Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Vaksinasi Jadi Syarat Masuk Mal Harusnya Diterapkan Juga untuk Mantan Pelaku Korupsi

Kalau saja ada sistem deteksi koruptor layaknya deteksi status vaksin dan tes covid di PeduliLindungi.

Prima Ardiansah oleh Prima Ardiansah
17 September 2021
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Syarat masuk mal harus vaksinasi itu ide brilian sih. Lebih brilian lagi kalau itu dikembangkan ke pelaku korupsi. Kapan lagi kita bisa tahu koruptor diumumin di mal?

Suatu ketika pada 2035, Pak Juliari Batubara bersama istri dan dua anaknya sedang semringah jalan-jalan ke Surabaya. Hari itu Galaxy Mall adalah tujuan utama keluarga kecil mereka. Biasa, shopping habisin uang halal.

Iklan

Seperti pengunjung lain, Pak Juliari dan satu keluarga harus scan barcode untuk memastikan status vaksinasi dan tes Covid mereka aman.

Tak dinyana tak disangka, speaker di alat scan itu berbunyi.

“Selamat malam Pak Juliari, selamat Anda bebas covid, selamat Anda sudah vaksin. Tapi Anda sejatinya tidak selamat, karena pada masa lalu Anda adalah seorang koruptor. Jangan diulangi lagi ya Pak!”

Muka Pak Juliari memerah, dia malu semalu-malunya. Semua orang yang mengantre di belakang dan beberapa di depannya terkejut. Mereka langsung memandang dengan cermat siapa sosok yang sampai bikin alat scan membunyikan speaker-nya.

“Oh, jancok, ternyata si Juliari!” teriak seorang pengunjung lain yang kebetulan lewat. Anak-anak Pak Juliari pun bersembunyi malu di belakang punggung ibunya.

Kamu tak perlu buru-buru mengecek berita seperti itu di mesin pencari. Itu tadi hanya simulasi atau kemungkinan yang saya bayangkan terjadi di masa depan kalau Indonesia berani menerapkan deteksi koruptor layaknya deteksi status vaksin dan tes covid di PeduliLindungi.

Memang kalau dipikir-pikir lebih dalam. Kita ini tidak cocok kalau diberi kebijakan yang hasilnya gaib alias tidak kasat mata. Sesuatu yang sifatnya abstrak itu nggak cocok babar blas. Mau itu soal pemberantasan korupsi atau soal kebijakan vaksinasi.

Walaupun bibir nakes dan pemangku jabatan sudah nyonyor gara-gara kasih tahu siang malam ke semua lapisan masyarakat agar mereka bergegas vaksin, tapi respons beberapa masyarakat? Duh, duh. Masih banyak juga ternyata yang nolak-nolak.

Ada yang bilang bakal ditanam microchip lah, ada yang bilang jadi attack titan lah, ada pula yang berpikiran lebih baik kena covid langsung daripada harus vaksin.

Walaupun kita sama-sama tidak tahu ada beberapa orang yang beneran takut vaksinasi karena KIPI, tapi, ayolah, kalau takut gara-gara mau ditanam microchip. Emang negara mana sih yang ikhlas ngabisin banyak duit buat mata-matain warga negara yang pe-a-nya kayak gitu?

Terus, yang cocok buat rangorang Indo itu yang gimana? Ya yang hasilnya langsung keliatan mata, kalau perlu sampai bikin mata tercolok dengan sensasi instan.

Ibarat orang sedang sikat gigi, masyarakat kita emang punya kecenderungan bakal percaya kalau gigi mereka bersih lewat sensasi sejuk dari produk pasta gigi yang mengandung mint. Padahal, siapa yang tahu cara mereka menggosok tadi sudah betul atau belum?

Iklan

Sebagai bukti, coba Anda hitung mana yang lebih laku antara pasta gigi dengan mint dengan pasta gigi tanpa mint? Dari survei kecil-kecilan di lingkungan saya, pasta gigi dengan mint lebih cenderung dipilih sebagai opsi pertama.

Sama seperti pasta gigi dengan mint, banyak produk-produk yang memberikan sensasi instan sebagai salah satu strategi menarik pelanggan. Sebut saja efek berbusa dari produk pembersih baju (biasanya ada embel-embel “busa banyak” di kemasan atau di iklannya), bau wangi dari produk hand sanitizer, atau sensasi lega dari produk rokok.

Tiap-tiap produk yang bombastis, selalu berusaha memberikan sensasi instan bagi pelanggannya. Dan kita sama-sama membuktikan, vaksinasi sebagai syarat masuk mal adalah kebijakan yang bisa kasih efek instan itu.

Melihat kebijakan itu cukup efisien, lantas saya jadi mikir, kalau pemerintah mau berpikir dengan keras dan menerapkan sensasi instan tadi ke setiap kebijakan-kebijakannya. Saya yakin, masyarakat kita akan mudah untuk diatur lagi ke depannya untuk hal-hal lain.

Mau masuk mal? Gampang, status di PeduliLindungi harus hijau.

Jika vaksinasi jadi syarat masuk mal, selanjutnya, cara pandang seperti ini bisa dikembangkan lagi ke hal-hal lain. Seperti sudah punya BPJS atau belum, sudah membayar pajak atau belum.

Bahkan, kalau perlu, di masa depan nanti hal kayak gini bisa saja dibikin sistem agar seorang koruptor dilarang masuk mal selama-lama-lama-lamanya.

Lebih keren lagi, kalau pemberlakuan khusus mantan naripada korupsi ini bukan cuma buat masuk mal, tapi masuk tempat pariwisata, masuk gerbang sekolah, bandara, dan kalau perlu buat masuk Holywings juga.

Oke, oke, mungkin ide ini terkesan mencerabut hak asasi manusia para koruptor-koruptor itu. Apalagi, mereka itu kan namanya penyintas korupsi kalau bebas dari penjara. Artinya mereka berhak dong kembali menjadi warga negara tanpa dosa. Boleh berkegiatan sehari-hari. Nggak kayak maling ayam yang begitu keluar penjara tetep dianggap maling ayam oleh warga sekitar.

Baiklah, kalau sistem kayak gitu terlalu kejam untuk para koruptor. Saya ngerti, koruptor kita terlalu suci. Oleh sebab itu, demi memperlunak saran saya tadi, sistem ini tetap bisa kok diberlakukan bukan sebagai syarat masuk mal, melainkan untuk diumumin di speaker pemberitahuan aja. Persis seperti yang saya contohkan di awal tadi.

Karena terlalu bulshit kalau kita mencegah perilaku korupsi dengan kata-kata petuah macam: “Korupsi berawal dari hal-hal kecil,” atau, “Mari bebaskan negeri ini dari korupsi melalui hal-hal sekitar kita.”

Hash taek, nggak instan blas.

Bayangkan. Bayangkan betapa serunya kalau tiba-tiba alat scan barcode bunyi di mal, dan ndilalah ada Bupati Banjarnegara, atau Jaksa Pinangki mengantre di depan kita. Rakyat merasa puas bisa “menghukum” koruptor secara langsung dan ini cukup efisien buat bikin kuapok pelaku korupsi.

Kenapa saya yakin? Ya karena itu tadi: efeknya instan.

Mau lebih nendang lagi? Coba terapkan kebijakan speaker koruptor tadi kepada anak-anak pelaku korupsi.

“Selamat malam Junior, selamat Anda bebas covid dan selamat Anda sudah vaksin. Tapi Anda sejatinya tidak selamat, karena di masa lalu bapak Anda adalah seorang koruptor. Korupsi duit sarden bansos lagi. Jangan dicontoh ya Nak!”

BACA JUGA Jasa Cetak Kartu Vaksin Adalah Penegasan Indonesia Payah Soal Digitalisasi dan tulisan Prima Ardiansah lainnya.

Terakhir diperbarui pada 17 September 2021 oleh

Tags: bansoshand sanitizerjuliarikorupsipedulilindungisyarat malvaksinvaksinasi
Prima Ardiansah

Prima Ardiansah

Dokter internship di RSU Aisyiah Ponorogo dan Puskesmas Jenangan Ponorogo.

Artikel Terkait

Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder MOJOK.CO
Esai

Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder

31 Juli 2026
Korupsi makin parah, MUI dorong hukuman mati bagi koruptor MOJOK.CO
Kabar

Kasus Korupsi di Indonesia Kian Mengkhawatirkan, MUI Dorong Hukuman Mati bagi Koruptor

28 Juli 2026
Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi MOJOK.CO
Tajuk

Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi 

13 Juli 2026
Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda MOJOK.CO
Esai

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda

10 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

77 persen lulusan sekolah vokasi (sarjana terapan) tembus dunia kerja. Lebih dari dari lulusan S1 MOJOK.CO

Lulusan Sekolah Vokasi (Sarjana Terapan) Lebih Laris di Dunia Kerja dari S1, Industri Butuh yang Berketerampilan

7 Agustus 2026
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X bertemu dengan tim KKP membahas program budi daya ikan tematik. (Sumber: Humas Pemda DIY)

64 Lokasi di Kalurahan DIY Kecipratan Jatah Program Budi Daya Ikan Tematik dari KKP

5 Agustus 2026
Berkaca dari Kasus Yurizal, Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya punya empati MOJOK.CO

Berkaca dari Kasus Yurizal: Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya Berempati

7 Agustus 2026
Ibu Kimpul Mengingatkan Kita bahwa Ketahanan Pangan Bukan Hanya Urusan Beras MOJOK.CO

Ibu Kimpul Mengingatkan Kita bahwa Ketahanan Pangan Bukan Hanya Urusan Beras

10 Agustus 2026
Cinta yang Tak Berbalas Bikin Perempuan Crush Recession hingga Belum Menikah. MOJOK.CO

Crush Recession: Jatuh Cinta Terasa Melelahkan, bikin Perempuan Malas Pacaran

4 Agustus 2026
Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.