Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Hampir 4 Kali Luas Jakarta! Total Lahan dan Hutan Terbakar di Sumatra-Kalimantan Saat Ini

Redaksi oleh Redaksi
16 September 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead menyatakan bahwa Indonesia terbilang masih “beruntung” meski diserang kabut asap. Kok bisa?

Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) di Sumatra dan Kalimantan telah memasuki babak yang kian mencekam. Seperti dilaporkan sebelumnya, jarak pandang yang semula ada di radius 1 km, sempat berkurang menjadi 300 meter saja. Belum lagi, respons pemerintah yang terkesan lambat dan jauh berbeda dengan “kehebohan” kala menanggapi laporan kualitas udara buruk di Jakarta.

Iklan

Dari seluruh peristiwa karhutla yang memunculkan derita berupa kabut asap bagi para penduduk, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo menyebutkan bahwa Riau menjadi wilayah terdampak paling luas, yaitu mencapai lebih dari 40 ribu hektare. Secara total, karhutla kali ini membuat Indonesia kehilangan lahan dan hutan seluas 238 ribu hektare atau hampir setara dengan 4 kali luas DKI Jakarta.

Dilansir dari CNN Indonesia, Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead menyatakan bahwa Indonesia terbilang masih “beruntung” karena karhutla yang terjadi tidak lebih besar daripada di Amerika Serikat, yaitu sebanyak 3,5 juta hektare (2018) dan 4 juta hektare (2017).

“Jadi saya mau bilang, kita masih beruntung karena kita masih di jalur yang benar,” katanya, Jumat (13/9) lalu.

Dari 238 ribu hektare lahan terbakar, 80 ribu di antaranya adalah lahan gambut. Menurut Nazir Foead, pemulihan lahan gambut terbakar memang tidak dapat ditempuh dengan waktu yang singkat. Di Jepang, pemulihan membutuhkan waktu sepuluh tahun, jelas jauh berbeda dengan kebakaran di hutan Indonesia yang “belum terlalu lama”.

Namun, meski perjuangan kita “masih perlu puluhan tahun” dan kini masih terbilang “beruntung”, rasa-rasanya penderitaan itu tak bisa menunggu terlalu lama. Berkat kepungan kabut asap, warga sekitar harus rela kegiatannya terganggu. Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, Riau, misalnya, memutuskan untuk kembali meliburkan kegiatan belajar mengajar di seluruh tingkat pendidikan pada hari Senin (16/9) dan Selasa (17/9). Padahal, libur sekolah sendiri sudah dilaksanakan sejak Selasa (10/9) lalu. Penyebabnya? Tentu saja kabut asap dari karhutla.

Pemerintah Kota Singkawang, Kalimantan Barat, mengeluarkan kebijakan serupa, yaitu meliburkan kegiatan sekolah selama tiga hari ke depan karena kualitas udara dan adanya kabut asap yang memang kian memburuk.

Keberadaan kabut asap ini mengancam kesehatan penduduk. Setidaknya, sebanyak 20.000 warga di Kalimantan Selatan dilaporkan terserang Infeksi Saluran dan Pernapasan Atas (ISPA). Di Sumatra, karhutla bahkan telah menelan korban. Seorang bayi berusia empat bulan meninggal dunia karena ISPA, Minggu (15/9). Diduga, kabut asap menjadi penyebabnya.

Bukan cuma penduduk yang tersiksa, kabut asap karhutla ini juga mengancam keberadaan satwa. Sejak beberapa hari terakhir di lini masa media sosial, foto-foto satwa terdampak beredar luas, bahkan kini dikabarkan telah memasuki area rehabilitasi orang utan.

Dengan segala “serangan” asap yang merugikan dan membahayakan, rasa-rasanya nggak mungkin, deh, kita bilang bahwa kita “masih beruntung”. Mereka yang jadi korban jelas tidak butuh perbandingan—mereka perlu pertolongan. Segera. (A/K)

BACA JUGA Saat Kabut Asap Makin Tebal di Riau, Pemerintah Juga Sibuk Debat dengan Malaysia atau artikel lainnya di rubrik KILAS.

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2021 oleh

Tags: bayi meninggalgambutISPAKabut Asapkarhutlakebakaran hutan dan lahan
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Kabut Asap Palembang: Laga Timnas Batal hingga Selebgram Dukung Pembakaran Hutan MOJOK.CO
Kilas

Kabut Asap Palembang: Laga Timnas Batal hingga Selebgram Dukung Pembakaran Hutan

5 Oktober 2023
Penjaskes

Aparat Diduga Tembakkan Gas Air Mata Kedaluwarsa, Peneliti: Gas Ini Sangat Berbahaya

25 September 2019
penjabat mundur mojok.co
Pojokan

Dari Moeldoko sampai Menteri Desa, Tips Redakan Isu Karhutla ala Pejabat Indonesia

18 September 2019
jokowi mojok.co
Esai

Jokowi, Pemerintah, dan DPR Semakin Sulit Dinalar

18 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana MOJOK.CO

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana

17 Juli 2026
Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

21 Juli 2026
Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026
Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif MOJOK.CO

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif

21 Juli 2026
Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

17 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.