1.000 Kamera Dipasang untuk Intai Macan Tutul Jawa

Hariyo T. Wibisono Direktur Yayasan SINTAS Indonesia di sesi bincang-bincang, Kamis (30/4/2026). (Dok. Istimewa)

JAKARTA, MOJOK.CO – Upaya penyelamatan macan tutul jawa semakin mendesak di tengah menyusutnya populasi satwa endemik tersebut. Kolaborasi multipihak dan pendekatan berbasis data dinilai menjadi kunci utama menjaga kelangsungan hidup predator puncak di Pulau Jawa itu.

Hal ini disampaikan dalam diskusi bertajuk “Melindungi Sang Predator Puncak: Sinergi Pelestarian Macan Tutul Jawa” yang digelar Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) bersama Yayasan SINTAS Indonesia di ASHTA District 8 Jakarta, Rabu (30/4/2026).

Data Kementerian Kehutanan menunjukkan populasi macan tutul jawa saat ini hanya sekitar 350 individu dewasa yang tersebar di 29 kantong habitat terisolasi. Fragmentasi habitat dan konflik dengan manusia menjadi ancaman utama bagi kelangsungan spesies ini.

Harapan muncul melalui peluncuran Java Wide Leopard Survey (JWLS) pada awal 2024. Program ini melibatkan pemerintah, praktisi konservasi, serta tujuh mitra swasta, termasuk BLDF, untuk mengumpulkan data populasi secara terstandar.

Survei tersebut menggunakan sekitar 600 kamera pengintai di 1.160 titik. Hingga 2025, JWLS telah mengidentifikasi sedikitnya 34 individu macan tutul jawa, terdiri dari 11 jantan dan 23 betina.
Program Director BLDF, Jemmy Chayadi, menegaskan bahwa konservasi tidak bisa dilakukan secara parsial. Menurutnya, pelestarian macan tutul jawa harus dilihat sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem secara menyeluruh.

“Konservasi bukan hanya soal menanam pohon, tetapi juga menjaga kualitas tanah, air, konektivitas hutan, serta kelangsungan satwa liar di dalamnya,” ujar Jemmy.

Jemmy Chayadi Program Director Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) dan Hariyo T. Wibisono Direktur Yayasan SINTAS Indonesia di Pameran Foto BLDF MOJOK.CO
Jemmy Chayadi Program Director Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) dan Hariyo T. Wibisono Direktur Yayasan SINTAS Indonesia di Pameran Foto BLDF. (Dok. Istimewa)

Kamera pengintai untuk temukan data macan tutul jawa

Sementara itu, Direktur Yayasan SINTAS Indonesia, Hariyo T. Wibisono, menekankan pentingnya data akurat dalam menyusun strategi konservasi. Ia menyebut pihaknya telah memasang hingga 1.000 kamera pengintai di berbagai hutan di Pulau Jawa.

Data tersebut akan digunakan sebagai dasar penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) yang lebih komprehensif.

Meski demikian, Hariyo mengingatkan bahwa pelestarian tidak cukup hanya mengandalkan data. Diperlukan juga upaya membangun hubungan yang lebih harmonis antara manusia dan alam.

Melalui kegiatan ini, BLDF mendorong agar pelestarian macan tutul jawa tidak hanya menjadi agenda konservasi, tetapi juga gerakan bersama yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Dengan dukungan data yang semakin kuat dan kolaborasi yang berkelanjutan, upaya menjaga spesies kunci ini diharapkan dapat berkontribusi pada keberlanjutan ekosistem hutan di Pulau Jawa secara keseluruhan.

Program Officer Bakti Lingkungan Djarum Foundation Dandy Mahendra mengatakan, selain diskusi, BLDF juga menggelar pameran foto dalam rangkaian ARTCYCLE: EARTHFORM yang berlangsung pada 20 April hingga 17 Mei 2026, dengan tema yang berganti setiap minggunya. Pada periode 20–26 April 2026, pameran mengangkat tema Biodiversity Conservation dengan fokus pada elang jawa. Selanjutnya, pada 27 April–3 Mei 2026, tema beralih pada konservasi macan tutul jawa. Pada 4–10 Mei 2026, pameran menampilkan lima pilar BLDF, sebelum ditutup pada 11–17 Mei 2026 dengan 18 karya foto jurnalistik terpilih. (*)

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Upaya “Mengadopsi” Sarang-Sarang Sang Garuda di Hutan Pulau Jawa dan reportase lainnya di kanal Liputan.

Exit mobile version