Sastra Koding, Ketika Penulis Tak Lagi Berkuasa Penuh atas Cerita

Sastra Koding, Ketika Penulis Tak Lagi Berkuasa Penuh atas Cerita MOJOK.CO

MOJOK.CO Selama ini, penulis dianggap sebagai sosok yang menentukan tokoh, latar, konflik, hingga akhir sebuah cerita. Namun, anggapan itu mulai goyah ketika sastra diciptakan dengan bantuan coding dan kecerdasan buatan (AI). Cerita yang muncul tidak lagi sepenuhnya berada dalam kendali penulis, tetapi juga dipengaruhi kode, model AI, serta intervensi pembaca. Muncullah yang kemudian dikenal dengan sebutan s

Persoalan tersebut mengemuka dalam Diskusi Publik dan Uji Publik Sastra Inovatif “Sastra Koding” di Panggung Teras Embung Giwangan, Yogyakarta, Sabtu (29/8/2026). Diskusi menghadirkan An. Ismanto dan Agus Agung Pribadi sebagai narasumber, dengan Marisa Santi Dewi sebagai moderator.

Sastra Koding mencoba mempertemukan dua dunia yang selama ini jarang dibicarakan dalam satu tarikan napas: sastra dan pemrograman. Melalui kode dan bantuan AI, sebuah cerita dapat berubah ketika parameter, tokoh, latar, atau peristiwanya diutak-atik.

Dengan demikian, pembaca tidak sekadar menerima cerita yang sudah selesai. Mereka dapat ikut memengaruhi cerita yang muncul di hadapan mereka. Di titik inilah Sastra Koding memunculkan pertanyaan yang tidak sederhana: jika sebuah cerita dihasilkan melalui kerja penulis, kode, AI, dan intervensi pengguna, siapa yang paling berhak disebut sebagai pengarang?

Sastra Koding dilihat sebagai karya sekaligus eksperimen teknologi

An. Ismanto mengakui bahwa latar belakang seseorang akan memengaruhi cara memandang Sastra Koding. Sebagai orang yang berkecimpung di bidang sastra dan memiliki sedikit pengalaman dalam coding, ia melihat karya tersebut dari dua sisi sekaligus.

“Karena latar belakang saya sastra, otomatis saya akan cenderung memandang karya ini sebagai sastra. Tapi karena saya juga punya sedikit latar belakang coding, saya bisa melihatnya dari sudut pandang bahwa ini merupakan karya inovatif coding,” ujar Ismanto.

Pertemuan antara sastra dan coding, menurut Ismanto, menjadi sesuatu yang menarik untuk dikembangkan lebih jauh. Namun, membuat keduanya berjalan beriringan tidak cukup hanya dengan menguasai salah satunya. Pencipta karya perlu memahami aspek teknis pemrograman sekaligus memiliki kepekaan sastra.

An. Ismanto dan Agus Agung Pribadi membicarakan bagaimana bahasa pemrogaman dan AI masuk ke karya sastra. (Dok. Festival Sastra Yogyakarta)
An. Ismanto dan Agus Agung Pribadi membicarakan bagaimana bahasa pemrogaman dan AI masuk ke karya sastra. (Dok. Festival Sastra Yogyakarta)

Tanpa kemampuan sastra, teknologi berisiko hanya menghasilkan pertunjukan teknis. Sebaliknya, tanpa pengetahuan mengenai coding, kemungkinan-kemungkinan baru yang ditawarkan teknologi tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Agus Agung Pribadi memilih untuk tidak tergesa-gesa memisahkan mana yang termasuk sastra dan mana yang merupakan produk teknologi. Sebab, Sastra Koding masih berada dalam tahap eksperimen dan membutuhkan pengujian lebih lanjut.

“Kalau saya tidak berusaha memisahkannya antara sastra dan coding, tapi lebih bagaimana sastra dan coding ini menjadi sebuah gerakan kolaborasi,” kata Agus.

Pandangan tersebut menempatkan Sastra Koding bukan sebagai arena untuk mempertandingkan manusia dan mesin. Karya ini justru menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan gagasan manusia, bahasa pemrograman, dan kemampuan AI dalam mengolah data menjadi narasi.

Satu kode bisa menghasilkan cerita yang berbeda

Salah satu hal yang dibahas dalam diskusi adalah perbedaan cerita yang muncul ketika kode serupa dijalankan menggunakan model AI yang berbeda. Setiap model memiliki basis data dan cara kerja masing-masing. Akibatnya, perintah yang sama dapat menghasilkan cerita dengan konteks serupa, tetapi susunan narasi yang berlainan.

Hasil cerita juga dapat berubah ketika pengguna mengganti parameter, tokoh, latar, atau peristiwa. Kemungkinan variasinya menjadi sangat luas, sementara hasil akhirnya tidak selalu dapat diperkirakan sejak awal.

Kondisi tersebut membuat proses penciptaan sastra menjadi lebih terbuka. Penulis masih merancang gagasan dan kemungkinan cerita, tetapi tidak sepenuhnya menguasai bentuk akhir narasi. AI ikut menentukan keluaran, sedangkan pengguna dapat mengarahkan cerita melalui pilihan-pilihan yang tersedia.

Perubahan itu bukan hanya menyangkut cara karya sastra diproduksi, melainkan juga pengalaman pembacanya. Dalam karya sastra konvensional, pembaca mengikuti jalan cerita yang telah ditentukan pengarang. Dalam Sastra Koding, pembaca berpeluang menjadi peserta yang turut menggerakkan cerita.

Pamong Budaya Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Dwi Lestari, menilai eksperimen semacam itu memerlukan ruang untuk dicoba sekaligus diperdebatkan.

“Perkembangan teknologi membawa cara baru dalam menciptakan dan menikmati karya sastra. Karena itu, ruang untuk mencoba, berdiskusi, dan menguji gagasan seperti ini penting agar sastra tetap berkembang mengikuti zaman,” kata Dwi.

Menurutnya, pertemuan sastra dan teknologi juga dapat membuka dialog antara pelaku sastra, orang-orang yang berkecimpung di bidang teknologi, dan pembaca. Inovasi akhirnya tidak berhenti pada kecanggihan perangkat, tetapi juga menyentuh gagasan serta pengalaman baru yang dihasilkan.

Diskusi Sastra Koding belum memberikan jawaban final mengenai batas antara karya manusia dan keluaran mesin. Namun, barangkali justru di situlah letak penting eksperimen tersebut. Ia tidak hanya menawarkan cara baru untuk membuat dan membaca cerita, tetapi juga memaksa kita meninjau kembali pengertian penulis, pembaca, dan karya sastra.

Ketika cerita dapat berubah setiap kali kode dijalankan, sastra tidak lagi selalu hadir sebagai teks yang selesai. Ia menjadi kemungkinan yang terus bergerak—dan pengarangnya mungkin tidak lagi hanya satu orang.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Sejarah Sastra Indonesia Tak Cuma Milik Buku-buku yang Dianggap Penting

Terakhir diperbarui pada 30 Agustus 2026 oleh

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.