Sebagai salah satu bagian dari komunitas kekinian yang sering berselancar di dunia maya, perang bintang dan adu jotos di berita-berita panas sudah menjadi bagian dalam hidup saya. Walau hal-hal sial tersebut hanya sebatas menjadi bagian pasif (yang mana saya tidak ikut partisipasi di perang bintang dan adu jotos, tetapi sering melihatnya) dalam hidup saya, jika sehari tidak melihat yang begituan itu rasanya seperti bocah SMP yang sehari tidak melihat pacar pertamanya.

Tentu saja, hubungan saya dengan hal-hal sial itu jauh berbeda dengan hubungan si bocah SMP itu dengan pacar pertamanya. Apalagi dewasa ini, orang-orang tampaknya hanya ingin mencari berita yang diinginkannya ketimbang yang diperlukan. Sehingga pada akhirnya, berita yang terlihat tidak jarang hanya sekitar itu-itu saja, tetapi dalam dua versi yang berbeda tergantung preferensi si penyebar berita. Keabsahan berita itu? Haha. Hahaha. Hahahaha. Babun.

Media berita tidak banyak membantu, apalagi yang berbasis dunia maya. Tidak jarang malah medialah yang menjadi dalang dari perang bintang dan adu jotos yang sia-sia itu; tahu bahwa sedikit memelintir judul saja mereka bisa akan mendapatkan jumlah pembaca yang banyak, dan berita sampah yang mereka tulis akan banyak dibagikan. Sehingga keadaan pun tidak bertambah baik.

Belum lagi orang-orang ingusan yang merasa keren karena bisa mengoperasikan Photoshop, atau minimal Paint, lalu dengan bangganya menempelkan kepsyen-kepsyen yang lebih mengundang birahi ketimbang lawan jenis yang telanjang, menimbulkan apa yang kita kenal sebagai hoax. Screenshot WhatsApp palsu, foto editan atau yang asal comot tetapi kepsyen up-to-date, semua hal-hal bodoh yang mana seorang Goenawan Mohamad pun bisa menjadi korbannya, sebagaimana yang kita ketahui beberapa waktu terakhir ini ketika beliau entah sengaja atau tidak ikut menyebar hoax ini.

Gara-gara kekacauan sebegini, saya jadi malas melihat berita. Tentu, saya juga harus up-to-date terhadap peristiwa-peristiwa panas yang terjadi. Maka itulah, tidak jarang saya beralih ke meme; singkat, padat, to the point, dan yang paling utamanya, lucu dan harmless. Tidak pernah saya dengar orang jadi berperang gara-gara meme, atau bagaimana sebuah meme merusak jaringan informasi sebagaimana hoax, dan berbagai iklan seminar teknologi yang saya pernah lihat hanya fokus bagaimana membendung hoax, bukan meme. Sehingga saya yakin, bahwa meme adalah kunci.

Baca juga:  Inikah Senjakala Partai Politik Kami...

Keyakinan saya pada kekuatan meme menguat akhir 2016 yang lalu. Ketika orang-orang di sebuah negara entah di sudut dunia mana disibukkan dengan klakson bus dan truk, hubungan Turki dan Rusia sempat memanas gara-gara dibunuhnya dubes Rusia untuk Turki, Andrei Karlov, oleh salah seorang petugas keamanan berkewarganegaraan Turki ketika sedang mengunjungi sebuah galeri di negara Erdogan itu. Namun alih-alih menjadi pemicu Perang Dunia ke-3, yang bermunculan malahan meme-meme pembunuhan tersebut yang mengundang tawa ketimbang amarah. Dan ini mungkin juga berkat aji-ajian klakson bus dan truk, kita pun tetap bisa menyambut 2017 tanpa deklarasi perang.

Tidak jarang pula saya mengetahui sebuah peristiwa besar bukan karena beritanya, tetapi karena memenya. Penembakan di Paris dulu, misalnya, saya dapatkan ketika sedang melihat-lihat 9gag dan menemukan sebuah komik meme Country Balls, yang menggambarkan negara-negara dunia sebagai bola-bola yang berbicara dengan loghat bahasa negaranya masing-masing. Terkadang pula, mengikuti perkembangan sebuah peristiwa lebih asyik melalui meme ketimbang berita. Ketika debat pilkada dan pilpres AS, misalnya, ketika meme OK OCE Mas Sandiaga sama banyaknya seperti meme ucapan Trump.

Tidak seperti berita, meme bisa dilayani secara guyon dan tidak serius. Isinya pendek, kadang konyol dan tak tentu apa maksudnya, tapi memang itulah tujuan dibuatnya meme. Ini jelas lebih baik daripada sebuah berita hoax yang menampilkan dirinya seakan sebuah kebenaran yang harus diterima seluruh orang. Di sini, saya ingin menyamakan meme sebagai seorang anak begajul, preman, tetapi jujur dan apa adanya dengan kepremanannya (lho, kok malah kayak Young Lex sama AwKarin yak?), sedangkan hoax bisalah disamakan dengan seorang pejabat atau tokoh besar yang luarnya rapi jali, tapi dalamnya sampah.

Walau sama-sama mudah dibuat, meme dan hoax perlu tingkat kreativitas yang berbeda. Membuat sesuatu yang humoris tentu jauh lebih menantang ketimbang membuat sesuatu yang isinya hanya bohong. Nah, terkait katanya kita harus menjadi netizen yang pintar dan bijak, maka daripada hanya sibuk membuat seminar idealis menghentikan hoax dan berbuih mengatakan bahwa hoax itu buruk, mengapa tidak langsung saja membuat pelatihan membuat meme? Orang-orang di negeri kita tidak perlu ocehan-ocehan moral nan idealis, perlunya langsung gerak. Maka, pelatihan membuat meme saya rasa adalah sebuah langkah bijak menangkal hoax ketimbang seminar-seminar teoretis.

Baca juga:  Kesedihan dan Cara-Cara Memanfaatkannya

Referensi mencari meme tidaklah sedikit, apalagi untuk orang Indonesia. Sebuah sub-spesies netizen muda Indonesia misalnya, ada yang spesialisasi dalam bidang meme, bernama Anak Yimyam (atau kadang disebut Nax YimYam). Para komentator yang ada di tulisan Mas Arlian Buana, ya mereka-mereka itu. Tapi kadang, walaupun sudah tahu dasar-dasar melucu dengan meme, apa yang mereka buat tidak lucu. Coba saja cek tempat mangkal mereka, yaitu Meme Comic Indonesia. Tetapi tetap saja, potensi untuk membuat meme yang bagus sudah ada di dalam diri mereka.

Nah, kalau Anda ingin melihat puncak dunia meme di Indonesia, cobalah berjalan-jalan ke laman Meme Segar, Penahan Rasa Berak, Semiotika Adi Luhung 1945, atau yang semacamnya di Facebook. Laman Dewan Kesepian Jakarta juga kadang menyediakan konten serupa meme yang lucunya berkelas. Lalu bagaimana dengan meme mancanegara? 9gag jawabannya. Atau ingin langsung ke situs yang menjadi semacam Wikipedia semua meme di dunia? Bukalah situs Know Your Meme.

Akhir kata, Jama’ah Mojokiyah yang dirahmati Allah ‘Azza wa Jalla, jika Anda ingin hidup cerdas dan berkelas, sebarkanlah meme, bukan hoax. Lalu saran saya untuk Kemenkominfo, jika saja Mojok cukup beruntung situsnya dibuka orang kementerian, buatlah pelatihan membuat meme. Ini akan mengolah salah satu dari tiga potensi bakat terbesar yang dimiliki bangsa kita: melucu, berjoget, dan berkelahi. Terakhir, kepada Mojok, saya harap di akhir 2017 akan turun artikel yang memilih Meme Terbaik Tahun ini. Sudah saatnya seniman meme dihargai selayaknya seniman dan sastrawan lainnya. Terima kasih.

 

Komentar
Add Friend
No more articles