MOJOK.CO – Di Aceh, kalau rezeki belum datang, mungkin Anda belum sempat diajak ngopi. Soalnya, banyak urusan justru beres di warung kopi.
Bukan tanpa alasan Aceh dijuluki “Negeri 1.000 Kedai Kopi”. Di sini, kopi bukan sekadar minuman. Ia adalah alasan untuk bertemu, berdiskusi, menjalin relasi, bahkan membuka pintu rezeki.
Ada semacam keyakinan tak tertulis di kalangan masyarakat Aceh: Menolak ajakan untuk ngopi bareng, dipercaya sama dengan menolak rezeki. Karena menolak ngopi sama dengan menolak silaturahmi.
Romantis orang Aceh yang sederhana, duduk berdua di warung kopi
Seorang teman pernah berucap, “kereta besar terkadang hanya datang satu atau dua kali dalam hidup sobat, pastikan kamu naik walaupun merasa belum siap,” ia menambahkan, “dan salah satu kereta itu terkadang muncul dari satu ajakan Ayo, ngopi sobat!”
Awalnya saya menganggap itu hanya gombalan khas anak warung kopi. Sampai akhirnya saya sadar, banyak urusan memang selesai di sana.
Teman saya yang lain pernah mengunggah foto tangan suaminya yang sedang dipasangi infus. Di bawahnya ia menulis, “Bagah puleh abang lon sayang, nak jeut ta jak jep kupi lom.” Artinya, “Cepat sembuh, Bang, biar kita bisa pergi ngopi lagi.”
Romantis versi orang Aceh rupanya sederhana. Bukan makan malam di restoran mahal atau liburan ke luar kota, melainkan bisa kembali duduk berdua di warung kopi.
Dari dua cerita itu saya makin percaya bahwa hampir semua persoalan orang Aceh punya peluang diselesaikan di warung kopi. Mulai urusan bisnis, pekerjaan, kuliah, politik, hingga sekadar bertukar kabar dengan keluarga dan sahabat.
Sampai-sampai momen ngopi bisa dijadikan sebagai motivasi agar seseorang bisa kembali sehat. Ini menandakan betapa budaya ngopi merupakan momen yang menyenangkan dan ditunggu-ditunggu bagi masyarakat Aceh itu sendiri.
Bukan budaya baru, minum kopi hanya setengah gelas, ngomongnya sampai luar negeri
Budaya minum kopi di Aceh bukanlah tren yang baru muncul setelah coffee shop menjamur. Tradisi itu sudah hidup jauh sebelum Indonesia berdiri.
Salah satu kisah yang sering dikutip adalah ucapan terakhir Teuku Umar sebelum pertempuran di Meulaboh pada 11 Februari 1899.
“Beungoh singoh geutanyoe jeip kuphi di keude Meulaboh atawa ulon akan syahid.”
Artinya, “Besok pagi kita akan minum kopi di pasar Meulaboh atau saya akan syahid.”
Kutipan itu menunjukkan betapa kopi telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Aceh sejak lama.
Bahkan orang cara memesan kopi pun punya budaya tersendiri. Orang Aceh mengenal istilah Bi Kupi Pancong Saboh, yang berarti “Buatkan saya satu kopi pancong.”
Yang datang memang hanya setengah gelas. Namun jangan salah, bubuk kopinya tetap satu takaran penuh. Hasilnya adalah kopi yang kental dan pekat, aromanya kuat, dan cukup untuk membuat mata melek berjam-jam.
Ada pula ungkapan yang tak kalah menarik: Kupi Sikhan Glah, Peh Bereukah Lua Nanggroe. Kurang lebih artinya, “Minum kopi hanya setengah gelas, tetapi obrolannya sampai ke luar negeri.”
Ungkapan itu terasa sangat masuk akal. Di warung kopi, orang Aceh bisa membeli kopi lima ribu rupiah, lalu mengobrol lima jam bahkan ada yang sampai menginap di sana.
Wajah warung kopi Aceh yang berubah
Meski tradisinya tetap sama, wajah warung kopi di Aceh terus berubah. Dulu, warung kopi identik dengan meja kayu, bangku plastik, kipas angin yang berputar malas-malasan, dan televisi sebagai hiburan.
Sekarang banyak yang tampil dalam bentuk bangunan luas nan tinggi. Mejanya dari granit, sedang kursinya pakai sofa empuk atau kursi dari logam besi.
Hampir semua tanah lapang yang dulu nya kosong sudah menjelma menjadi warkop-warkop modern dengan tambahan label premium di belakang namanya.
Perubahan itu juga mengubah siapa yang datang ke warung kopi. Kalau dulu yang datang identik dengan bapak-bapak paruh baya, sekarang mahasiswa mengerjakan tugas di sana, ibu-ibu menggelar arisan dan reunian dengan teman-teman SMA-nya.
Perubahan terus berlanjut, dari awalnya hanya TV yang dijadikan sarana hiburan di warung kopi, warkop mulai berbenah dengan menyediakan layanan WiFi untuk konsumennya.
Bahasa memesan kopi pun ikut berevolusi.
Dulu cukup berkata, “Bi kupi pancong saboh” atau Bu kupi sikhan glah” sekarang berubah menjadi menjadi, “Kak, americano satu, ya.” Atau tiba-tiba menjadi anak bilingual kopi seperti, “Bro, manual brew no sugar, ya!” padahal sudah jelas-jelas minuman ini memang tak pakai gula.
Penampilan boleh modern, tapi warung kopi Aceh tetaplah jadi ruang bersama
Fenomena ini bahkan pernah diteliti. Ade Ikhsan (2019) menyebut bahwa kopi di Banda Aceh bukan lagi sekadar minuman, melainkan bagian dari identitas masyarakat. Dari sebuah tradisi, ngopi perlahan berkembang menjadi gaya hidup.
Saya sendiri mengalaminya. Saat menyusun tesis S-2, saya berkali-kali meminta jadwal bimbingan kepada dosen. Alih-alih mengajak bertemu di kampus, beliau justru berkali-kali mengirim share location warung kopi.
Bahkan beberapa pertemuan kuliah juga berlangsung di sana. Di Aceh, rupanya ruang akademik tidak selalu bernama kampus seperti paradigma lama.
Meski tampil semakin modern, saya merasa satu hal tidak pernah berubah: warung kopi tetap menjadi ruang bersama. Perubahan yang terjadi dalam budaya ngopi di Aceh bukanlah sesuatu yang harus ditolak, melainkan dipahami sebagai bagian dari dinamika zaman.
Modernisasi menghadirkan kenyamanan, variasi, dan identitas baru dalam menikmati kopi. Namun, di balik segala perubahan itu, esensi dari warung kopi sebagai ruang silaturahmi, diskusi, dan pertukaran gagasan tetap menjadi ruh yang tidak boleh hilang.
Melihat beragam segmentasi pasar dan diferensiasi konsep yang berkembang, warung kopi di Aceh saat ini tidak lagi menjadi ruang yang seragam, melainkan telah bertransformasi menjadi ruang sosial yang dinamis dan adaptif.
Dari kedai minimalis yang cozy hingga konsep hybrid yang memadukan coffee shop dengan ruang kerja dan literasi. Semuanya menunjukkan kemampuan warung kopi Aceh dalam menjawab kebutuhan masyarakat modern. Tanpa sepenuhnya melepaskan nilai-nilai tradisional yang telah lama mengakar.
Esensi yang selalu dijaga masyarakat Aceh
Meski demikian, ada satu hal yang tetap membekas dalam pikiran saya. Bahwa di tengah berkembangnya konsep dan meningkatnya nilai komersial, esensi budaya ngopi untuk menciptakan budaya kebersamaan dan bahu membahu tetap menjadi hal yang selalu dijaga oleh masyarakat Aceh.
Hal itu paling terasa ketika banjir besar melanda sejumlah wilayah Aceh pada Desember lalu. Saat listrik padam hampir di seluruh daerah, warung kopi mendadak berubah fungsi menjadi posko darurat tidak resmi.
Orang datang bukan semata-mata untuk minum kopi. Melainkan nge-war jaringan internet, rebutan colokan listrik demi mengisi daya ponsel, senter hingga kipas angin portable. Dan yang paling gong nya para ibu-ibu sampai membawa blender guna menggiling cabe, bawang, tomat dan bumbu masakan lainnya di sana.
Dalam situasi seperti itu, secangkir kopi mungkin bukan lagi kebutuhan utama, tetapi warung kopi kembali menunjukkan perannya sebagai pusat kehidupan sosial masyarakat Aceh: tempat orang mencari kabar, berbagi cerita, dan saling menguatkan di tengah bencana.
Maka, mungkin benar apa yang sering dikatakan: di Aceh, secangkir kopi bukan sekadar minuman, melainkan jembatan kehidupan. Dari obrolan ringan hingga keputusan besar, dari canda tawa hingga harapan yang disemai, semuanya bermula dari satu meja di warung kopi.
Dan selama tradisi itu masih dijaga, “Negeri 1.000 Kedai Kopi” akan selalu punya cerita yang tak pernah habis untuk diseduh dan dibagikan.
Penulis: Nada Tursina
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Harga Kopi dan Ketakutan Dosen Bergelar Doktor pada Portal Error Menjelang Deadline dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.
