Serba-serbi Remaja Citayam di SCBD, Pembawa Rezeki hingga Dianggap Meresahkan

remaja citayam di scbd mojok.co

MOJOK.COBelakangan banyak remaja dari Citayam, Bogor yang nongkrong di kawasan Sudirman Central Bussines District (SCBD). Potret tentang para remaja ini kerap muncul di media sosial hingga mendatangkan tanggapan dari banyak orang.

Saking ramainya, bahkan ada yang memelesetkan SCBD singkatan dari Sudirman Citayam Bogor Depok. Sebab di kawasan perkantoran itu makin hari makin banyak remaja Citayam yang menghabiskan waktu untuk sekadar duduk-duduk dan berswafoto.

Sebagian kalangan menganggap hal itu wajar. Namun ada juga yang beranggapan bahwa fenomena ini meresahkan. Berikut Mojok rangkumkan sejumlah tanggapan tentang fenomena remaja Citayam di SCBD.

Pembawa rezeki bagi penjual starling

Penjual kopi keliling atau biasa disebut “Starbak Keliling” (Starling) jadi salah satu pihak yang merasa diuntungkan dengan remaja asal Citayam yang “menguasai” kawasan Sudirman, Jakarta. Keberadaan para remaja itu membuat penjualan kopi starling meningkat tajam.

“Jadi meningkat Alhamdulillah, sehari itu bisa habisin 100 gelas dan kalau hari libur itu bisa sampai 150 gelas. Itu akibat dari banyaknya anak-anak yang nongkrong ya,” ujar salah satu penjual kopi starling, Adi di Jakarta, Selasa (5/7/2022).

Penjual kopi starling yang berasal dari Sampang, Madura itu mengaku sangat bersyukur dengan adanya fenomena ini sehingga dagangannya cepat laku tidak seperti bulan sebelumnya.

Membantu pariwisata Jakarta

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) RI Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan bahwa tren remaja Citayam yang belakangan ramai di pinggiran DKI Jakarta bisa membantu pariwisata. Sandiaga mengatakan viralnya kebiasaan baru anak-anak dan remaja dari Citayam di pinggir jalan Sudirman sedang menjadi topik hangat, menurutnya ini merupakan bentuk demokratisasi gaya hidup milenial.

“Ini mereka mempopulerkan destinasi wisata dalam kota. Saya nanti akan koordinasi dengan dinas pariwisata dan ekonomi kreatif DKI Jakarta,” katanya di Buleleng Bali, Kamis (7/7/2022) malam.

Bagian dari demokratisasi Jalan

Selain Sandiaga, Gubernur DKI Anies Baswedan juga turut mengomentari fenomena ini. Baginya, ini bentuk demokratisasi Jalan Jenderal Sudirman yang menjadi milik semua, dan seluruh warga diperbolehkan menikmati fasilitas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Tidak hanya masyarakat kalangan ekonomi menengah ke atas, menurut Anies, seluruh golongan masyarakat berhak menikmati demokratisasi di ruang publik tersebut.

“Bukan saja mereka yang bekerja di kawasan ini yang bisa berjalan kaki leluasa tapi warga Jabodetabek juga menikmati pemandangan gedung-gedung tinggi satu-satunya di republik ini,” ujar Anies.

Mengganggu mobilitas pekerja

 

Meski mendapat sejumlah apresiasi, nyatanya tetap ada kalangan yang merasa terganggu dengan kehadiran para remaja ini. Ada pejalan kaki mengeluhkan keberadaan kumpulan remaja dari di kawasan Sudirman, karena warga ingin tetap nyaman saat melintasi kawasan Stasiun Dukuh Atas atau menuju ke fasilitas umum Moda Raya Terpadu (MRT).

“Ganggunya pada ngumpul dan ramai banget, jadi orang pada ke hambat jalannya,” kata Elsa, salah satu perusahaan swasta di Jakarta.

Selain itu, petugas keamanan dari MRT, yang sedang berjaga juga membenarkan keluhan yang banyak dilontarkan oleh para pengguna MRT yang hendak menuju stasiun Dukuh Atas, baik masyarakat bisa hingga para pegawai yang bekerja di kawasan Dukuh Atas.

“Pernah ada aduan juga memang dari pengguna MRT, karena mereka merasa terganggu jalannya,” ujar petugas keamanan MRT, Riki Simatupang.

Penulis: Hammam Izzudin
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Pilih SCBD atau Pindah Cikarang demi Karier? Cikarang Aja, SCBD Nggak Semenarik Itu

Exit mobile version