MOJOK.CO – Trauma akademik yang saya alami bermula dari ucapan dosen penguji yang menyebut tesis saya bahkan tidak layak menjadi skripsi.
Saya masih mengingat ujian tesis hari itu, cuaca Bandung yang biasa dingin terasa lebih panas. Teman-teman menunggu dan memberi dukungan dari luar ruangan, sementara dosen pembimbing berusaha menyemangati saya. Setelah presentasi selesai, tibalah sesi tanya jawab.
Salah seorang dosen penguji tidak mengajukan pertanyaan ataupun meminta penjelasan. Ia hanya berkata, “Ini bukan tesis, tetapi laporan kegiatan. Jadi skripsi saja tidak layak, apalagi tesis.”
Plaakk!
Rasanya seperti ditampar menggunakan bundelan tesis sendiri. Bayangkan ditampar tumpukan kayu yang menjelma kertas. Sakitnya bukan di pipi, melainkan tepat di hati.
Kacamata saya mendadak beralih fungsi. Bukan lagi membantu memperjelas penglihatan, tetapi menjadi bendungan air mata. Saya takut, begitu kacamata itu dilepas, air mata yang tertahan akan tumpah di hadapan orang-orang di ruangan.
Saya pulang dengan kepala tertunduk sambil membawa luka yang tidak terlihat. Sejak hari itu, saya mulai menutup diri. Revisi yang sebenarnya tidak terlalu banyak terasa seperti pekerjaan yang mustahil diselesaikan. Setiap membuka laptop, ucapan dosen penguji tersebut kembali terngiang.
Laptop kesayangan yang biasanya menemani saya mengerjakan berbagai hal akhirnya berubah menjadi musuh. Melihatnya saja membuat saya ingin menghindar.
Trauma akademik setelah ujian tesis
Seperti luka pada umumnya, dampak trauma akademik itu tidak terlihat, tetapi terasa nyata. Saya diliputi ketakutan, merasa gagal, kehilangan kepercayaan diri, dan mulai menganggap diri tidak layak menyandang gelar magister.
Saya memahami bahwa tesis magister harus memenuhi standar akademik tertentu. Dosen penguji berhak mengkritik metode, analisis, argumen, maupun kesimpulan penelitian saya. Belakangan, saya pun menyadari bahwa tesis tersebut pasti memiliki kekurangan.
Namun, kritik semestinya membantu mahasiswa mengetahui letak kekeliruan dan cara memperbaikinya. Kritik terhadap karya seharusnya tidak berubah menjadi vonis terhadap kemampuan seseorang.
Sayangnya, dalam kondisi lelah dan tertekan, saya belum bisa membedakan keduanya. Kritik terhadap tesis terasa seperti penolakan terhadap diri saya secara keseluruhan.
Cita-cita yang sebelumnya saya gantungkan tinggi-tinggi pun perlahan saya turunkan. Jangankan menggapainya, membayangkan diri kembali menekuni dunia akademik saja saya sudah tidak berani.
Meski demikian, saya tetap memaksa diri menyelesaikan tesis. Saya mengikuti ujian kembali, mengerjakan revisi, menemui dosen, lalu mengurus wisuda dan seluruh administrasi akhir perkuliahan.
Namun, semua itu tidak lagi saya jalani dengan semangat untuk merayakan pencapaian. Saat itu, saya hanya ingin segera lulus, meninggalkan kampus, dan tidak pernah bertemu dosen penguji tersebut lagi.
Secara administratif, perjalanan akademik saya selesai. Namun, secara emosional, saya belum benar-benar meninggalkan ruang ujian itu.
Dampaknya terus menggerogoti
Perasaan tidak layak terus menggerogoti kepercayaan diri saya. Apalagi, sebagai seorang Cancerian, saya merasa dicintai dan dihargai ketika kehadiran saya dibutuhkan serta dapat memberi manfaat kepada orang-orang terdekat.
Namun, jika apa yang saya kerjakan saja dianggap tidak semestinya, bagaimana mungkin saya bisa memberikan dampak? Dasar Cancerian, cangkangnya terlihat kuat, tetapi isinya lembek sekali.
Sesekali saya berusaha menenangkan diri dengan berbagai pembelaan. “Tidak apa-apa, toh teman-teman yang kamu bantu merasa terbantu,” atau, “Kamu hanya sedang apes mendapatkan dosen penguji seperti itu.” Kalimat-kalimat tersebut cukup membantu saya bertahan menghadapi hari-hari yang tidak bisa dijeda.
Namun, sejak saat itu, keluar rumah dan bergaul dalam komunitas besar tetap terasa berat. Kepala terasa berat, langkah pun berat, sementara kepercayaan diri saya semakin ringan.
Titik balik dari trauma akademik
Waktu terus berjalan. Perlahan, saya menemukan hal-hal kecil yang mengubah cara pandang terhadap diri sendiri. Tulisan-tulisan saya ternyata dikutip orang lain.
Ada mahasiswa yang menjadikannya referensi, aktivis yang menggunakannya sebagai bahan diskusi, bahkan dosen yang memanfaatkannya dalam kegiatan akademik.
Dari sana muncul sebuah pertanyaan: jika tulisan dan gagasan yang saya hasilkan benar-benar tidak berguna, mengapa ada orang yang merasa terbantu?
Pertanyaan sederhana itu menjadi titik balik bagi saya.
Dalam sebuah kegiatan kaderisasi organisasi, saya bertugas sebagai fasilitator. Salah seorang peserta tiba-tiba mengenali saya.
“Oh, ini toh Aisy Aisy itu. Aku pakai artikel Mbak sebagai referensi esaiku kemarin, lho.”
Saya senang bukan kepalang. Namun, karena harus tetap terlihat tenang dan berwibawa sebagai fasilitator, saya hanya tersenyum sambil menjawab, “Iya, ini Aisy.”
Rupanya, tesis atau tulisan saya memiliki jenjang kariernya sendiri. Bahkan, mungkin perjalanan kariernya lebih sukses daripada penulisnya.
Pengalaman-pengalaman kecil itu membantu saya pulih. Saya mulai memahami bahwa penelitian bukan sekadar tugas untuk memenuhi standar akademik dan mendapatkan gelar, melainkan salah satu cara memberikan kontribusi kepada orang lain.
Namun, pengakuan orang lain bukan satu-satunya alasan saya kembali percaya diri. Saya juga belajar memisahkan karya dari diri sendiri.
Tulisan saya boleh dianggap kurang baik dan penelitian saya boleh dikritik, tetapi kekurangan sebuah karya tidak otomatis menjadikan saya manusia yang gagal.
Baca halaman selanjutnya
