Repotnya Jadi Generasi Sandwich, Nggak Ngutangi Salah, Nagih Utang Juga Salah!

generasi sandwich MOJOK.CO

MOJOK.COKita ini bukan generasi sandwich, tetapi lebih tepat disebut generasi tahu berontak atau tahu susur. Bisa keluar dari himpitan kalau sudah digigit.

Sahabat celenger yang tengah berpikir gaji besar kok tabungan kecil terus di mana pun rekeningmu berada,

Kalian hanya bakal dianggap netizen abal-abal kalau tidak meributkan semua isu yang beredar di jagat media sosial. Asal dibahas oleh para influencer, semua mendadak jadi merasa perlu untuk membahas. Mulai dari topik cari sekolah, cari kerja, cari pasangan hidup, hingga cari utangan untuk menikah, eh. Padahal, semua yang dibicarakan tersebut sebenarnya daur ulang saja.

Mau ngomongin generasi millenial atau generasi sandwich, sebenarnya sama saja! Hanya daur hidup yang berulang.

Sejak era Ronggowarsito, yang namanya cari pondokan atau sekolah favorit itu ya memang ribet dan perlu persiapan. Pinter saja nggak cukup. Demikian juga saat Gajah Mada mencari kerja, tetep harus kirim CV dan melewati management trainee. Tidak ada yang instan. Keduanya hidup berjarak ratusan tahun, tetapi saat mencari kerja tetap saja ada proses di mana keduanya menghadapi wawancara kerja.

“Pengalamanmu kok dikit amat. Trus ini mau minta gaji berapa?”

Begitu berkeluarga dan mempunyai anak, problemnya juga sama dengan kita hari ini. Selain harus memperhatikan kebutuhan untuk keluarga inti; mencukupi kebutuhan nutrisinya, mempersiapkan asuransinya, menabung, memberi uang saku, dan investasi jika masih ada sisa, masih harus memikirkan juga orang tua yang produktivitasnya sudah turun. Generasi sandwich.

Ya kalau untuk orang tua tidak perlu diperdebatkan. Tapi bagaimana dengan saudara yang terkadang atau bahkan selalu menggantungkan kepada kita? Apa kalian akrab dengan potongan dialog seperti ini?

“… tapi kalau tidak merepotkan saja, lho. Bulan depan diganti.”

Itu salah satu contoh kalimat penutup saat saudara atau kerabat meminjam sejumlah uang. Ini bukan tentang benar-salah dan pantas-tidak dalam dunia utang piutang keluarga. Ini untuk menunjukkan bahwa generasi sandwich yang kita kenal hari ini bukan fenomena yang terjadi baru-baru saja. Istilahnya saja yang seolah baru, enak, empuk, dan berkelas. Tetapi sejatinya semua generasi mendapatkan tantangan tersebut, himpitan hidup.

Generasi sandwich: generasi terjepit

Manusia, memang pada dasarnya pandai menertawakan dirinya. Saat menghadapi kesulitan, dia justru teringat makanan yang disebut sandwich. Roti dua lapis atau lebih yang di antara lapisan tersebut bercokol sekerat daging, sayur, dan keju. Tampak enak dilihat dari luar padahal posisinya terjepit atas dan bawah.

Bakti terhadap orang tua adalah keharusan. Mereka membelanjakan investasi terbaiknya untuk keberhasilan dan kemajuan anak-anaknya. Mari kita resapi apa saja yang telah dilakukan orang tua; menyuapi, menyapih, memilihan makanan bergizi, mengajari berjalan, memilihan tempat pendidikan terbaik, pemilihan guru les yang cantik, saat anak sakit pun memilih rumah sakit terbaik, menyiapkan warisan, bahkan kalau perlu memilihkan pasangan hidupnya.

Kalau dipikir-pikir, semua harta kita berikan seluruhnya pun tidak akan pernah sebanding dengan investasi orang tua. Baik yang terukur secara nominal, maupun tidak. Nilainya tidak akan pernah sanggup kita bayangkan. Apalagi sekadar penghasilan bulanan. Jenis orang tua pun sebenarnya macam-macam: ada yang mematok nilai, yang penting ada saat membutuhkan, dan ada yang menolak karena khawatir anaknya kekurangan.

Ini hanya untuk memetakan saja. Bukan maksud membedakan orang tua masing-masing individu. Prinsipnya, mereka menampakkan diri membutuhkan atau tidak kita tetap harus memberikan dukungan, baik perhatian dalam bentuk rasa maupun dana. Itu kewajiban yang sebenarnya tidak dapat ditangguhkan.

Namun, sebagai generasi sandwich tetap harus ingat, kita juga mempunyai keluarga sendiri yang harus kita perhatikan dan cukupi!

Simpul pengeluaran yang rawan bocor nan memberatkan ini yang sering terlewat dalam analisis financial planner. Seolah kehidupan setelah menikah hanya pengeluaran berupa belanja bulanan, biaya pendidikan, cicilan kendaraan, cicilan rumah, tabungan, dan investasi. Itu memang pengeluaran yang ideal. Namun, seberapa banyak keluarga yang menikmati pengeluaran seperti itu?

Tidak keliru sepenuhnya sih. Benar pengeluaran untuk belanja bulanan, cicilan rumah, dan cicilan kendaraan. Tapi untuk saudaranya. Mereka mau menabung dan investasi dengan uang kita juga sah-sah saja. Tentu selama kita menyanggupi.

Secara spiritual sih dapat dimaknai positif. Itu berarti kita dimampukan oleh Tuhan untuk mengelola uang yang bermanfaat untuk banyak keluarga. Rela bekerja keras untuk banyak dapur. Ikhlas berbagi walau harus ngerem banyak keinginan. Ya, ada kalanya manusia ingin berbahagia dengan harta yang dimilikinya. Walau menurut orang lain itu pemborosan.

Tapi masa tidak ada solusinya sih, Om?

Generasi sandwich yang solutif

Keluarga lain memang membutuhkan kita, tetapi apakah solusinya kita yang harus membesarkan lagi pendapatan kita? Bekerja lebih keras lagi agar orang lain yang membutuhkan kita dapat semakin tercukupi? Apa kita harus punya usaha sampingan dan atau investasi yang dapat menggelembungkan harta kita?

Pengeluaran dengan dalih usaha untuk memberikan sumber penghasilan tambahan ini sifatnya tidak berlaku umum. Dalam banyak kasus, pengeluaran untuk membuat usaha sampingan atau belanja investasi justru lebih pantas disebut sebagai jebakan finansial. Niatnya untung malah buntung, niatnya menambah sumber penghasilan akhirnya malah jadi memiliki banyak utang.

Kalau belajar pada kebijaksanaan orang desa di masa lalu, sedikit hal bisa dilakukan. Tetapi dari yang sedikit itu justru menyentuh jantung permasalahan. Produktivitas! Masalah utama yang dihadapi peminjam adalah turunnya atau hilangnya produktivitas. Maka bantuan yang diberikan pun sebaiknya hal yang produktif.

Klise memang kalau mengatakan berikan kail, jangan ikan. Tetapi itu justru akan meringankan kita dan banyak memberikan harapan di masa datang buat klien kita. Hahaha kok klien, maksudnya kerabat kita. Bantuan bisa berupa alat produksi atau modal usaha. Kalau yang sederhana dan masal, bisa bantu dengan membelikan motor agar jadi mitra ojek berbasis online.

“Kak, ini mau pinjam untuk beli bensin dan servis bulanan. Bisakah?”

Untuk hal-hal seperti ini berarti harus ada yang dievaluasi. Bagaimana dia mengelola keuangannya? Amburadul dalam mengatur aliran kasnya atau memang tengah ada kejutan pengeluaran? Kalau amburadul, berarti sisi itu yang perlu kita bantu mengelolanya. Ya anggap saja latihan jadi investor yang jenius, bukan malah menyuntik hal-hal yang sepertinya ringan tapi justru akan membawa akumulasi beban.

Jadi jangan heran kalau ada sahabat kuya, eh kaya, yang menampakkan diri jadi bagian dari sobat misqueen.

Terkadang, penampakan saat kita posting makanan yang dianggap mewah, liburan ke luar negeri, dan menaiki kendaraan yang dianggap mewah memang sangat mengundang. Tiba-tiba keluarga atau teman yang sudah 10 tahun tidak bertemu melakukan uji nyali dengan menyapa melalui pesan pendek. Pertama tanya kabar, kedua tanya masih ingat dengan beberapa peristiwa dahulu, dan ketiga ditutup dengan pertanyaan, “Aku sedang butuh sedikit uang, 1 juta saja kala ada…”

Penyebutan generasi sandwich sebenarnya tidak tepat-tepat amat. Selain budaya impor, kita sebenarnya hidup di dalam himpitan budaya yang salah kalau tidak meminjami, salah kalau menagih utang, dan salah kalau memberikan nasihat orang yang tengah utang untuk hidup hemat.

Serius, kita ini sebenarnya generasi tahu berontak atau tahu susur. Bisa keluar dari himpitan kalau sudah digigit…

Exit mobile version