Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Hizbut Tahrir Sama dengan Hantu Komunis

Iqbal Aji Daryono oleh Iqbal Aji Daryono
15 Mei 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Hizbut Tahrir Indonesia mau dibubarkan, katanya. Proses legalnya masih menunggu apa, jangan tanya saya. Silakan japri Pak Wiranto saja. Tapi terlepas dari soal-soal prosedural begituan, saya lebih tertarik berandai-andai tentang bagaimana sikap kita pasca-pembubaran HTI.

Begini. Saya sendiri setuju HTI dibubarkan. Terserah mau antum bilang fasis atau orbais atau pemakan bangkai saudara seiman, tidak ada landasan nalarnya sebuah organisasi seperti itu dibiarkan tumbuh, bahkan diberi legalitas di negara bernama Republik Indonesia.

Lah, kita ini kan bernegara dalam sebuah proyek bersama, dalam kesepakatan bersama, dalam sebuah perahu yang ditumpangi bersama. Kita sama-sama berlayar ke selatan, taruh kata begitu. Tiba-tiba ada segelintir anggota keluarga merangsek meminta kita belok ke timur sembari berteriak-teriak mengatakan bahwa jalur ke selatan itu salah dan membawa kita ke neraka. Begitu mau dibiarkan?

Itu baru diandaikan bahwa mereka segelintir orang. Padahal HTI itu organisasi rapi, dengan jumlah massa ribuan dan terus membesar, punya tokoh ustaz seleb yang tak kalah populer dibanding sesama ustaz seleb yang lain, dan semua kadernya tak kenal lelah terang-terangan menyebarkan paham mereka yang anti-NKRI.

“Kami tidak menolak Pancasila! Prinsip-prinsip Pancasila senafas dengan khilafah, jangan salah! Tidak ada satu pun semangat kami yang bertabrakan dengan nilai-nilai Pancasila! Lagi pula jika Khilafah berdiri, NKRI akan sejahtera di bawah hukum syariat!”

Hehehe. Sudah bosan saya mendengar retorika aduhai semacam itu. Sebenarnya sih secara tekstual saya sepakat. Saya sepakat bahwa memang Pancasila tidak berbenturan dengan khilafah. Namun, ya gitu, yang tidak berbenturan cuma sebatas nilai-nilai normatifnya. Dengan kata lain, HTI memosisikan Pancasila tidak lebih sebagai kata-kata mutiara motivasi yang baek-baek dan endah-endah ala Pak Mario saja.

Selebihnya, mustahil ada cita-cita tegaknya khilafah di atas fondasi Pancasila. Semesra apa pun hubungan maknawi antara Pancasila dan Khilafah, tetap saja HTI tidak mencita-citakan NKRI sebagai bentuk negara, Pancasila sebagai dasar negara, dan UUD 1945 sebagai konstitusinya.

Kalau nggak percaya, coba sekarang berdiri di depan kaca lalu ucapkan deretan kalimat ini keras-keras: “Mari kita berjuang menuju berdirinya khilafah islamiyah yang berlandaskan Pancasila dan UUD 45”. Rasanya tetep fals, to? Hehe.

Makanya, bubarkan ya bubarkan saja. Beres.

Tapi sebentar. Mari kita tuma’ninah sejenak. Seruput kopi Anda sedikit, sedot rokok dalam-dalam, embuskan asapnya sampai menyentuh langit-langit kesadaran.

Coba kita renungkan: yang mau dibubarkan tuh sebenarnya apanya sih? Benar, yang akan dibubarkan adalah organisasinya, organisasi bernama Hizbut Tahrir Indonesia. Yang akan dilarang adalah aktivitas organisasi, kepengurusan organisasi, juga mungkin tampilnya nama dan simbol organisasi di ruang-ruang publik.

Lantas bagaimana dengan gagasan-gagasan, ide-ide mereka tentang khilafah dan syariat Islam, kritik mereka atas sistem thogut NKRI? Malang sekali, para anti-HTI akan kecewa. Sebab, tidak ada dasar legal apa pun untuk melarang itu semua. Bahkan harus disadari, bukan cuma alasan legal yang tak ada, landasan rasional alias fondasi yang jauh lebih mendasar ketimbang sekadar perkara hukum pun tidak ada.

“We have to differentiate between ideology and institution. If they ban the PKI, that’s up to them. And that’s all they can do. But banning ideology, is nothing. That is impossible to do.”

Dalam situasi-situasi seperti ini, saya jadi terkenang perkataan Gus Dur yang satu itu. Pernyataan jernih yang beliau almukarom ucapkan dalam wawancara dengan Mas Lexy Rambadetta tentang tragedi 1965 lalu dimunculkan di film dokumenter Mass Grave. Kalimat Gus Dur itu sangat simpel untuk menuntun kita agar tertib berpikir, memahami bahwa institusi berbeda dengan ideologi. They, mereka (dalam konteks ini adalah Orde Baru), bebas-bebas saja melarang PKI. Tapi, melarang ideologi Komunisme itu konyol dan sia-sia. Ideologi tidak bisa dilarang.

Kenapa? Ideologi terletak di dalam kepala dan hati. Bukan di selembar bendera, di kertas dengan kop notaris, apalagi sekadar di fanpage Fesbuk.

Kekuasaan bisa melarang institusi. Dengan cara menutup situs webnya, menyegel kantor sekretariatnya, atau menyobek dan membakar poster-poster kegiatannya. Namun, Densus 88 sekalipun mustahil bisa masuk ke dalam otak dan hati manusia, lalu memborgolnya, atau membelitkan kawat bronjong untuk menahan ide-ide dan keyakinan yang muncul dari sana.

Dalam hal ini sebenarnya HTI tak ada bedanya dengan PKI. Tidak, saya tidak hendak mengatakan bahwa konsep khilafah sama dengan cita-cita Komunisme. Jelas keduanya tak ada persis-persisnya. Maksud saya, yang sama adalah nasibnya. Pelarangan PKI dan pelarangan HTI akan berujung pada konsekuensi yang agak mirip. (Buat antum yang sudah telanjur panas cuma gara-gara baca judul tulisan ini, silakan duduk kembali.)

PKI memang dilarang, kemunculan simbol-simbol palu arit juga dilarang. Aturan hukum tentang itu toh masih eksis. Namun, diskusi-diskusi tentang Komunisme, tentang tragedi ‘65, juga penerbitan buku-buku tentangnya, adalah aktivitas intelektual yang terhormat dan dilindungi hukum. Oleh karena itu, sweeping buku Kiri dan pembubaran diskusi film bertema Kiri adalah aksi-aksi pelanggaran hukum, kontraproduktif dengan semangat pembelajaran publik, dan penindasan atas kemerdekaan berpikir.

Iklan

Dengan posisi semacam itu bagi PKI dan Komunisme, apakah kita akan bersikap diskriminatif dan memperlakukan gagasan khilafah secara berbeda? Sudah siapkah kita untuk berjuang membela spirit kebebasan berpikir jika suatu saat pasca-pembubaran HTI, para pejuang khilafah itu menggelar diskusi menyebarkan buku-buku berisi gagasan dan kritik mereka atas banyak hal?

Mari berandai-andai. Taruh kata, suatu kali nanti mereka menggelar seminar berjudul “Meluruskan Pemelintiran Sejarah Khilafah Islam” atau apalah. Tidak ada embel-embel nama HTI di situ, tidak ada provokasi kekerasan di situ, tidak ada ajakan penggulingan kekuasaan pemerintah resmi di situ. Lalu para pemuda pembela NKRI datang, menggerebek dan membubarkannya. Nah, apa kita siap membela hak-hak para khilafaher itu dengan menyebarkan 7 juta tagar #TolakPembubaranDiskusi?

Saya sendiri tidak merasa cukup siap untuk itu. Berat. Tapi, sebagaimana kesetiaan, berdemokrasi pun kadang-kadang menyakitkan. Sudah menjalaninya dengan kesakitan, masih pula dibilang sistem setan. Hoahm ….

Terakhir diperbarui pada 7 Mei 2018 oleh

Tags: Gus DurHizbut TahrirHizbut Tahrir IndonesiaKomunisPartai Komunis Indonesia
Iqbal Aji Daryono

Iqbal Aji Daryono

Penulis dari Bantul. Lulusan Sastra Jepang, UGM.

Artikel Terkait

Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM MOJOK.CO

Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM

29 Juni 2026
PKI dan Politik Ingatan: Dari Demonisasi hingga Penghapusan Sejarah

PKI dan Politik Ingatan: Dari Demonisasi hingga Penghapusan Sejarah

27 September 2025
Seputar Peristiwa 65 yang Tak Mungkin Ada di Buku Sejarah MOJOK.CO

Seputar Peristiwa 65 yang Tak Mungkin Ada di Buku Sejarah

30 September 2024
Soal Tanah dan Benih Pengetahuan di Tubuh NU MOJOK.CO

Soal Tanah dan Benih Pengetahuan di Tubuh NU: Masih Relevankah Isu-isu Moderasi Beragama?

7 Agustus 2024
Gus Dur di Balik Operasi Jahat Petrus dan Teror Gerhana Matahari Total

Gus Dur di Balik Operasi Jahat Petrus dan Teror Gerhana Matahari Total

1 Agustus 2024
Sowan Gus Yusuf: Tanpa Ada Kekuatan Politik, Maka Kebenaran Akan Menjadi Sia-Sia

Sowan Gus Yusuf: Tanpa Ada Kekuatan Politik, Maka Kebenaran Akan Menjadi Sia-Sia

28 Maret 2024
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Penyesalan mahasiswa kiri dan naif: tolak kerja (jadi budak) korporat karena melanggengkan kapitalisme, tapi sadar orang tua belum bahagia MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Sok Kiri Anti Kapitalisme dan Naif: Tolak Kerja Korporat, Tapi Sadar Belum Bantu Ekonomi Orang Tua

21 Agustus 2026
Peserta dalam ajang Klaten International Motocross di Sirkuit Bokong Semar, kawasan Rowo Jombor. MOJOK.CO

Anak Muda Asal Jawa Barat Kalahkan Crosser dari Australia di Ajang Klaten International Motocross

25 Agustus 2026
Mengenal konsep Green al-Maun dan jihad ekologi dari masjid untuk menjaga lingkungan MOJOK.CO

Dakwah Tauhid Lingkungan dari Masjid, Mempertanyakan Keimanan dari Kesadaran Menjaga Alam

26 Agustus 2026
Kenangan Honda Astrea Grand 1996 di Surabaya. MOJOK.CO

Astrea Grand 1996 Milik Bapak: Saksi Bisu Ketangguhan Orang Tua Saya, Kini Tetap Slay Menyibak Kemacetan Surabaya

27 Agustus 2026
dukuh muda di kampung

Seni Menjadi Dukuh Muda di Tengah Gempuran Pemimpin Boomer: Kisah Dukuh Muda yang Rela Mengorbankan Masa Muda untuk Membuat Orang Tua Bangga

24 Agustus 2026
Desta pamit dari Vindes rasanya kayak kehilangan dua teman MOJOK.CO

Ketika Desta pamit dari Vindes, saya merasa kehilangan dua teman yang tidak pernah saya kenal

27 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.