ADVERTISEMENT

Warga Joga Tumplek Blek Nonton Wayang di Titik Nol Kilometer, Belajar Hadapi Tantangan Zaman dengan Semangat “Ora Mingkuh”

Gelaran Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) dalam perayaan HUT Kota Jogja. MOJOK.CO

Gelaran Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) kembali hadir sebagai bagian dari puncak perayaan Hari Ulang Tahun ke-270 Kota Yogyakarta tahun 2026, sekaligus menegaskan posisi kota ini sebagai destinasi wisata dan ruang ekspresi kebudayaan.

***

Penampilan karakter wayang dari 14 kemantren di Kota Yogyakarta berhasil menyatukan ribuan masyarakat di kawasan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer, pada Rabu (7/10/2026). 

Daerah yang ikut memeriahkan WJNC 2026 tersebut meliputi Kemantren Kotagede, Gedongtengen, Pakualaman, Kraton, Umbulharjo, Mantrijeron, Mergangsan, Jetis, Danurejan, Wirobrajan, Gondomanan, Tegalrejo, Gondokusuman, dan Ngampilan. 

Adapun 14 tokoh wayang yang dihadirkan dalam parade itu terdiri dari Bhatari Gagarmayang, Prabu Nilaudraka, Bhatara Guru, Bhatara Penyarikan, Bhatara Bayu, Bhatara Sambu, Bhatara Daneswara, Bhatara Uma, Sang Hyang Candra, Bhatara Indra, Bhatara Brahma, Bhatara Nurada, Bhatara Kamajaya, dan Bhatara Surya.

Melalui gelaran ini, kekayaan dan adiluhung kebudayaan Yogyakarta dikemas dalam balutan street art atraktif yang memperkaya wajah kebudayaan Yogyakarta. 

Kisah Dewa Ganesha dalam WJNC: wajah Jogja sebagai Kota Pelajar

Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X menyatakan, WJNC menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyaksikan secara langsung beragam tradisi dan kisah leluhur yang dihadirkan melalui parade budaya.

Selain itu, kehadiran tradisi pada ruang terbuka tersebut membuat nilai-nilai filosofi dapat semakin dikenal dan dihayati oleh warga dari segala usia.

HUT ke-270 Kota Jogja. MOJOK.CO
Perayaan Hari Ulang Tahun ke-270 Kota Yogyakarta tahun 2026. (sumber: Humas Pemda DIY)

“Sejalan dengan Hamemayu Hayuning Bawono, memperindah dan menjaga kehidupan bersama, di sumbu filosofi ini, tradisi hadir di jalan raya sehingga kisah leluhur dapat dikenal dan dihayati warga dari segala usia,” ujar KGPAA Paku Alam X dikutip dari keterangan resmi, Kamis (8/10/2026)

KGPAA Paku Alam X menjelaskan WJNC kali ini mengangkat tema Ganakalajaya yang mengisahkan kelahiran Dewa Ganesha. Kisah ini dipandang memiliki nilai yang selaras dengan Yogyakarta sebagai kota pelajar.

Sebagai tempat para pelajar dari berbagai penjuru negeri untuk menimba ilmu, KGPAA Paku Alam X mengingatkan, ilmu yang diperoleh tidak boleh berhenti pada pengetahuan semata, melainkan perlu dijalani dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Sebagai kota pelajar, leluhur mengajarkan ngelmu iku kelakone kanthi laku, artinya ilmu menjadi hidup ketika dijalani. Para pelajar datang dari penjuru negeri untuk menimba pengetahuan di kota ini, maka kita berharap ilmu itu tumbuh menjadi kecakapan dan kecakapan menjadi pengabdian,” ucapnya.

Warga Jogja punya mental “Ora Mingkuh”

Sementara itu, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan tema “Ganakalajaya” pada gelaran WJNC membawa pesan “Ora Mingkuh” yakni tidak menghindar dan tidak menyerah dalam menghadapi tantangan. 

“Gana dimaknai sebagai kekuatan masyarakat, Kala sebagai tantangan zaman, dan jaya sebagai kejayaan bersama,” ujar Hasto.

Nilai-nilai tersebut, kata dia, juga sejalan dengan tema dan semangat yang dibawa Kota Yogyakarta di hari ulang tahun ke-270nya, yakni “Otentik Konkret”. Sebab, Yogyakarta memiliki banyak kekayaan yang bersifat autentik, di antaranya nilai-nilai dan warisan budaya, kesenian, pendidikan, hingga ragam destinasi wisata.

Warga menonton parade budaya. MOJOK.CO
Warga memadati kawasan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer, pada Rabu (7/10/2026). (sumber: Humas Pemda DIY)

“Oleh karena itu, semangat kali ini adalah bagaimana membuat nilai-nilai yang autentik itu menjadi konkret, bisa dinikmati oleh warga masyarakat. Sehingga hari ini kita mengambil tagline dengan Otentik dan Konkret,” jelasnya.

Keistimewaan WJNC 2026 tersebut, menurut Hasto juga terletak pada momentum satu dekade penyelenggaraannya tahun ini. Jika pada tahun-tahun sebelumnya panggung utama berada di kawasan Tugu Jogja, kini panggung utama dipusatkan di Titik Nol Kilometer Yogyakarta.

Meski demikian, Hasto terbuka terhadap berbagai masukan mengenai perpindahan panggung utama tersebut, demi penyelenggaraan WJNC yang semakin baik pada tahun-tahun mendatang.

Perubahan wajah dan inovasi WJNC di usianya yang ke-10 ini juga sejalan dengan pencapaian prestasinya di tingkat nasional. Pada tahun 2024 dan 2025, WJNC berhasil masuk dalam 10 besar Kharisma Event Nusantara.

Di tahun 2026 ini, WJNC untuk pertama kalinya tergabung sebagai salah satu dari 125 program Kriteria Unggulan Nusantara Kementerian Pariwisata, bersama Keroncong Plesiran dan Geopark Night Specta.

Sumber: Humas Pemda DIY

Terakhir diperbarui pada 8 Oktober 2026 oleh .

Redaksi

Kontributor aktif media opini dan satir.