Animal Friends Jogja bersama organisasi-organisasi perlindungan hewan di seluruh dunia mencatat jutaan hewan mengalami penderitaan setiap tahun. Bukan sebagai makhluk hidup, tetapi sebagai muatan kargo. Oleh karena itu, mereka menentang adanya ekspor hewan hidup khususnya ternak.
Jutaan hewan ternak tersiksa dalam pengiriman jarak jauh
Dalam acara Ban Live Exports International Awareness Day yang bertepatan dengan proses revisi pedoman global World Organisation for Animal Health (WOAH), Compassion in World Farming mendesak penguatan standar kesejahteraan hewan dalam transportasi.
Koalisi organisasi perlindungan hewan global itu berharap upaya tersebut dapat mengakhiri praktik perjalanan jarak jauh yang menyebabkan penderitaan bagi jutaan hewan ternak, karena perdagangan lewat jalur laut dan darat.
Selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, kata mereka, hewan ternak harus menghadapi kepadatan berlebih, suhu ekstrem, kelaparan, dehidrasi, cedera, stres berat, bahkan kematian.
Bulan lalu misalnya, sekitar 4 ribu domba dan kambing mati di lepas pantai Oman, Jazirah Arab. Insiden ini juga disebut sebagai bagian dari serangkaian “bencana berulang” yang telah merenggut puluhan ribu nyawa hewan akibat kecelakaan kapal, tenggelam, atau terjebak di wilayah konflik selama perjalanan.
Oleh karena itu, sejumlah organisasi mendesak perwakilan veteriner dari 183 negara anggota WOAH untuk memperbarui standar dalam menetapkan aturan soal kesejahteraan hewan. Salah satunya dengan menghapus ekspor hewan ternak jarak jauh.
Hewan adalah makhluk hidup dan bukan barang kargo

Salah satu negara yang sudah menerapkan pelarangan ekspor hewan hidup untuk penggemukan dan pemotongan pada tahun tahun 2025 adalah Britania Raya, sekaligus menjunjung perlindungan terhadap hewan. Begitu pula Selandia Baru, Australia, dan Jerman yang telah memberlakukan berbagai bentuk larangan dan pembatasan terhadap transportasi hewan hidup.
Wakil Direktur Kampanye Global di Compassion in World Farming, Charlotte Reid mengatakan hewan adalah makhluk hidup yang memiliki kesadaran dan kemampuan merasakan, bukan sekadar muatan kargo.
“Oleh karena itu, tidak ada alasan yang dapat membenarkan penderitaan jutaan hewan yang dipaksa menjalani perjalanan panjang dan melelahkan ini setiap tahun,” kata dia.
Sebagai organisasi yang memimpin proses revisi standar transportasi hewan, Charlotte mendesak WOAH untuk melakukan pelarangan ekspor hewan hidup sepenuhnya, agar perdagangan yang memprihatinkan ini dapat ditinggalkan sebagai bagian dari sejarah.
Lalu bagaimana dengan perlindungan hewan di Indonesia?
Di Indonesia, upaya untuk memperkuat panduan global mengenai transportasi hewan dilakukan oleh Animal Friends Jogja dengan mendorong Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian.
Animal Friends Jogja menegaskan bahwa transportasi hewan hidup bukanlah suatu keharusan. Selain menimbulkan penderitaan yang luar biasa bagi hewan, transportasi hewan hidup juga membawa risiko serius bagi kesehatan masyarakat.
Dalam kasus ribuan domba dan kambing mati di lepas pantai Oman terdapat temuan jika kondisi pengangkutan terbilang padat dan tidak higienis. Selain itu, menurunnya daya tahan tubuh hewan selama perjalanan dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit zoonosis lintas negara.
Oleh karena itu, praktik ekspor jarak jauh seharusnya dapat digantikan dengan perdagangan daging dan karkas, serta material genetik untuk pembiakan yang lebih aman, efisien, dan tidak mengorbankan kesejahteraan hewan.
Dengan jutaan hewan yang terus mengalami penderitaan setiap tahun akibat transportasi jarak jauh, Animal Friends Jogja menilai bahwa perubahan tidak dapat lagi ditunda.
“Revisi standar transportasi hewan oleh WOAH merupakan momentum penting untuk memperkuat perlindungan kesejahteraan hewan secara global dan mendorong penghentian bertahap ekspor hewan hidup jarak jauh,” kata Manajer Kampanye Advokasi Kesejahteraan Hewan yang Diternakkan Animal, Dwi Octavia dikutip dari laman resmi, Senin (15/6/2026).
BACA JUGA: Babi, Anjing, dan Pink Floyd Versi Cadas yang Lahir dalam Wujud Perempuan Bernama Gabriëlle atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan