Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Jika Auratmu Itu Urusanmu, Maka Biarkan Jilbab Lebar Kami Jadi Urusan Kami

Herawati Aisha Rara oleh Herawati Aisha Rara
30 Januari 2021
A A
Membolehkan Tidak Pakai Jilbab Bukan Berarti Menghalalkan Buka Aurat

Membolehkan Tidak Pakai Jilbab Bukan Berarti Menghalalkan Buka Aurat

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Jangan meremahkan seseorang hanya karena jilbab lebarnya. Sebab di balik jilbabnya, kadang ada fisik Gal Gadot yang nggak kira-kira.

Kalau ada yang bilang berjilbab, memakai gamis atau setelan baju longgar dengan rok panjang itu membatasi gerak dan kebebasan seorang perempuan apalagi menghambatnya dalam berkarya, saya jarang sekali mengambil contoh jauh-jauh. Saya hampir selalu membantahnya dengan pengalaman diri saya sendiri.

Iklan

Ya, saya wanita berjilbab yang menjalani aktivitas sehari-hari dengan setelan rok atau gamis. Saya sama sekali merasa tak terganggu dengan gaya berpakaian saya saat menjalani hobi mountaineering yang pernah saya geluti.

Kalau hanya sekadar naik gunung pake rok sih itu sudah biasa banget buat saya. Soal resiko keserimpet, jatuh, kejedot, atau rempong mah bukan hanya dialami oleh yang pakai rok, yang ke gunung pake leging atau short pants juga pasti mengalami. Dan semua resiko tersebut bisa diminimalisir dengan teknik dan skill.

Olah bisa karena biasa.

Saya terbiasa bergerak dengan rok. Maka saya tahu celah dan peluangnya. Saya hapal diri dengan gaya saya sendiri sehingga saya merasa nyaman, aman dan merdeka. Gerah dan berkeringat? Memangnya di dunia ini siapa yang belum pernah merasa gerah terus keringatan?

Tahun 2000-an, saat jalur pendakian Gunung Gede-Pangrango belum serapih, semulus dan semudah sekarang. Saya pernah mendaki Gunung Gede lewat jalur Gunung Putri hanya dalam tempo 4 jam untuk sampai ke puncak. Dan saya hanya butuh waktu 1 jam 40 menit untuk turun lewat jalur Cibodas.

Coba kamu, temanmu atau murid ideologismu kalahkan rekor itu baru kita bicara tentang hubungan kebebasan beraktivitas dengan gaya berpakaian seseorang!

Oh, iya. Dengan baju gombrong, jilbab lebar dan rok panjang gaya A-line saya juga pernah dapat penghargaan sebagai fasilitator outbound terbaik. Waktu itu kompetisi diikuti oleh perkumpulan guru dari 5 sekolah alam yang sebelumnya mengikuti pelatihan pengajaran.

Kompetisi yang cukup mudah untuk saya. Hanya high impact outbound berupa rappeling, heli, flying fox, jumping-jumpingan apalah, manjat ini, manjat itu, lompat sana-sini sampai terjun dari tempat tinggi. Biasa banget!

Nggak mungkin menang dan jadi yang terbaik dunk kalo waktu itu saya terhambat oleh pakaian yang saya kenakan.

Apalagi kalau cuman sekadar mengkoordinir aksi demonstrasi, membuat teaterikal dan atraksi atau berorasi sampai berantem sama p****i. Hari-hari kuliah saya hampir selalu diwarnai dengan aktivitas ini. Biasa ajah. Tak satupun yang merendahkan dan meremehkan kapasitas diri saya meski saya seorang perempuan berjilbab lebar dengan baju besar dan rok panjang.

Apakah saya seorang yang seperti ini?

Oh, tentu tidak Munaroh!

Sesekali kamu bisa tengok perkumpulan para penggiat alam bebas. Pemandangan ukhti-ukhti berpenampilan seperti saya itu sudah menjadi hal lumrah di kalangan para pecinta dan penjelajah alam.

Atau bolehlah kamu tengok pelatihan kepemimpinan bernama Santika milik salah satu partai yang beraliran agamis.

Para perempuan berjilbab besar anggun yang sekilas kamu lihat jalannya pelan, perilakunya manis, suaranya lembut, dan gerakannya kemayu lantas jadinya kamu pikir mereka lelet dan tidak bisa apa-apa itu bisa tiba-tiba bertransformasi mengalahkan peran Gal Gadot saat bertemu tali, tebing ataupun maling. Hahaha.

Monggo disiapin obat kagetnya, Kakak!

Iklan

Bukan saja di dunia nyata, di frenlis facebook saya pun bertengger sederetan perempuan berjilbab yang kapasitas dan kualitas dirinya jauh melampaui saya.

Ada Ika Yudha, seorang perempuan berjilbab yang mendirikan Bank Sampah di kota tempat tinggalnya, Semarang. Sehingga seringkali namanya wara-wiri di media saat orang butuh narsum untuk berbicara perihal lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat.

Bahkan di masa pandemik ini beliau aktif bergerak menggalang dan menyalurkan donasi bersama LAZISMU Jateng dalam program “Gotong Sesarengan” untuk para kirban terdampak Covid.

Ada Maajidah Ubayeed. Gamis’er yang jago bikin kue, minuman kesehatan dan masakan apa saja sehingga didaulat menjadi guru masak sejuta emak di berbagai koya.

Beliau sukses menggelar kursus masak online berbayar beberapa sesi yang pesertanya ratusan orang. Beliau pun mendirikan komunitas penjual makanan dan minuman yang berasal dari resepnya di berbagai kota.

Hebatnya, komunitas tersebut menggalang sedekah dari setiap keuntungan dagang yang diperoleh untuk kegiatan kemanusiaan. Melihat himpunan sedekah mereka itu lohhhh, bikin minder dan iri.

Ada Sri Vira Chandra, seorang guru tahsin yang juga penggiat kemanusiaan. Beliau salah satu founder lembaga kemanusiaan yang fokus dengan kepeduli an terhadap korban konflik luar negeri. Terutama di Palestina dan Syria. Beliau juga menjadikan rumahnya untuk tempat belajar tahsin dan tahfiz para remaja dan ibu rumah tangga.

Ada Asri Pujihastuti. Seorang guru yang sukses membuat buku diktat yang dipakai oleh sekolah-sekolah di kotanya. Beliau bukan hanya pandai mengajar, namun juga jago betnyanyi, bermain alat musik, menari dan berseni peran.

Ada Era Yustika. Seorang notaris sukses dari Klaten yang membangun kariernya dari bawah hingga menanjak. Berhasil membangun rumah sendiri dan memiliki kantor sendiri dan berhasil membuka lapangan kerja bagi orang lain.

Ada juga beberapa perempuan penjual online yang membuat produknya sendiri dan memiliki ratusan reseller. Salah satunya pengrajin tas bernama Imami Nur Afiati yang tas buatannya sudah menembus pasar luar negeri.

Ada juga penggiat kemanusiaan yang sering turun langsung berjibaku di medan bencana menyalurkan bantuan atau melakukan penyelamatan. Erna Herawaty, Yanti dan Cindy Cirilla adalah tiga dari sekian banyak sosok yang ada.

Dan ada banyak lagi profesi yang digeluti oleh perempuan-perempuan berjilbab lainnya dan mereka mendulang sukses dan decak kagum dari yang menyaksikan. Tentu saya tidak bisa menyebutkan mereka satu per satu. Masyaallah.

Setiap orang punya hak, pilihan dan pertimbangan sendiri bagaimana cara ia menjalani hidup dan berkarya dalam hidup. Termasuk dalam hal pakaian apa yang mereka kenakan dalam menggapai kesuksesan hidupnya.

Jadi, jika auratmu kamu anggap sebagai urusanmu, maka biarlah jilbab kami menjadi urusan kami. Kamu tak perlu repot mengurusi kami karena kami punya cara sendiri mengurus diri kami sendiri.

Dan perempuan yang hidup dengan pilihannya sendiri dan siap menjalani risiko serta mempertanggungjawabkannya adalah perempuan yang merdeka.

BACA JUGA Kerudung Saya Panjang, Suami Saya Jenggotan, dan Kami Bukan Islam Radikal atau tulisan Herawati Aisha Rara lainnya.

Terakhir diperbarui pada 30 Januari 2021 oleh

Tags: auratJilbabjilbab lebarkerudung
Herawati Aisha Rara

Herawati Aisha Rara

Artikel Terkait

‘Katanya Pancasila, Tapi Pakai Jilbab Saja Tak Boleh’ - Cerita Pekerja Jakarta yang Dipecat Gara-gara Tak Mau Melepas Hijab.MOJOK.CO

‘Katanya Pancasila, Tapi Pakai Jilbab Saja Tak Boleh’ – Cerita Pekerja Jakarta yang Dipecat Gara-gara Tak Mau Melepas Hijab

21 Januari 2025
Paskibraka Lepas Hijab Wujud Tidak Merdeka di Hari Kemerdekaan MOJOK.CO

Aturan Paskibraka Lepas Hijab Adalah Blunder Paling Bodoh. Paskibraka Tidak Merdeka di Tengah Peringatan Kemerdekaan Itu Sendiri

15 Agustus 2024
Orde Baru Larang Jilbab, Cak Nun Lawan dengan Lautan Jilbab

Orde Baru Larang Jilbab, Cak Nun Lawan dengan Lautan Jilbab

30 Juli 2024
Apakah Konten Oral Es Krim Oklin Fia Menista Islam? MOJOK.CO

Apakah Kita Harus Tersinggung dengan Oklin Fia dan Menganggapnya sebagai Penista Agama Islam?

8 Agustus 2023
Sekolah yang didirikan Amien Rais tidak mewajibkan siswinya menggunakan jilbab

5 Fakta SMA BMD Jogja, Sekolah Islam yang Tak Wajibkan Siswinya Menggunakan Jilbab

24 Agustus 2022
ibu dua anak, SMA Internasional Budi Mulia Dua, sekolah islam yang tidak mewajibkan siswinya berjilbab.

Mengunjungi SMA Budi Mulia Dua, Sekolah Islam di Jogja yang Tidak Mewajibkan Siswinya Berjilbab

23 Agustus 2022
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026
Ide bisnis sewa HP flagship, ide aneh raup omzet 20 juta per bulan MOJOK.CO

Ide bisnis sewa HP flagship ternyata begitu menguntungkan, modal 3 HP bisa raup omzet 20 juta per bulan

20 Agustus 2026
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)sebagaimana terjadi di Kalimantan tidak bisa direduksi sekadar memadamkan api, ada gambut yang rusak MOJOK.CO

Karhutla Terus Berulang karena Pihak Berwenang Cukup Puas Padamkan Api, Akar Masalah Tereduksi

24 Agustus 2026
Shifana, pemain Timnas U-16 Indonesia dibayangi pemain Yordania, Alma Odai di pertandingan semifinal Srikandi Merdeka Cup 2026. Indonesia menang dengan skor 3-0 di laga semifinal, Jumat (21/8).

Timnas Putri U-16 Indonesia Bungkam Yordania 3-0, Thailand Menanti di Final Srikandi Merdeka Cup

22 Agustus 2026
Sikap-sikap sederhana ke pelayan rumah makan atau restoran yang seharusnya jadi kewajaran MOJOK.CO

Sikap-sikap Sederhana ke Pelayan Rumah Makan atau Restoran yang Kita Abaikan karena Ego, Padahal Bermakna Memanusiakan

20 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.