KAFEIN Gelar Workshop Kritik Film di DIY, Sasar Pelajar hingga Komunitas

KAFEIN Gelar Workshop Kritik Film di DIY, Sasar Pelajar hingga Komunitas MOJOK.CO

Peserta workshop yang digelar KAFEIN. (Istimewa)

MOJOK.CO – Asosiasi Pengkaji Film Indonesia (KAFEIN) menggelar Workshop Sinema Digital: Estetika, Hukum, dan Industri di sejumlah wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta pada Agustus hingga November 2026.

Program tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menonton film secara kritis sekaligus menyusun kritik film yang argumentatif, konstruktif, dan beretika.

Ketua KAFEIN, Dyna Herlina Suwarto, mengatakan masyarakat perlu didorong agar tidak hanya menempatkan film sebagai hiburan. Penonton juga perlu memahami nilai estetika, persoalan hukum, serta dinamika industri yang berada di balik sebuah karya.

“Dengan meningkatnya literasi film, masyarakat diharapkan mampu memberikan apresiasi sekaligus kritik yang argumentatif, beretika, dan membangun bagi perkembangan perfilman Indonesia,” ujar Dyna dalam keterangan tertulis yang diterima Mojok, Senin (3/8/2026).

Workshop ini didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dan Dana Indonesiana 2026. Dalam pelaksanaannya, KAFEIN bekerja sama dengan komunitas, sekolah, dan perguruan tinggi di DIY.

Di Kabupaten Gunungkidul, kegiatan melibatkan Komunitas Gunungkidul Menginspirasi dan Universitas Gunungkidul. Sementara itu, pelaksanaan di Kota Yogyakarta menggandeng SMK Negeri 7 Yogyakarta.

Rangkaian kegiatan tentang film

KAFEIN juga bekerja sama dengan Cine Club Kulon Progo di Kabupaten Kulon Progo, MM Kine Klub Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Kabupaten Bantul, serta KOMPOR Universitas Islam Indonesia di Kabupaten Sleman.

Peserta yang disasar berasal dari beragam latar belakang, mulai dari pelajar, mahasiswa, akademisi, pegiat komunitas, hingga masyarakat umum yang memiliki ketertarikan terhadap perfilman.

Rangkaian kegiatan meliputi pemutaran film pendek, forum diskusi, dan pelatihan membuat kritik film. Peserta memperoleh materi mengenai estetika film, aspek hukum dalam produksi dan distribusi , serta perkembangan industri perfilman Indonesia.

Tidak berhenti pada pemaparan teori, peserta juga akan dilatih membaca bahasa visual, memahami konteks produksi, serta menuangkan analisis melalui tulisan maupun video. KAFEIN turut menyiapkan modul sinema digital yang akan menjadi acuan selama pelaksanaan workshop.

Project Manager Workshop Sinema Digital, Citra Dewi Utami, berharap program tersebut dapat mendorong generasi muda untuk terlibat aktif dalam diskusi mengenai film Indonesia.

Menurutnya, kritik film yang berkualitas tidak sekadar menjadi saluran penilaian penonton terhadap sebuah karya. Kritik juga dapat membuka ruang dialog antara penonton dan pembuat sinema, meningkatkan kualitas karya, serta memperkuat ekosistem perfilman nasional.

Melalui program tersebut, KAFEIN ingin memperluas literasi visual sekaligus menumbuhkan budaya kritik yang sehat dan berbasis pengetahuan. Film dengan demikian tidak hanya dipahami sebagai tontonan, tetapi juga sebagai karya budaya, media komunikasi, dan bagian dari industri kreatif. (*)

BACA JUGA Saya Muak dengan Industri Film Horor yang Hanya (Bisa) Mengeksploitasi Budaya Jawa Seolah-olah Seram dan Mistis

Exit mobile version