[MOJOK.CO] “Teknik marketing hijab Rabbani bisa ditiru. Bikin skandal supaya mereknya terkenal.”

Assalamualaikum, Teh, eh, Ukhti Rina.

Mungkin saat ini Ukhti sedang punya masalah yang cukup getir. Di tengah gaduh dunia membicarakan lepasnya hijabmu dengan penuh kebencian, sebuah brand hijab kenamaan dengan baiknya memberimu tawaran luar biasa untuk bebas memilih produknya, gratis! Bahkan mereka yang memiliki nama sepertimu ikut mendapat berkah diskon 50% all items.

Dapat Rabbani gratis sepuasnya, siapa sih yang menolak rezeki ini, Ukh? Tapi, sejauh pantauan saya di media sosial, sampai saat ini Ukhti belum mendatangi gerai Rabbani mana pun untuk menyambut niat baik itu. Mungkin Ukhti yang artis merasa biasa saja dengan tawaran itu. Sedangkan buat hijaber jelata seperti saya, promosi seperti itu sungguh sayang untuk dilewatkan. Apalagi kalau harus melewatkannya hanya karena tidak bernama Rina. Hiks.

Bukan maksud mencampuri urusanmu, Ukh. Sebagai saudari seiman, sebagai muslimah, izinkan saya memberimu solusi.

Mungkinkah Ukhti merasa kurang trendi dengan hijab yang beberapa waktu lalu Ukhti kenakan?

Saya tidak percaya. Bahkan sejujurnya, saya baru mengikuti akun Instagram @rinanose16 setelah Ukhti berhijab. Tentu dalam rangka mencari inspirasi OOTD dari Ukhti yang begitu pandai memadupadankan palet warna dan aneka busana hijab classy casual.

Apakah bahan hijab Ukhti tak nyaman?

Lagi-lagi saya tidak percaya. Ayu Dyah Andari, Rani Hatta, Restu Anggraini, Hannie Hananto, Zaskia Sungkar adalah beberapa desainer kenamaan yang produknya sering berseliweran di OOTD Ukhti. Sebagai newbie desainer pun saya paham material yang mereka gunakan selain terkenal adem, beberapa bahkan dibuat secara handmade.

Apakah hijab Ukhti saat dicuci luntur?

Waduh, ini sebenarnya tim pemasaran Rabbani ngomongin hijab yang mana sih? Secara nih ya, soal bahan saja Restu Anggraini itu kerja samanya dengan perusahaan Jepang yang proses produksi materialnya nggak cuma canggih secara teknologi, tapi juga ramah lingkungan. Lho, apa hubungannya? It’s way too sophisticated buat ngurusin warna luntur dari produksi mereka, Ukhti.

Baca juga:  Hidung Rina Nose dan Tubuh Perempuan Lainnya Bukan Urusan Kalian

Apakah harganya kemahalan?

Dengan deskripsi di atas? Sudah pasti mahal. Tapi, kemahalan? Ah nggak juga, apalagi beberapa hijab yang Ukhti pakai diunggah dengan sistem partnership ala endorsement.

Ukhtiku, Rina sayang.

Saya tidak mau sok tahu tentang alasan di balik Ukhti melepas hijab. Tapi, tolong ya, Ukhti, jangan abaikan tawaran baik Rabbani. Ukhti mungkin kzl dengan tindakan sok tim riset mereka yang ketahuan tidak pernah stalking fesyen hijabmu. Tapi, plis, Ukhti, janganlah engkau berburuk sangka pada sang profesor jilbab. Promo #RabbaniGratisUntukRinaNose itu sebenarnya lamaran tidak langsung mereka agar Ukhti bersedia menjadi brand ambassador terbaru Rabbani. Lantas, kenapa mereka tidak ngomong langsung?

Hem, tahu sendiri kan, selama ini kelas endorsement Ukhti adalah merek-merek yang biasa muncul di pagelaran fesyen nasional sampai internasional itu. Siapalah Rabbani untuk dilirik Ukhti? Jadi harap Ukhti maklum dengan usaha caper pendekatan ukhuwah ini.

Jangan pula Ukhti berpikir strategi pemasaran mereka begitu murahan karena menggoreng isu fenomenal hanya demi mengejar kapital. Sama sekali bukan seperti itu, Ukh. Masa sih pelopor Gerakan Indonesia Berkerudung hanya becus mengurus jenis kain dan tidak paham mengenai pergolakan ideologi seseorang?

Jika Ukhti masih ragu menerima tawaran ambassador ini karena sekarang Ukhti tidak berjilbab, mungkin Ukhti perlu belajar dari Ukhti Ciki. Dia juga tidak berjilbab, tapi dengan bangga menjadi brand ambassador hijab dan masih leluasa mengunggah foto dengan mini pants unyu di Instagram. Tapi, kenapa dia bisa tidak di-bully? Ya bisaaa, asal Ukhti macak kalem, nggak baperan, dan take it profesionally, not ideologically.

Dengan menjadi ambassador Rabbani, peluang kebaikan buat Ukhti juga makin luas. Kehadiran Ukhti yang menyambut jalinan ukhuwah Rabbani akan menyatukan ikhwah proRina dan proRabbani. Dengan 9,6 juta pengikut Instagram Ukhti (jumlah yang jauh lebih banyak dari pengikut akun ambassador Rabbani–apalagi Rabbani sendiri–saat ini), bayangkan peluang umat yang akan tercerahkan dengan membeli produk Rabbani. Semakin laris Rabbani, semakin sejahtera para pekerja dan keluarganya. Sungguh amal jariyah yang tak putus untuk Ukhti.

Baca juga:  Sebab Perempuan Butuh Kecerdasan, Bukan Label, Titik!

Apalagi Ukhti bisa jadi fashion advisor mereka dan bikin pembaruan desain yang fresh tapi nggak norak. Oh sungguh, sebagai mantan fans Rabbani saya sangat merindukan desain simpel elegannya di masa lalu. Kalaupun mau bikin jilbab berdasi atau berkerah lagi, saya yakin selera Ukhti akan jauh lebih sip–setidaknya dari portofolio hijab Ukhti yang sekalipun sebentar, tapi berkesan.

Kalau ternyata Rabbani tidak mengangkat Ukhti sebagai ambassador produknya, kesempatan memilih dan mengambil produk Rabbani gratis sepuasnya itu tolong jangan dilewatkan begitu saja. Sekalipun secara ekonomi Ukhti tidak memerlukannya, sesungguhnya ini ladang pahala buat Ukhti.

Betapa Ukhti mungkin tidak tahu, banyak saudari muslimah kita di Suriah dan Palestina yang membutuhkan jilbab trendi berbahan nyaman untuk menjaga izzah mereka di zona perang. Masak mereka harus menunggu wilayahnya diserang baru bisa dapat jilbab gratis? Itu pun barang sortiran promo sekian persen profit yang tidak bisa mereka pilih sesukanya.

Apabila paket ke Timur Tengah dirasa sudah terlalu mainstream, Ukhti bisa memberikan Rabbani gratisan itu sebagai hadiah untuk fans garis keras al-ustadz yang baru-baru ini jadi (makin) hits karena membahas hidung Ukhti. Sebagaimana Rabbani yang ingin membuka ukhuwah denganmu, lakukanlah hal yang sama pada mereka, Ukh. Sebab, sebenarnya bukan mereka keras hati apalagi membenci Ukhti. Mereka hanya belum berkesempatan memiliki jilbab Rabbani yang kenyamanannya membuat hati tenang seperti segarnya air dingin di tengah padang pasir.

Nah, dengan menimbang sejuta manfaat melebihi mudharat yang ada, kapan kita ke Rabbani, Ukhtiku sayang?

Komentar
Kirim Artikel
No more articles