” dengan kandidat yang merupakan kerabat dekat atau keluarga petahana.

“Mereka cenderung melihat performa si inkumben selama menjabat dan reputasi keluarga sebelum memutuskan mendukung atau menolak,” jelasnya.

#3 Ketidakpastian yang politikus hadapi

Lebih lanjut, dua faktor di awal tadi menyebabkan terjadinya faktor ketiga: ketidakpastian yang politisi hadapi. Kata Yoes, ketidakpastian itu bisa beragam bentuknya.

Iklan

Mulai dari hilangnya privilese dan pendapatan keluarga, potensi tuntutan hukum (ini yang umum terjadi), hingga “warisan” kebijakan yang terancam tak dilanjutkan penerusnya.

Alhasil, menurut Yoes, membentuk dinasti politik adalah langkah paling rasional untuk memitigasi ketidakpastian itu.

“Kerabat dianggap lebih dapat dipercaya dibanding, misalnya, kolega satu partai  karena hubungan kekerabatan dalam meminimalisir potensi ‘pengkhianatan’,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Pakar Politik UGM: Putusan MK Buka Jalan Bagi Gibran Dampingi Prabowo, Demokrasi Mundur

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 18 Oktober 2023 oleh

Tags: dinasti politikKanal PemiluPemilu 2024politik dinasti
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Warga Sleman Tolak Dinasti Politik Kustini MOJOK.CO
Kabar

Warga Sleman Tolak Dipimpin Dinasti Bupati, Terlalu Bahaya jika Kekuasaan Dipegang 1 Keluarga

7 November 2024
Demo di Jogja Momen Adili Dinasti Politik Jokowi dan Prabowo MOJOK.CO
Kabar

Mengadili Jokowi dan Prabowo di Jogja, “Kepala Mulyono” Terpenggal hingga Jatuh di Kaki Barisan Polisi

27 Agustus 2024
Demo di Jogja kawal putusan MK sekaligus lawan dinasti politik Jokowi bikin mahasiswa UNAIR Surabaya kagum MOJOK.CO
Ragam

5 Kultur Demo di Jogja yang Bikin Kaget Mahasiswa Surabaya, Jadi Pelajaran Penting dan Berharga

24 Agustus 2024
Prof. Masduki: Aksi Jogja Memanggil dan Alasan Jokowi Disebut Bapak Politik Dinasti Indonesia
Video

Prof. Masduki: Aksi Jogja Memanggil dan Alasan Jokowi Disebut Bapak Politik Dinasti Indonesia

24 Agustus 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

21 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.