Mendengar kata “Dwifungsi ABRI” yang dikampanyekan (lagi) oleh Forum Syuhada Indonesia dalam menyambut HUT TNI ke-72 kemarinan itu saya kok malah sedih ya? Kalau dipikir-pikir lagi, ini justru ide untuk kemunduran buat TNI. Nggak tahu deh, apa motif kawan-kawan dari Forum Syuhada Indonesia. Jika urusannya cuma buat menghabisi pe-ka-i, saya pikir usulan “Dwifungsi ABRI” itu terlalu berlebihan.

Bukannya gimana-gimana, selama ini TNI sudah luar biasa dalam menjaga stabilitas bangsa ini. Baru-baru saja, kebangkitan pe-ka-i yang sudah mencapai puluhan sampai ratusan juta anggotanya di Indonesia itu benar-benar bisa diredam karena imbauan siaran nonton bareng film Penumpasan Pengkhianatan G30 S/PKI.

Hebatnya, acara nonbar begitu doang langsung bisa bikin ciut para Xianying Pekai lo. La, nyatanya, pe-ka-i yang sebelum ada imbauan nonbar dari Pak Jenderal diperkirakan anggotanya mencapai jutaan dengan senjata ribuan, begitu nonbar diadakan langsung nol. Bubar. Hilang lagi. Warbyasa, udah kayak ndelete folder bokep aja.

Dengan beberapa jasa dari TNI yang sudah luar biasa begitu, ide “Dwifungsi ABRI” justru adalah ide konyol. Ide yang sama sekali tidak menimbang prestasi demi prestasi yang sudah diberikan oleh TNI untuk negara ini sejak Reformasi.

Justru TNI itu sudah mulai multifungsi dan multitasking kok malah mau dijadiin dwifungsi atau dwi-tasking. Ini kan namanya ngece alias memandang rendah kemampuan TNI kita yang warbyasa.

Jangankan urusan politik. Urusan film, sumber daya alam, sampai dengan urusan sumber daya manusia kayak sepak bola saja TNI sudah ngurusi kok. Mau main bola? Ada PS TNI. Meski nggak sama dengan punyanya kepolisian Bhayangkara FC yang di ambang juara, PS TNI juga sama. Sama-sama di ambang … degradasi.

BACA JUGA:  Wawancara Ekslusif Mojok dengan Louis van Gaal

Itu baru main bola beneran di lapangan. Masih kurang multifungsi? Nggak cuma jadi klub, bahkan sampai jadi yang ngurusin federasi sepak bolanya juga. Piye, keren to? Daftar jadi ikut peserta lomba, tapi ketua pengurus lombanya bapakmu sendiri. Kurang sangar piye neh?

Sebenarnya hal macam begitu bukan hal baru. Nama-nama zaman dulu macam Ali Sadikin, Maulwi Saelan, Kardono, Sutiyoso, atau Agum Gumelar adalah nama-nama militer yang pernah menjadi ketua federasi sepak bola maupun bulu tangkis Indonesia.

Hal ini menandakan bahwa tentara itu benar-benar paket komplet. Mimpin perang bisa, mimpin olahraga bisa, bahkan mimpin negara juga bisa. Seperti kemampuan kepemimpinan dalam mengayomi warga sipil. Sebagaimana yang ditunjukkan Pak Harto waktu menanyai dengan penuh kelembutan kepada seorang anak SD karena pertanyaannya di sebuah acara bincang-bincang Presiden dengan rakyatnya.

Pak Harto cuma nanya, “Siapa yang suruh? Yang suruh nanya siapa?” Sambil senyum dengan penuh keteduhan karena si anak nanya: “Pak, kenapa presiden kita cuma satu orang?” Namanya anak-anak, kan biasa jika bosan terhadap sesuatu, jadi suka nanya aneh-aneh. Apalagi jika kebosanan itu lahir karena presiden negaranya itu-itu aja.

Tanggapan yang demikian segera membuat hati anak-anak itu begitu adem dan dingin sedingin es. Pemandangan yang menunjukkan bahwa tentara itu nggak pernah jahat dan kejam karena mereka melakukan tugas selalu dengan senyum. Bahkan sesulit dan semenantang apa pun tugas itu.

Melihat begitu berdedikasi dan betapa sanggupnya mereka bekerja di bidang apa pun, maka usulan dwifungsi ABRI ini tidaklah terlalu penting untuk diupayakan. Untuk apa dwifungsi jika pada prakteknya militer sudah multifungsi?

Komentar
Add Friend
No more articles