Air Olahan Limbah Tinja DKI Jakarta Bukan untuk Air Minum

Di Jakarta, bahkan di Indonesia, orang-orang banyak yang membicarakan soal pengolahan limbah tinja menjadi air minum.

Hal tersebut karena beberapa waktu yang lalu, saat memberikan sambutan dalam acara peresmian penggunaan mesin Industri Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang diberi nama PAL-Adrich Tech System milik pihak PD PAL Jaya (perusahaan milik Pemprov DKI Jakarta), Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyebut alat instalasi PD PAL tersebut sanggup mengubah limbah tinja menjadi air siap minum.

“PD PAL Jaya kini punya teknologi Andrich yang bisa mengubah limbah tinja jadi air siap untuk diminum dalam waktu 30 menit. Teknologi kali ini jauh lebih efisien dibanding dengan sistem konvensional. Ini betul-betul lompatan dan belum pernah terjadi,” ujar Sandiaga.

Pernyataan Sandiaga tersebut tentu saja langsung memicu polemik dan kontroversi. Maklum saja, perkara tahi memang perkara yang sangat sensitif.

Usut punya usut, belakangan baru diketahui bahwa pernyataan yang disampaikan oleh Sandiaga saat memberikan sambutan acara peresmian penggunaan mesin Industri Pengolahan Air Limbah (IPAL) itu ternyata tidak sepenuhnya benar.

Olahan air limbah yang dihasilkan oleh PD PAL Jaya ternyata adalah air bersih yang hanya bisa dan layak digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti mencuci kendaraan atau menyiram tanaman, bukan untuk diminum.

“Sistem pengolahan ini bertujuan untuk memperbaiki kualitas olahan air limbah, jadi tidak diperuntukkan untuk air minum,” terang Dirut PD PAL Jaya Subekti. “Bisa menjadi air bersih yang bisa digunakan untuk utilitas, misalnya untuk cuci mobil,” lanjut Subekti.

Nah lho… nah lho…

Wah, Pak Wakil Gubernur kelihatannya perlu untuk belajar lebih berhati-hati dalam membuat pernyataan nih. Maklum, salah sedikit saja, hasilnya bisa fatal dan rentan untuk diplintir. Apalagi kalau urusannya menyangkut soal tahi. Harus ekstra hati-hati. Sebab ia menyangkut hajat hidup orang banyak.

Bayangkan kalau apa yang disampaikan Pak Sandiaga itu diterima mentah-mentah begitu saja oleh jutaan warga Jakarta  akan ada berapa juta warga Jakarta yang bakal mati karena dehidrasi sebab tidak berani minum air putih karena kebayang terus sama tahi?

Berapa?

Eh, lho, kok mikirnya jadi kejauhan begini ya.

 

Exit mobile version