Mediocre teacher tells
Good teacher explains
Superior teacher demonstrates
Great teacher inspires

William Arthur Ward

Kalau ditanya soal jalur pendidikan, saya boleh dibilang menempuh jalur tunggal, yaitu fisika. Zaman dulu, persis saat saya masuk SMA, sistem penjurusan baru diubah. Waktu itu ada jurusan ilmu fisika (A1), ilmu biologi (A2), ilmu sosial (A3), dan ilmu bahasa (A4). Saya memilih jurusan fisika. Saya kuliah di jurusan fisika, FMIPA. Kemudian setelah lulus S-1 saya melanjutkan ke S-2 dan S-3, tetap di bidang fisika. Setelah itu selama 5 tahun saya bekerja sebagai peneliti di bidang fisika, di dua universitas di Jepang.

Tapi saya harus ceritakan bahwa pada suatu ketika saya pernah membenci pelajaran ini.

Sejak SD saya adalah murid yang cerdas. Itu saya sadari, dan itulah yang diakui oleh guru-guru serta teman-teman saya. Saya selalu juara kelas, sering mewakili sekolah dalam berbagai lomba cerdas cermat. Pelajaran favorit saya apalagi kalau bukan matematika dan IPA. Nilai untuk kedua mata pelajaran itu selalu paling tinggi. Hingga saya masuk SMA.

Kelas satu SMA saya mulai “turun kasta” dari anak pintar menjadi anak rata-rata. Nilai matematika, fisika, dan kimia, mata pelajaran yang seharusnya jadi favorit saya, hanya 7. Ini jauh dari yang saya harapkan, yaitu 9, atau setidaknya 8. Saya merasa gagal dan frustrasi.

Entah mengapa saya buntu. Pelajaran-pelajaran itu terasa jadi sulit. Tidak seperti dulu-dulu saat saya SD dan SMP. Ada apa ini? Apakah pelajaran SMA memang demikian sulit, dan kapasitas otak saya sudah mentok?

Penjelasan guru saya banyak yang sulit saya cerna. Misalnya, dia mengatakan bahwa kalau benda dijatuhkan bebas dari suatu ketinggian, ia akan mencapai permukaan tanah setelah menempuh waktu tertentu dan pada kecepatan tertentu. Waktu dan kecepatan benda jatuh itu tidak tergantung dari massanya.

Saya tidak bisa menerima penjelasan itu. Saya tahu bahwa kalau saya jatuhkan selembar kertas dan sebongkah batu dari ketinggian yang sama, batu akan lebih dahulu mencapai permukaan tanah dan kecepatannya saat mencapai tanah juga lebih besar dari kertas. Saya tahu itu karena berkali-kali mencoba membuktikannya. Saya bantah guru saya, tapi dia menunjukkan rumus dari buku pelajaran yang menyatakan bahwa waktu dan kecepatan benda jatuh itu sama, tidak tergantung massa benda. Apa mau dikata, guru dan buku pelajaran tak bisa dibantah.

Baca juga:  Sains, Tuhan, dan Nakalnya Stephen Hawking

Akhirnya saya beranggapan bahwa ilmu fisika adalah ilmu reka-reka. Orang-orang pintar membuat rumus-rumus untuk kita hafalkan di sekolah. Tak lebih dari itu. Jadi, ini adalah pelajaran hafalan, sebagaimana pelajaran lain. Selain itu tak jelas pula apa manfaatnya buat hidup kita.

Sampai saya bertemu dengan Pak Mappedjandji. Andi Mappedjandji. Orang Bugis dengan perawakan kurus tinggi, berkacamata, dengan rambut terpotong pendek yang selalu tersisir rapi. Dia guru fisika saya saat naik ke kelas dua. Pak Mappe, begitu kami memanggilnya, tak menyuruh kami menghafal rumus. Setiap topik pelajaran baru selalu dia mulai dari laboratorium. Sebuah laboratorium sederhana di sekolah kami.

Kami diajak membuat eksperimen kecil, mengukur, mengamati, berdiskusi, lalu menyimpulkan. Dari eksperimen kecil itu saya tahu bahwa kertas jatuh lebih lambat ketimbang batu karena ada hambatan udara. Ketika kertas itu saya gumpalkan menjadi bulatan padat, ia jatuh dengan kecepatan yang sama dengan batu yang jatuh. Pak Mappe mengajarkan bahwa fisika bukan ilmu reka-reka!

Tentu fisika tak bisa tanpa rumus. Tapi bersama Pak Mappe kami tak perlu menghafal rumus. Kami mengingatnya! Sama seperti kami mengingat bahwa air selalu mengalir ke bawah. Rumus kami susun berdasarkan pengamatan dari laboratorium. Kami kumpulkan data pengukuran, baru kami tetapkan rumusnya.

Untuk menjelaskan hukum Hooke, Pak Mappe membawa seuntai pegas dan beberapa pemberat. Kami menggantungkan pegas itu, lalu memberi beban pada ujungnya. Beban kami ganti-ganti dengan massa yang bervariasi. Lalu kami ukur pertambahan panjang pegas akibat gantungan beban. Dari hasil pengukuran kami tahu bahwa pertambahan panjang itu sebanding dengan pertambahan massa beban. Lalu kami membuat rumusnya.

Pada rumus yang lebih rumit, kami harus melakukan utak-atik matematika. Tapi itu tak masalah karena kami sudah paham bagaimana proses untuk mendapatkan rumus awal.

Baca juga:  Sowan ke Kang Rukhin dan Kang Musthofa, Dua Murid Gus Baha yang Ikut Viral kayak Gurunya

Banyak hal lagi yang diajarkan Pak Mappe. Berbagai alat ukur dia ajarkan cara penggunaannya. Dia juga banyak bercerita tentang bagaimana sebuah konsep fisika dimanfaatkan untuk kehidupan manusia. Pak Mappe juga bercerita tentang bagaimana sebuah hukum fisika ditemukan, misalnya bagaimana Oersted berhasil mengetahui bahwa arus listrik menimbulkan medan magnet.

Saat upacara Senin pagi, guru-guru bergiliran menjadi inspektur upacara dan menyampaikan pidato. Pidato Pak Mappe selalu menarik untuk didengar. Ia tak melulu bicara soal disiplin dalam menaati peraturan sekolah, seperti yang banyak dilakukan oleh guru-guru lain. Ia sering bercerita tentang tokoh-tokoh ilmuwan, bagaimana masa kecilnya, dan bagaimana mereka sampai jadi ilmuwan terkemuka.

Sejak diajar Pak Mappe, sekolah jadi menarik. Kebetulan waktu itu guru matematika dan kimia saya juga berganti. Guru matematika kami orang yang suka bercanda sehingga kelas Matematika selalu penuh riang tawa. Guru kimia juga suka mengajak kami bermain di laboratorium seperti Pak Mappe. Sejak itu nilai-nilai pelajaran saya naik kembali, dan saya kembali “naik kasta” menjadi anak pintar. Lalu saat lulus SMA saya putuskan untuk kuliah di bidang fisika.

Usai kuliah saya menjadi dosen. Setiap kali berdiri di ruang kelas maupun laboratorium, saya selalu ingat Pak Mappe. Saya merasa menjadi diri beliau. Saya selalu ingat pula diri saya, ketika saya kelas 1 SMA dulu. Saya selalu membayangkan bahwa selalu ada murid dan mahasiswa yang sebenarnya cerdas, tapi tak sanggup mencerna materi pelajaran karena guru atau dosennya tak mengajarkan dengan baik. Saya seperti Pak Mappe, berusaha agar mahasiswa seperti itu tertolong oleh cara mengajar saya.

Ketika kemudian saya selesai kuliah dan menjadi doktor di bidang fisika, saya pernah mencari Pak Mappe untuk bertemu dan mengucapkan terima kasih. Sayang, saya tak berhasil menemui beliau. Tapi dalam hati saya selalu berucap terima kasih kepada beliau.

Terima kasih Pak Mappe, terima kasih guru-guru kami.

BACA JUGA Kepada Para Orang Tua yang Anaknya Kini Sekolah dari Rumah dan esai sains Hasanudin Abdurakhman lainnya di kolom TEMAN SEKELAS