Kota Semarang Coba Tak Sekadar Melawan Air untuk Atasi Banjir, Tapi Pakai Cara Fisika dan Wanti-wanti Kelalaian Sosial

Kota Semarang coba tak sekadar melawan air untuk atasi banjir MOJOK.CO

Ilustrasi - Kota Semarang coba tak sekadar melawan air untuk atasi banjir. (Wes Warren/Unsplash)

Musim hujan dan banjir sudah lama menjadi momok bagi Kota Semarang. Maka, belajar dari banjir besar 2024-2025, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mencoba mencari solusi sefektif mungkin.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menyebut, strateginya saat ini bukan lagi sekadar melawan air dengan menambah ratusan pompa. Akan tetapi mulai mengelola perilaku air itu sendiri berdasarkan prinsip-prinsip fisika.

Memperlancar saluran air

Jika diilustrasikan, kondisi saluran air di Kota Semarang selama ini kira-kira seperti ini: Selang air kecil yang sedianya untuk menyiram taman dipaksa mengalirkan air dengan volume besar melalui. Alhasil, air akan menyembur kencang, tetapi tekanan di dalam selang sangat tinggi dan mudah tersumbat.

Saluran sempit memaksa air mengalir dengan kecepatan tinggi dan tekanan besar. Sedikit hambatan—sampah, sedimentasi—langsung membuatnya mampet. Konsekuensinya, air meluap.

Oleh karena itu, saat ini Pemkot Semarang menyediakan saluran yang empat kali lebih lebar. Dengan begitu, untuk volume air hujan yang sama, air tidak perlu “terburu-buru”. Ia bisa mengalir lebih lancar dan tenang.

Pelebaran ini, kata Agustina, seperti memberi “ruang bernapas” bagi aliran air. Risiko penyumbatan berkurang drastis karena air tidak lagi “berebutan tempat”.

“Ini adalah rekayasa ulang batas kemampuan infrastruktur untuk menerima beban yang lebih besar,” ucap Agustina.

Adapun intervensi paling simbolis dari “rekayasa ulang” itu adalah pelebaran saluran pembuangan air di Kaligawe dari 10 meter menjadi 40 meter.

Polder dan pompa jadi duet penjinak air di Kota Semarang

Strategi kedua adalah sinergi antara menampung dan memompa.

  1. Polder: Melalui penampung ini, pengerukan puluhan “umpung-umpung” (waduk mini) menjadi upaya meningkatkan daya tampung kota. Ini ibarat menyediakan lebih banyak “ember” raksasa di titik-titik rendah. Fungsi fisikanya sederhana namun krusial: Menahan air sementara, mengurangi beban yang langsung menuju saluran utama. Dalam bahasa energi, air yang ditampung ini menyimpan “energi diam”. Dengan menahannya, kita mencegah “energi gerak” yang bisa menyebabkan banjir bandang di hilir.
  2. Pompa: Ada 220 unit pompa yang berperan. Jika polder adalah penampung pasif, pompa adalah aksi aktif. Tugasnya jelas: Memindahkan air dari daerah rendah (yang sudah ditampung polder) ke saluran besar atau langsung ke laut.

Penambahan dan penempatan pompa di titik rawan seperti Tawang Mas dan Peterongan memastikan proses pemindahan ini lebih cepat dan efisien, mengurangi waktu genangan.

“Polder menahan ‘beban dasar’ air, sementara pompa yang responsif berfungsi sebagai ‘pembangkit cadangan’,” begitu analogi dari Agustina.

Dalam duet ini (antara polder dan pompa), Wali Kota berkolaborasi dengan BWS, BPJN, dan TNI agar penampungan dan pemompaan berjalan optimal.

Dampak: Semoga tidak sebatas genangan kering

Perubahan pendekatan fisik ini diharapkan bisa berdampak luas, melampaui sekadar basah dan kering. Di antara dampak yang diharapkan adalah:

  1. Risiko yang Menyusut. Dengan saluran yang lebih besar dan tampungan yang lebih banyak, sistem ini kini dirancang untuk bertahan menghadapi hujan yang lebih ekstrem. Artinya, kemungkinan banjir besar terulang menjadi lebih kecil. Kota menjadi lebih tahan banting.
  2. Ekonomi yang Lebih Stabil. Banjir adalah musuh utama aktivitas ekonomi. Dengan berkurangnya ketidakpastian akibat ancaman banjir, dunia usaha bisa berinvestasi dan beroperasi dengan lebih tenang. Masyarakat juga tak perlu lagi hidup dalam kecemasan tiap kali langit mendung.
  3. Efisiensi Energi. Mengandalkan saluran lebar dan polder yang baik adalah solusi “pasif” yang hemat energi, dibandingkan hanya mengandalkan pemompaan “aktif” yang rakus listrik. Ini adalah investasi keberlanjutan.

Bisa buyar karena kelalaian sosial

Namun, Agustina mengingatkan, semua rekayasa teknik ini bisa buyar oleh satu kelalaian sosial: Membuang sampah sembarangan. Satu plastik bisa menyumbat, merusak semua perhitungan fisika yang cermat.

Oleh karena itu, transformasi Kota Semarang adalah proyek bersama. Pemerintah membangun infrastruktur berdasarkan hukum alam, sementara kewajiban masyarakat adalah menjaga infrastruktur itu dengan hukum kesadaran.***(Adv)

BACA JUGA: Bola GPS Jadi Teknologi Mitigasi Sumbatan Air Penyebab Banjir di Simpang Lima Semarang atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version