MOJOK.CO – Wisuda TK adalah scam sosial terbesar abad ini. Bukannya membahagian anak-anak, ini adalah wujud ego dari komite sekolah dan orang tua.
Bunyi notifikasi WhatsApp di grup “Wali Murid TK Matahari Terbit” pagi itu terdengar seperti vonis hakim di pengadilan tindak pidana korupsi: tegas, menakutkan, dan bikin lutut lemas.
Bukan, ini bukan kabar soal anak saya yang berkelahi rebutan mainan perosotan. Ini soal surat edaran keramat yang judulnya ditulis dengan huruf kapital tebal: PEMBERITAHUAN KEGIATAN PELEPASAN SISWA (WISUDA) TAHUN AJARAN 2025/2026.
Dengan jantung berdebar kencang—lebih kencang daripada saat memergoki suami nge-like foto mantan—saya menggulir layar ke bawah, langsung mencari angka nominal di pojok kanan bawah.
Deg.
Satu juta lima ratus ribu rupiah.
Saya ulangi biar lebih dramatis: Satu. Juta. Lima. Ratus. Ribu. Rupiah.
Angka itu tertera dengan santainya, seolah-olah kami para orang tua ini punya pohon uang di halaman belakang rumah yang tinggal digoyang sedikit langsung rontok lembaran merahnya.
Rinciannya pun ditulis dengan bahasa birokrasi yang “memaksa secara halus”: Sewa Gedung Hotel (harus bintang tiga ke atas biar estetik), Sewa Toga Lengkap, Paket Foto, Konsumsi Prasmanan, Plakat Akrilik, dan Goodie Bag Kenang-kenangan.
Seketika, darah mendidih naik ke ubun-ubun. Saya menatap anak lanang saya yang sedang asyik ngupil sambil nonton kartun di ruang tengah. Anak ini, yang baca “Budi” saja masih dieja “B-u-Bu, d-i-di”, mau dipakaikan toga sarjana?
Wisuda TK rasa sarjana, scam sosial terbesar abad ini
Duh, Gusti. Sejak kapan dunia pendidikan usia dini kita berubah menjadi industri event organizer yang memeras keringat orang tua?
Mari kita bicara dari hati ke hati, sesama emak-emak yang pusing mengatur uang belanja. Fenomena “Wisuda TK Rasa Sarjana” ini adalah salah satu scam (penipuan) sosial terbesar di abad ini. Dan anehnya, kita semua seolah terhipnotis untuk mengamininya dengan alasan klise: “Demi kenang-kenangan anak, Bun. Kan cuma sekali seumur hidup.”
Pret.
Mari kita bedah satu per satu kegilaan ini.
Pertama, soal kostum toga. Dalam sejarah akademik, toga itu sakral. Ia adalah simbol perjuangan intelektual. Orang pakai toga setelah begadang mengerjakan skripsi, direvisi dosen pembimbing yang moody, dan melewati sidang yang bikin mulas. Toga adalah penanda bahwa seseorang telah mencapai tingkat kematangan berpikir tertentu.
Lha ini? Anak TK? Mereka baru saja lulus dari tahap “belajar tidak makan krayon” dan “belajar antre cuci tangan”. Mereka juga kadang masih ngompol di celana.
Prestasi terbesarnya adalah berhasil menghafal doa makan dan menyanyikan lagu “Balonku” tanpa fals. Apakah pencapaian ini perlu dirayakan dengan kostum yang sama dengan mereka yang lulus S1 Hukum atau Jurusan Kedokteran?
Melihat bocah-bocah lima tahun ini “tenggelam” dalam jubah hitam kebesaran, topi segi lima yang miring sana-sini, rasanya bukan bangga, tapi komedi satir. Mereka lebih mirip menteri-menteri kecil yang terjebak dalam ambisi orang tuanya daripada seorang wisudawan.
Kedua, soal lokasi. Kenapa harus di hotel ballroom? Apa salahnya aula sekolah? Atau kalau sekolahnya kecil, kenapa tidak di halaman saja pasang tenda?
Alasannya selalu: “Biar nyaman, Bun. Biar adem AC-nya.”
Nyaman apanya? Anak-anak itu, namanya juga balita, mana betah duduk diam mendengarkan sambutan ketua yayasan yang panjangnya ngalahin pidato kenegaraan.
Lima menit pertama mereka duduk manis. Menit kesepuluh, mereka mulai gelisah. Menit kedua puluh, satu per satu mulai lari-larian di karpet ballroom, ada yang nangis minta susu, ada yang tantrum guling-guling karena topinya gatal.
Kompetisi terselubung orang tua saat wisuda TK
Sementara itu, di barisan orang tua, para Ibu sibuk dengan kompetisi terselubung. Ini bagian paling mengerikan. Wisuda TK bukan lagi soal anak, tapi soal ajang pamer outfit emaknya.
Grup WhatsApp wali murid berubah menjadi medan perang dingin. “Jeng, nanti dresscode-nya kebaya modern nuansa sage green ya. MUA-nya aku udah booking yang biasa megang artis lho.”
Gila. Wisuda anak TK tapi persiapan ibunya ngalahin mau akad nikah. Salon penuh sejak subuh. Bau hairspray dan bedak bayi bercampur aduk menciptakan aroma kompetisi yang menyengat.
Biaya 1,5 juta tadi belum termasuk biaya kebaya ibu, batik bapak, dan makeup. Kalau ditotal, pengeluaran hari itu bisa buat bayar SPP masuk SD tiga bulan ke depan. Tapi demi apa? Demi Instastory 15 detik dengan caption: “Proud of you, Kakak! Lancar terus pendidikannya ya Nak!”
Padahal anaknya di foto itu mukanya cemberut, bedaknya luntur kena keringat dan ingus, sambil memegang selongsong ijazah kosong yang isinya cuma kertas HVS digulung pita.
Pemaksaan struktural dengan alasan jangan pelit buat anak
Ketiga, dan ini yang paling bikin saya elus dada: Pemaksaan secara struktural.
Coba saja ada orang tua yang berani protes di grup WA. “Maaf Bu Guru, kok mahal sekali ya? Apa tidak bisa disederhanakan?”
Wah, siap-siap saja. Ibu itu akan langsung di-bully secara halus oleh “Ibu-Ibu Komite” yang biasanya kaya raya dan gabut.
“Aduh Bunda, jangan pelit dong buat anak. Ini kan momen langka. Kita pengen yang terbaik buat anak-anak kita. Kalau Bunda keberatan, bilang aja, nanti kita cari solusi (baca: subsidi silang dengan tatapan merendahkan).”
Kalimat “jangan pelit buat anak” adalah senjata pemusnah massal yang membungkam logika ekonomi rumah tangga. Padahal, bijak mengelola uang itu juga demi masa depan anak.
‘Uang 1,5 juta itu kalau dibelikan emas antam gram-graman, disimpan sampai anak kuliah, nilainya akan jauh lebih berharga daripada foto toga yang ujung-ujungnya cuma numpuk di lemari, dimakan rayap, atau ketelisut di gudang.
Saya berani taruhan, coba tanya anak-anak itu 10 atau 20 tahun lagi. “Nak, kamu ingat nggak waktu wisuda TK dulu di Hotel Bintang Lima?”
Mereka pasti geleng kepala. Yang mereka ingat dari masa TK adalah main perosotan, main ayunan, atau momen berebut bekal nuget sama temannya.
Mereka tidak akan ingat kemewahan ballroom itu. Memori balita itu selektif, dan kemewahan artifisial bukanlah prioritas hard disk otak mereka.
Anak-anak yang jadi properti hidup
Jadi, sebenarnya acara megah ini buat siapa? Buat anak? Jelas bukan. Ini buat kita. Buat ego orang tua.
Buat validasi sekolah agar terlihat bonafide di mata calon murid baru. Buat konten media sosial agar terlihat “mampu” dan “peduli pendidikan”.
Anak-anak itu dijadikan properti hidup. Didandani, dipajang, disuruh senyum paksa, demi kepuasan batin orang dewasa di sekitarnya.
Saya merindukan masa lalu yang sederhana. Pelepasan TK cukup pentas seni di halaman sekolah. Anak-anak menari tarian daerah dengan kostum sewaan murah meriah, nyanyi lagu “Terima Kasih Guruku”, lalu makan nasi kotak bareng-bareng. Pulangnya dapat buku laporan perkembangan anak. Selesai.
Itu lebih memorable. Lebih hangat. Dan yang paling penting: Tidak bikin Bapaknya harus lembur ojek online atau Ibunya harus bongkar tabungan panci demi bayar iuran.
Normalisasikan wisuda TK itu sederhana
Ayolah, wahai para pemangku kebijakan sekolah dan Ibu-ibu Komite yang terhormat. Normalisasikan kembali kesederhanaan. Jangan ajarkan budaya hedonisme sejak dini. Jangan ajarkan bahwa kelulusan itu identik dengan pesta pora dan buang-buang uang.
Biarkan anak-anak kita merayakan kelulusan sesuai usianya: dengan bermain lari-larian, tertawa lepas tanpa takut bedaknya luntur, dan makan es krim sampai belepotan. Bukan duduk kaku mendengarkan pidato membosankan dengan kostum yang membuat mereka gerah.
Toh, perjalanan mereka masih panjang. Masih ada SD, SMP, SMA, Kuliah. Akan ada banyak wisuda-wisuda lain yang biayanya jauh lebih mencekik leher. Simpan tenaga (dan uang) kita untuk pertarungan yang sesungguhnya nanti.
Untuk saat ini, izinkan saya menatap nanar surat edaran 1,5 juta rupiah itu. Saya akan membayarnya, tentu saja. Karena saya, seperti mayoritas ibu-ibu lain di negeri ini, tidak punya nyali untuk menjadi “beda” dan dikucilkan di grup WhatsApp.
Saya akan membayarnya sambil menggerutu dalam hati dan berdoa semoga kelak anak saya jadi sarjana beneran, yang toganya bukan sekadar kostum sewaan.
Sekian. Saya mau lanjut ngupas bawang. Siapa tahu pedihnya di mata bisa menyamarkan pedihnya di dompet.
Penulis: Fauzia Sholicha
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Sebagai Guru, Saya Sepakat dengan Dedi Mulyadi, Wisuda Sekolah Dihapus Saja, Ribet dan Banyak Masalah! dan artikel lainnya di rubrik ESAI.dan artikel lainnya di rubrik ESAI.














