Karier atau Perasaan, Mana yang Harus Diperjuangkan?

Karier atau perasaan

Tanya

Halo Mojok.co dan Pijar yang makin dekat di hati.

Bagaimana kabar kalian berdua? Masih akur kan? Jangan sampai perang saudara hanya karena beda pilihan presiden ya. Tenaga dan pikiran kalian lebih baik digunakan untuk memperhatikan para korban gempa di NTB dan sisakan sedikit untuk menerima curhatan saya (sedikit, aja).

Perkenankan saya untuk memberikan gambaran kegundahan hati dan pikiran yang sedang saya alami. Konflik yang berpadu dalam melodi … Eaa …

Sayangnya, alih-alih menghasilkan paduan melodi indah, paduan kali ini menguras perasaan dan pikiran saya. Seperti saat Mama memeras kelapa waktu masak rendang. (Duh Ma, zaman sekarang kan sudah ada santan instan merek Kara yang walaupun rasanya beda, tetapi bisa menghemat energi Mama).

Saya perempuan dan saat ini bekerja dalam sebuah situs humor ternama di Indonesia yang banyak berhubungan dengan rekanan bisnis kreatif lainnya. Dari hubungan kerja sama yang luas inilah saya berkenalan dengan si dia (tak perlu saya sebutkan namanya). Dia tidak satu kantor dengan saya, tapi kami memiliki hubungan kerja sama yang cukup intens. Inilah pokok permasalahannya, saya sendiri punya prinsip bahwa hubungan profesional sebisa mungkin jauh dari hubungan personal yang berkaitan dengan perasaan suka antarlawan jenis.

Karena perasaan dan prinsip inilah saya menjadi gundah? Menyebalkan, bukan? Saya butuh masukkan dari rekan Pijar, mana yang harus saya pilih, karier atau perasaan? Meninggalkan perkerjaan saya saat ini atau mencoba menetralkan perasaan saya? Sementara saya tidak tahu bagaimana perasaan dia ke saya. Sudah begitu saja ya, sudah hampir satu halaman A4 ini. Xixixi …

Terima kasih sebelumnya untuk sharing masukan yang diberikan.

Jawab

Dear kamu, perempuan yang telah berbagi kegundahanmu di sini.

Pijar dan Mojok rasanya tidak akan bertengkar karena masalah beda pilihan. Tapi Mojok akan marah sama Pijar kalau kami tidak membalas ceritamu, soalnya kamu begitu berharga.

Terjebak dalam perasaan personal di tengah hubungan professional itu rasanya memang menimbukan kegalauan. Akan tetapi, perasaan tersebut sebenarnya amat wajar dan sah-sah saja. Wajar karena kita jadi dipertemukan dengan orang yang sama dalam waktu yang terus-menerus dan seolah semakin didekatakan.

Melalui jalinan kerja sama tersebut, kita juga secara tidak langsung mampu menilai bagaimana sifatnya, sikapnya dalam menghadapi permasalahan kerja, menjalin komunikasi kerja sama, serta mengetahui cara berpikir dan kinerja dia. Hal-hal tersebut jika kita lihat sebagai hal yang mengagumkan memang dapat memancing timbulnya rasa tertarik dan suka terhadap rekan pasangan kita.

Namun perlu diingat kembali, tanyakan kepada diri sendiri, mana yang harus diperjuangkan? Karir impian yang saat ini sudah dalam jalurnya atau hubungan personal dengan orang yang memiliki ikatan kerja sama dengan kita? Iya, ini merupakan pilihan yang sulit, namun ia tidak akan bernama “pilihan” jika tidak menuntut untuk dipilih. Pada akhirnya, tetap harus ada satu yang menjadi keputusan untuk dijalani.

Cara yang bisa dilakukan adalah melakukan penilaian terhadap kualitas hubungan yang ada. Baik itu antara Anda dengan pekerjaan Anda, maupun antara Anda dengan orang yang memiliki hubungan personal dengan Anda. Mengevaluasi hubungan Anda dengan pekerjaan yang Anda lakukan bisa dilakukan dengan beberapa cara:

1. Tanyakan pada diri sendiri apakah pekerjaan Anda memang pekerjaan yang Anda senangi? Sehingga Anda takut kehilangan pekerjaan Anda jika terpaksa memilih cinta?

2. Apakah pekerjaan Anda membuka kesempatan bagi Anda untuk mengembangkan diri?

3. Seberapa besar kemungkinan terganggunya pekerjaan Anda bila memiliki hubungan personal dengan rekan kerja?

4. Apakah memang ada aturan secara profesional dari pekerjaan yang mengharuskan Anda untuk tidak boleh memiliki hubungan personal dengan rekan kerja, walaupun beda kantor?

5. Ketakutan apa yang ada dalam pikiran Anda sehingga membuat Anda enggan memiliki hubungan personal dengan rekan kerja?

Jawablah pertanyaan ini dengan jujur di dalam hati Anda. JIka Anda tidak bisa, cobalah ajak teman yang bisa Anda percaya untuk mengevaluasi perasaan Anda dengan pertanyaan di atas.

Selain mengevaluasi hubungan Anda dengan pekerjaan, Anda juga harus menilai seberapa berkualitas hubungan personal Anda dengan rekan kerja. Berdasarkan cerita Anda, sepertinya Anda juga masih ragu tentang status hubungan personal ini.

Karena seperti yang Anda uraikan, Anda masih tidak mengetahui bagaimana perasaan rekan kerja Anda terhadap Anda. Ditambah lagi, orang tersebut sebenarnya tidak satu kantor dengan Anda, Walaupun sangat sering melakukan kontak untuk kerja sama. Yang perlu menjadi pertimbangan adalah:

1. Jika memang statusnya masih belum jelas, bukankah sebaiknya Anda memberikan kejelasan terlebih dahulu pada status hubungan tersebut? Sebelum kemudian memikirkan dampak dari hubungan personal tersebut terhadap pekerjaan Anda?

2. Jika mengungkapkan perasaan kepada rekan kerja tersebut terasa sulit, maka Anda hanya punya kuasa menangani perasaan Anda sendiri. Tanyakan lagi pada diri sendiri, perasaan apa yang sebenarnya dirasakan terhadap rekan kerja itu? Apakah memang benar-benar perasaan tulus untuk menjalin sebuah hubungan atau mungkin hanya sekadar perasaan senang sesaat karena faktor kedekatan hubungan kerja? Karena bisa saja, rasa itu muncul karena intesitas pertemuan kalian yang meningkat dikarenakan kerja sama yang dijalankan. Dimana intensitas pertemuan tersebut membuat Anda seolah-olah semakin dekat dengan rekan kerja Anda.

3. Pertimbangkan, seberapa pantas perasaan Anda untuk diperjuangkan dibanding dengan pekerjaan yang Anda cintai? Jika memang statusnya saja masih belum jelas, apakah Anda siap melepas pekerjaan demi hal yang masih kabur tujuannya?

4. Anda mungkin telah menyadari berbagai risiko yang muncul jika memang Anda harus memilih menjalin hubungan personal dengan rekan kerja tersebut. Akan muncul gosip dari teman-teman yang lain, muncul kecanggungan dalam berinteraksi kerja, kesulitan membedakan sikap profesional dan personal. Selain itu, Anda harus siap menerima risiko kalau ternyata nantinya hubungan itu harus berkahir. Karir Anda akan terganggu, merasa tidak nyaman ketika harus kembali bekerja sama dengan dia, serta terjadi ketegangan emosional ketika kembali bertemu dengan rekan Anda tersebut. Ya setiap keputusan yang diambil tentunya selalu ada risiko menanti, entah kita ketahui terlebih dahulu atau kita abaikan begitu saja.

Pada akhirnya, semua memang akan mengundang banyak pertanyaan kepada diri sendiri. Karena semua yang terjadi tentang perasaan dan hidup kita seyogyanya berdasarkan pada keputusan kita sendiri. Diri kita sendiri adalah sosok yang sebenarnya paling mengetahui jawaban atas kebingungan kita. Diri kita sendiri yang paling memahami apa yang baik buat kita dan apa yang tidak.

Jika kegamangan kita tidak berani kita pertanyakan pada diri sendiri maka semua hanya akan berlarut-larut mengawang tanpa kejelasan. Hal ini malah berpotensi menggangu produktivitas kerja dan kelancaran kita menjalani aktivitas kehidupan sehari-hari.

Karir dan relasi interpersonal dengan orang dalam hidup kita memang dua hal yang bisa menjadi dilema. Mana yang pantas untuk lebih diperjuangkan? Tapi pada saatnya kita akan mengetahui jawabannya. Pertanyakan pada diri sendiri dan jangan ragu untuk menjawab jujur. Semua demi hati yang damai, pikiran yang tentram, dan aktivitas sehari-hari yang produktif.

*Ayunda Zikrina, Pemimpin Redaksi Pijar Psikologi

_____________________________________________________________________________

Punya masalah psikologis yang ingin dikonsultasikan? Tim Pijar Psikologi siap menjawab semua keresahan, kegelisahan, dan kebrutalan hidup kalian dengan serius (iya, seriusan).

 

Exit mobile version