ADVERTISEMENT

JILF 2026: Relevansi Sastra di Tengah Kerusakan Lingkungan dan Udara Bersih yang Jadi Kemewahan

JILF 2026: Buat Apa Festival Sastra jika Ruang Hidup Dirampas? MOJOK.CO

Alih-alih sekadar menjadi perayaan buku dan penulis, Jakarta International Literary Festival 2026 membawa pertanyaan yang lebih mengusik: ketika ruang hidup manusia terus menyempit, apa yang bisa dilakukan sastra selain bercerita?

***

ADVERTISEMENT

Kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial, dan persoalan demokrasi membuat pertanyaan tersebut relevan. Di tengah keadaan seperti itu, sastra dituntut untuk tidak sekadar menjadi hiburan bagi mereka yang punya cukup waktu untuk membaca.

Itulah semangat yang diusung Jakarta International Literary Festival (JILF) 2026 melalui tema Living Space | Ruang Hidup, sebagai respons atas maraknya krisis kemanusiaan dan lingkungan. Berlangsung pada 22–25 Oktober di Taman Ismail Marzuki, festival ini menghadirkan diskusi penulis, pembacaan karya, pertunjukan, bazar buku, dan program kolaborasi.

JILF 2026: relevansi sastra di tengah ruang hidup yang dihilangkan

Tema Living Space bukan sekadar istilah puitis untuk membungkus acara kebudayaan. Usman Hamid, salah satu kurator JILF 2026 bersama Ibe S. Palogai dan Ratih Kumala, menyebut tema tersebut sebagai pernyataan politis.

“JILF hadir dengan menyuarakan dan menjadi medium untuk mengingat pelbagai hal yang telah hilang atau dihilangkan: tanah air, tempat tinggal, ekosistem, dan juga hak untuk bersuara, untuk mengingat, menjadi berbeda, dan tetap tinggal,” tulis Usman dalam catatan kuratorialnya.

Kehilangan ruang hidup tidak selalu berarti kehilangan rumah atau tanah. Seseorang juga bisa kehilangan lingkungan yang menopang kehidupannya, kebudayaan yang diwariskan lintas generasi, hingga kesempatan menyampaikan pengalaman tanpa dibungkam.

Dalam rilis penyelenggara, kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan serta Sumatera disebut mengancam bukan hanya ekosistem, tetapi juga sejarah dan kebudayaan masyarakat. Keputusan politik yang mengabaikan empati turut mempersempit ruang gerak kemanusiaan.

Di sinilah sastra menemukan relevansinya. Cerita dapat menyimpan pengalaman yang luput dari laporan resmi, sementara puisi memberikan bahasa bagi kegelisahan yang sulit diucapkan. Namun, kemampuan tersebut tidak otomatis menjadikan sastra penyelamat. Karya yang mengangkat penderitaan tetap perlu dipertanyakan: apakah benar memberi ruang bagi mereka yang mengalaminya, atau justru menjadikan penderitaan sebagai bahan cerita semata?

Sastra bukan sekadar estetika

Ada kecenderungan menempatkan sastra di posisi yang terlalu mulia. Penulis dianggap penjaga nurani, buku diperlakukan sebagai sumber kebijaksanaan, dan festival sastra dibayangkan sebagai ruang yang otomatis melahirkan pemikiran kritis.

ADVERTISEMENT

Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Ibe S. Palogai mengingatkan bahwa sastra dapat membuka pengalaman yang disingkirkan dari narasi dominan dan mempertemukan sejarah yang selama ini dipisahkan. Namun, ia juga memberikan catatan penting.

“Namun, kemungkinan itu tidak menjadikan sastra dengan sendirinya emansipatoris,” ungkap Ibe.

Sebuah karya bisa berbicara tentang ketidakadilan, tetapi belum tentu memberi ruang kepada orang-orang yang mengalaminya. Begitu pula festival yang mengangkat kelompok marginal: siapa yang memperoleh kesempatan berbicara dan siapa yang hanya dijadikan objek cerita?

Karena itu, Jakarta International Literary Festival 2026 juga mengajak publik memikirkan batas representasi dan tanggung jawab dalam bercerita. Sastra bukan semata urusan estetika, melainkan ruang untuk menguji etika, kekuasaan, dan cara manusia memahami kehidupan orang lain.

Ketika udara bersih menjadi kemewahan, apakah festival sastra masih diperlukan?

Penyelenggara JILF 2026 mengajukan pertanyaan yang cukup telak: “Ketika menghirup udara bersih menjadi kemewahan, apakah festival sastra masih diperlukan?”

Pertanyaan itu mengajak kita memeriksa posisi festival sastra di tengah persoalan yang lebih mendesak. Ketika masyarakat menghadapi kerusakan lingkungan dan ketimpangan, apa artinya berkumpul untuk membicarakan kata-kata?

Namun, mempertentangkan sastra dengan kebutuhan dasar manusia juga bukan jalan keluar. Puisi tidak otomatis menghentikan pembakaran hutan, novel pun tidak bisa sendirian memperbaiki ketimpangan. Meski demikian, sastra dapat membantu manusia memahami pengalaman yang selama ini terasa jauh, membuka kembali ingatan yang diabaikan, dan mempertemukan orang-orang dengan latar belakang berbeda.

Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Endah T. D. Retnoastuti, menyebut sastra sebagai bagian penting dari kekayaan ekspresi dan identitas bangsa.

“Penguatan sastra membutuhkan ekosistem yang saling mendukung, mulai dari penulis, penerbit, komunitas, festival, hingga lembaga kebudayaan nasional dan internasional,” katanya.

Artinya, keberlangsungan sastra tidak cukup bergantung pada penulis dan pembaca. Ekosistemnya perlu dirawat agar karya dapat diproduksi, diterbitkan, dan dipertemukan dengan publik. Namun, keberhasilan ekosistem tersebut juga perlu diukur dari kemampuannya membuka akses bagi beragam pengalaman dan percakapan kritis.

Dari forum penulis hingga malam pembacaan

Jakarta International Literary Festival (JILF) 2026 menghadirkan 19 penulis Indonesia dan empat penulis mancanegara melalui Bincang Penulis (Authors’ Forum). Program lainnya meliputi Pasar Kata, Baca Kata, Pentas Kata, Pasar Buku, dan Program Kolaborasi.

Malam pembukaan pada 22 Oktober di Graha Bhakti Budaya menghadirkan Dialog Duo Maestro bersama Ahmad Tohari dan Martin Aleida, serta penampilan Banda Neira. Sementara itu, malam penutupan pada 25 Oktober dimeriahkan The Brandals serta Yacko & Down for Life.

Ratih Kumala, salah satu kurator, menjelaskan bahwa festival menjadi kesempatan untuk mempertemukan pengalaman dan sejarah yang berbeda.

“Festival ini menjadi kesempatan untuk mempertemukan beragam pengalaman dan sejarah, sekaligus menguji batas representasi, kemungkinan keterhubungan, serta tanggung jawab yang menyertai praktik bercerita,” ujarnya.

Perjumpaan semacam itu lebih rumit daripada sekadar mengumpulkan orang di satu tempat. Mendengarkan pengalaman orang lain menuntut kesediaan untuk tidak buru-buru menghakimi dan mengakui bahwa satu suara tidak selalu cukup untuk mewakili pengalaman banyak orang.

Solidaritas tidak selesai setelah festival sastra usai

Ukuran keberhasilan festival sastra tidak semata-mata terletak pada jumlah penulis, buku yang terjual, atau ramainya pengunjung. Tema ruang hidup dan solidaritas mengajukan pertanyaan lain: apakah perjumpaan itu membuat orang lebih bersedia memahami pengalaman di luar dirinya?

Direktur Eksekutif JILF 2026, Avianti Armand, menegaskan bahwa festival tidak seharusnya berhenti sebagai perayaan beberapa hari saja.

“JILF tidak boleh berhenti sebagai perayaan sastra selama beberapa hari saja, ia harus terus merawat ruang bagi cerita, ingatan, dan masa depan yang lebih adil,” ujarnya.

Empat hari festival tentu tidak akan menyelesaikan persoalan ruang hidup yang berlangsung bertahun-tahun. Perbincangan sastra juga tidak otomatis mengubah keputusan politik atau memulihkan lingkungan yang rusak.

Namun, barangkali yang perlu dituntut dari sastra bukanlah kemampuan menyelesaikan semua masalah, tetapi kesediaannya untuk tidak berpura-pura bahwa masalah tersebut tidak ada.

Melalui tema Living Space, Jakarta International Literary Festival 2026 mengingatkan bahwa bahasa, ingatan, dan imajinasi dapat menjadi bagian dari upaya merawat kehidupan bersama. Sebab, ketika ruang hidup seseorang dirampas, ada kehidupan dan pengalaman yang perlu didengarkan.

Sastra, pada akhirnya, tidak cukup hanya membuat manusia terpesona oleh kata-kata. Ia juga perlu mengingatkan bahwa di luar halaman buku, ada orang-orang yang sedang berjuang mempertahankan hak untuk hidup, bersuara, dan tetap menjadi dirinya sendiri.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Festival Sastra Yogyakarta 2025 Tak Sekadar Pertunjukan, Pikirkan Nasib Sastrawan hingga Melahirkan Penulis Baru atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 23 Oktober 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.