ADVERTISEMENT

Jogja Book Fair 2026 x Pameran Arsip Keistimewaan Bukan Sekadar Ajang Jual-Beli, Tapi Akses Masyarakat ke Sumber Pengetahuan

Jogja Book Fair 2026 x Pameran Arsip Keistimewaan Bukan Sekadar Ajang Jual-Beli, Tapi Akses Masyarakat ke Sumber Pengetahuan MOJOK.CO

 MOJOK.CO, YOGYAKARTAJogja Book Fair (JBF) edisi 2026 menghadirkan konsep yang lebih semarak. Berkolaborasi dengan Pameran Arsip Keistimewaan, event ini mengusung misi memperluas keterjangkauan akses masyarakat terhadap dua sumber pengetahuan mereka: buku dan arsip. dengan berpayung satu tema besar “Membumikan Literasi, Merawat Memori”.

Jogja Book Fair 2026 mengangkat tema “Jangkah”, sebagai simbol langkah bersama menuju masa depan yang lebih berpengetahuan, kreatif, dan berbudaya. Sementara itu, Pameran Arsip Keistimewaan mengusung tema “Jelajah Memori Keistimewaan Budaya DIY”, yang menghadirkan berbagai potret budaya dan perjalanan keistimewaan yang hidup serta berkembang di tengah masyarakat.

Pameran buku dan arsip ini berlangsung selama 11 hari dalam rentang 29 Agustus–8 September 2026, mulai pukul 08.00 hingga 22.00 WIB, bertempat di Grhatama Pustaka, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY.

Jogja Book Fair merupakan agenda tahunan yang menjadi ruang pertemuan bagi penerbit, penulis, pembaca, komunitas, dan berbagai pegiat literasi. Kegiatan ini diselenggarakan melalui kerja sama Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DIY dan DPAD DIY.

Pada penyelenggaraan tahun ini, sebanyak 119 penerbit nasional dari Yogyakarta dan berbagai daerah di Indonesia turut ambil bagian. Pengunjung dapat menemukan beragam kategori buku, mulai dari buku anak, pendidikan, sastra, sosial, budaya, agama, hingga berbagai tema lainnya.

Seluruh buku yang ditawarkan merupakan buku original. Kehadiran pameran ini diharapkan tidak hanya memberikan akses terhadap bacaan berkualitas, tetapi juga mendorong masyarakat untuk turut mendukung keberlangsungan ekosistem penerbitan dan perbukuan nasional.

Jogja Book Fair 2026 bukan sekadar ajang jual-beli tapi merawat ingatan kolektif masyarakat

Ketua IKAPI DIY, Wawan Arif, mengatakan bahwa penyelenggaraan JBF tahun ini memiliki dimensi yang lebih luas karena tidak hanya mempertemukan masyarakat dengan buku, tetapi juga menghadirkan arsip sebagai bagian dari upaya merawat memori kolektif.

“Jogja Book Fair tahun ini tidak hanya menjadi ajang jual-beli buku, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat ingatan kolektif masyarakat melalui buku, arsip, dan literasi. Kolaborasi dengan Pameran Arsip Keistimewaan menjadi langkah penting agar generasi muda dapat mengenal lebih dekat jejak sejarah dan perjalanan masyarakat yang terekam dalam arsip,” ujar Wawan Arif.

Hal senada disampaikan Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Syam Arjayanti. Menurutnya, kolaborasi antara Jogja Book Fair dan Pameran Arsip Keistimewaan menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem literasi di Yogyakarta.

“Kolaborasi Jogja Book Fair dengan Pameran Arsip Keistimewaan merupakan sinergi yang sangat penting dalam membangun ekosistem literasi di Yogyakarta. Buku dan arsip sama-sama menjadi sumber pengetahuan sekaligus rekaman perjalanan masyarakat. Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan ruang yang tidak hanya mengajak masyarakat membaca, tetapi juga mengenal, memahami, dan merawat memori kolektif yang tersimpan dalam arsip,” ujar Syam Arjayanti. 

Ruang belajar menyenangkan

Syam menambahkan, penyelenggaraan Jogja Book Fair x Pameran Arsip Keistimewaan diharapkan mampu menjadi ruang belajar yang terbuka, edukatif, sekaligus menyenangkan bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda.

“Kami berharap Jogja Book Fair x Pameran Arsip Keistimewaan dapat menjadi ruang belajar yang menyenangkan dan terbuka bagi seluruh masyarakat. Generasi muda perlu mendapatkan ruang untuk berinteraksi dengan buku, arsip, sejarah, dan berbagai sumber pengetahuan lainnya,” ujar Syam. 

“Dengan demikian, literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi juga menjadi bagian dari proses memahami perjalanan masa lalu sekaligus membangun masa depan,” lanjutnya. 

Tidak hanya menghadirkan pameran buku dan arsip, rangkaian Jogja Book Fair 2026 x Pameran Arsip Keistimewaan juga diisi dengan berbagai kegiatan literasi, seni, budaya, dan aktivitas publik. Sebanyak 85 program acara telah disiapkan selama penyelenggaraan kegiatan.

Berbagai program tersebut antara lain bedah buku, talkshow literasi, workshop, aneka kompetisi, pentas musik, pasar kuliner, donor darah, pameran arsip, serta sejumlah kegiatan lainnya.

Seluruh rangkaian kegiatan dirancang untuk dapat dinikmati berbagai kelompok masyarakat, mulai dari anak-anak, pelajar, mahasiswa, komunitas, hingga keluarga. Konsep tersebut sejalan dengan semangat “Membumikan Literasi, Merawat Memori”, yang menempatkan literasi sebagai bagian dekat dari kehidupan sehari-hari sekaligus sarana untuk menjaga ingatan kolektif antargenerasi.

Melalui Jogja Book Fair 2026 x Pameran Arsip Keistimewaan, IKAPI DIY dan DPAD DIY mengajak masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya untuk hadir bukan sekadar mencari dan membeli buku. Pengunjung juga dapat mengikuti berbagai program, bertemu komunitas, menemukan pengetahuan baru, menikmati kegiatan budaya, serta menelusuri kembali berbagai jejak perjalanan sejarah dan keistimewaan DIY yang tersimpan dalam arsip.

BACA JUGA: Jakal Bookshop Fest Usul 30 Agustus Jadi Hari Toko Buku, Karena Toko Pertemukan Buku dan Pembacanya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

Terakhir diperbarui pada 7 September 2026 oleh .

Artikel Advertorial

Redaksi

Kontributor aktif media opini dan satir.

Exit mobile version