• 188
    Shares

MOJOK.COSelain NU atau Muhammadiyah Garis Lucu, ada satu lagi yang perlu dibikin gerakan garis lucunya, yakni artikel berisi informasi kesehatan. Biar nggak spaneng.

Selain perseteruan teman yang berlainan pilihan capres, artikel kesehatan yang sering nyelonong begitu saja di beranda media sosial benar-benar menyebalkan.

Sebenarnya keduanya sih sama saja. Sama-sama nggapleki. Mau masa bodoh dengan nyinyiran teman tapi terbaca juga. Jari-jari gatel pengen nampol.

Begitu juga dengan artikel kesehatan. Pengen lewati, tapi jari malah ngeklik. Mau tak mau, terpaksa baca. Penasaran lihat judulnya: “Mengidap 7 Gejala Ini? Awas, Bisa Jadi Tumor Ganas.”

Setelah baca malah merinding. Pengen raba punya sendiri. Anu, bukan itu maksudnya. Ada nggak ya benjolan. Sumpah. Kepikiran terus jadinya. Kalau posisi sedang galau, ke mana-mana tak bisa tenang.

Jika postingan mantan pacar sama gebetan baru adalah teror, artikel kesehatan juga demikian. Benar-benar teror nyata. Pengen masa bodoh tapi kok ya nggak bisa.

Ini benar-benar masalah krusial yang harus dibicarakan. Mengingat, tulisan-tulisan seputar penyakit bisa membuat pembaca malah sakit. Ketakutan. Was-was. Cemas.

Dr. Michael Witthvft dari Johannes Gutenberg University di Jerman juga merasa demikian lho ya. Fenomena takut karena membaca artikel tentang penyakit mampu memengaruhi kondisi fisik seseorang. Sebagian orang yang mudah galau malah mungkin terserang psikosomatik.

Dr. Andri, Sp.KJ. malah blak-blakan tentang ini. Katanya banyak membaca info kesehatan malah bisa bikin sakit. Sakit karena takut sakit.

Mungkin nggak sih, akademisi kedokteran atau dinas terkait mengimbau teman-temannya lebih banyak menulis artikel kesehatan di internet secara jenaka. Kok saya rasa artikel kesehatan cenderung metenteng kaku. Plus bonus foto serem. Horor seram gimana gitu jadinya.

Budaya Manakuti

Mungkin pola pikir kita terlanjur sakit. Gimana tidak? Jalan menakut-nakuti menjadi pilihan untuk mengubah suatu keadaan. Dari dulu masih saja begitu.

Ada sejarahnya. Ingat nggak sama Creel Commission? Halah, tahumu paling ya Dildo tronjal-tronjol itu.

Creel Commission hanya butuh 6 bulan mampu mengubah masyarakat antiperang menjadi histeris dan bawaannya pengen perang melulu. Caranya ya dengan menebar ketakutan. Bahaya komunis. Akhirnya semua yang berbau Jerman sikat habis.

Ehem, ini di Amerika di bawah kekuasaan si Wodrow Wilson tahun 1916. Orang yang biasa selo jadi beringas. Meletuslah Perang Dunia I.

Baca juga:  Tamparan Dildo untuk Timses Jokowi, Prabowo, dan Para Politikus

Sekarang si Donald Trump juga pakai cara demikian. Rakyatnya ditakuti dengan isu imigran dan teroris. Kalau di Indonesia? Halah ya sama saja. Sama buku aja takut. Pret.

Gasut. Lalu apa hubungannya dengan kesehatan? Ya itu tadi. Apa situ nggak eneg ditakut-takuti?

Sadar atau tidak, kayaknya dunia informasi kesehatan juga mengambil langkah mirip. Maksudnya baik. Masyarakat melek tentang kesehatan dan menjauhi segala tetek-bengek yang dapat membuat sakit.

Jangan sampai sakit, entar BPJS bisa defisit—misalnya. Poinnya mengubah keadaan dengan jalan menakuti.

Kalau tak percaya, coba lihat kemasan rokok. Dulu, peringatan rokok itu cuma tulisan “merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan ganggunan kehamilan dan janin”.

Sebenarnya itu sudah menakutkan. Tapi karena keseringan, tidak lagi mempan. Serupa antibiotik. Dosis harus dinaikkan. Muncul kemudian gambar dada terbelah, bibir dower, tenggorokan bolong, dan entah gambar horor apa lagi untuk menakut-nakuti.

Di sinilah, saya berharap. Sudahlah. Akhiri semua ketakutan ini dengan canda dan tawa. Mari sama-sama bawa pengetahuan kesehatan dengan segar dan jenaka.

Saya butuh informasi tentang kesehatan tanpa kengerian. Seperti halnya, seorang jomblo butuh energi optimisme daripada ditakut-takuti kehilangan cinta lagi.

Oleh karena itu, saya pikir selain NU Garis Lucu, lalu disusul Muhammadiyah Garis Lucu, lalu belakangan ada Wahabi Garis Lucu segala, ternyata ada satu lagi yang perlu dibikin garis lucunya, yakni artikel berisi informasi kesehatan garis lucu.

Soalnya dengan adanya konten-konten kesehatan garis lucu, orang bakal dapat informasi kesehatan yang tepat dan santai. Syukur-syukur ketawa. Sakitnya mungkin nggak sembuh, tapi kan orang yang sakit jadi terhibur.

Bukannya malah jadi cemberut, murung, atau malah stres. Kontradiktif. Seperti pesta demokrasi kini. Namanya pesta, harusnya happy dan sayang-sayangan, bukan malah gila-gilaan. Tiada hari tanpa caci maki.

Oleh sebab itu, menurut saya selain berlatih komunikasi lisan yang menenangkan, praktisi kesehatan harusnya juga dibekali dengan kemampuan mengemas cara penyampaiannya dengan jenaka.

Literasi hebat itu bukan sekadar keakuratan data dan kutipan pakar. Itu memang penting, tapi di era milenial, kalau hanya berbekal keakuratan seperti itu ya receh banget. Harus lebih jauh lagi.

Saya yakin bukan hal mustahil artikel kesehatan digarap dengan ringan dan jenaka. Fakultas Kedokteran se-Indonesia harusnya memiliki mata kuliah wajib penulisan kreatif.

Baca juga:  Piala Kebodohan dan Award 212, Parodi Selanjutnya dari Pilpres 2019

Kalau perlu, Mojok turun tangan bekerja sama dengan lembaga pendidikan atau dinas kesehatan. Sudah saatnya, artikel-artikel kesehatan di internet bersifat persuasif dan menyenangkan. Pembaca merasa terhibur.

“Penyakit itu hubungannya dengan nyawa loh ya. Jangan dibuat bercanda!”

Lah, kamu pikir politik itu apa tidak menyangkut nyawa? Malah nyawa se-Indonesia Raya. Kalau salah colok, ngenes 5 tahun dikau dibuatnya. Nah, untuk menjaga kewarasan, konten-konten politik sekarang memang butuh konten-konten lucu maha asyik.

Sebab lucu tidak selamanya mengaburkan kebaikan. Jika ketakutan mampu menimbulkan trauma, kelucuan mampu melemaskan ketegangan bahkan sampai mampu membuat otak jadi lebih mudah mengingat informasi.

Masalahnya artikel kesehatan beserta gambaran penyakit-penyakit mengerikan itu memang gampang sekali bikin merangsang. Jika berseliweran di beranda media sosial, orang jadi penasaran pengen membukanya.

Ini sudah takdir. Artikel semacam itu laris manis. Kenyataan ini tidak dapat disangkal. Yang kita butuhkan adalah mazab baru. Mazab artikel kesehatan garis lucu. Mazab ini visi-misinya menangkal radikal bebas bahasa.

Dengan itu, pembaca artikel kesehatan mendapat dua poin plus. Pertama, ada info jelas mengenai seluk-beluk penyakit, obat, dan bagaimana menghindarinya. Kedua, karena tulisan itu jenaka, tulisan itu secara tidak langsung memberikan sugesti menyehatkan.

Ketegangan akan kendor. Efek ketakutan yang mampu menyebabkan psikosomatik berkurang. Pembaca lebih banyak tertawa. Stres akan berkurang seketika. Efek radikal bebas bahasa digembosi.

Artikel kesehatan garis lucu ini akan membalikkan potensi negatif yang ditimbulkan dari membaca artikel kesehatan. Pembaca yang berpotensi psikosomatik itu kan memiliki sensitivitas tinggi terhadap nyeri dan mudah dipersuasi secara negatif.

Orang yang mudah stres sangat rawan terhadap bacaan kesehatan mengerikan. Nah, artikel kesehatan garis lucu memiliki strategi kebalikan. Gerakan ini harus sadar betul bahwa bahasa memiliki kekuatan luar biasa.

Dengan hadirnya kekuatan segar, menggelitik, dan penuh gelak-tawa, artikel kesehatan akan mudah memersuasi pembaca ke arah positif. Secara tidak langsung, strategi ini menghadirkan tulisan kesehatan yang benar-benar menyehatkan. Kalau pun tidak secara fisik, paling tidak secara jiwa.

Jadi mari mulai gerakan literasi—terutama untuk topik kesehatan—tanpa harus ditakut-takuti atau menakut-nakuti.