Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Terancam Putus Silaturahmi karena Futsal dan Masak

Novandy Fiardillah oleh Novandy Fiardillah
22 Januari 2018
A A
Cowok-Tidak-Suka-Bola-MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] “Kenapa sih cowok kalau ngumpul pasti futsal dan cewek kalau ngumpul pasti masak?”

“Maneh bisa ikut futsal kan minggu depan? Sekalian reunian, hehehe,” tanya teman saya.

Iklan

“Waduh, nggak bisa euy, minggu depan saya harus ikut seminar cara bercocok tanam padi terasering di Planet Namex.”

“Wah, nggak asik ah maneh mah, padahal nanti banyak loh temen sekelas kita yang udah mau ikut dateng.”

“Oh, iya salam aja ya buat mereka semua.”

Percakapan sederhana itu sering terjadi pada saya yang notabene cowok yang nggak bisa futsal. Kalau ada ajakan futsal berkedok reuni, saya emang tipe yang selalu menolak.

Habis, saya sudah tahu bagaimana pola yang akan terjadi ketika ada reunian dengan modus futsal antar-rekan kelas. Biasanya, kita kumpul di tempat futsal, langsung ganti seragam dengan jersey bola favorit masing-masing, unjuk sepatu futsal yang baru beli kemarin dari Sport Station, main futsal selama berjam-jam, lalu pergi nongkrong untuk membicarakan hasil pertandingan tadi—ngomongin siapa yang paling goblok main dan menertawakannya habis-habisan.

Jujur saja, semenjak SD saya tidak menyukai hal-hal berbau sepak bola. Nilai olahraga selalu jeblok. Tiap kali ada pertandingan bola antarkelas, tim yang menaungi saya selalu kalah dan kena batunya: entah harus traktir Pop Ice buat tim lawan atau bayar sewa lapangan yang udah ditambah durasinya berkali-kali lipat.

Ketika ditanya tim sepakbola mana yang jadi favorit saya, saya cukup diam lalu cari-cari tim yang nggak pernah dilirik sama sekali oleh teman-teman saya. Pun, ketika saya ditanya punya kaos tim sepak bola atau sepatu futsal, saya cuma bisa jawab dengan bengong karena di lemari saya cuma ada kaos band, celana cutbray, sama sepatu kets.

Dalam hati, saya cuma bisa bertanya-tanya: kenapa sih cowok ngumpul harus sambil futsal? Nggak bisa gitu bikin nasi liwetan, masak ikan teri sambil duduk-duduk di tengah kebon ngobrolin cara cangkok duren atau okulasi bunga mawar?

Sebagai cowok yang nggak bisa main bola, biasanya saya dimusuhi saat mata pelajaran olahraga. Waktu pelajaran olahraga dimulai, saya duduk diam dan berharap nama saya nggak dipanggil waktu ada tes dribble. Sisanya, kalau saya diajak ikut main, paling saya milih buat jadi kiper atau pemain belakang supaya nggak usah terlalu banyak tendang sana sini. Kalau udah ada yang datang ke wilayah saya, saya sikut sampai teman saya bilang: “Maneh maen bal atawa lalajo Burgerkill, sih?” Kamu main bola apa nonton Burgerkill, katanya.

Saya cengengesan dan di akhir pertandingan pasti di-bully habis-habisan.

Pernah satu kali saya mengajak reunian teman-teman SMP untuk reunian sambil liwetan. Sebenarnya, ini intrik-intrik saya saja supaya bisa lari dari kejaran cowok-cowok ilmu hitam yang pasti ngajakin main futsal. Ketika saya ngajakin anak-anak buat ngeliwet, sontak cewek-cewek di grup pesbuk mulai bermunculan. Mereka yang asalnya diam kayak kerapu di atas batu berubah jadi suka teriak-teriak macam kucing rumahan nggak dikasih makan berhari-hari.

Menanggapi hal tersebut, teman saya cuma bisa geleng-geleng sambil menawarkan kalau dia punya kebun duren yang terletak di kaki Bukit Mananggel, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Indonesia, Planet Bumi, Galaksi Bima Sakti, 43105. Mendengar jawabannya yang begitu komplet, kami pun bersemangat dan mulai mencari angkot yang bisa mengantar kami menuju tempat itu.

Sesaat sebelum tiba di tempat, angkot yang kami sewa bilang cuma bisa nganter kami sampai ujung kampung. Katanya jalan kecil, masuk gang, susah buat angkot masuk. Selain itu, dia juga harus narik lagi. Akhirnya kami memutuskan untuk jalan sekitar 3 kilometer menuju kebon duren. Jalanan waktu itu bisa dibilang berliku-liku, asruk-asrukan, sampai para cowok yang suka main futsal hanya bisa ngeluh dan nanya kapan sampai. Dalam hati, saya prihatin dan menunjukkan empati terhadap mereka. *ketawa jahat*

Sekitar sejam perjalanan, kami sampai di tempat. Anak cowok gempor semua sedangkan anak cewek justru makin bersemangat. Mereka langsung cari peralatan masak. Ngeluarin semua beras, ikan teri, bumbu lalapan, dan bahan nyambel. Sebagai inisiator, saya ikut bantu mereka. Angkut barang sana-sini dan nakar air beras pakai buku jari sampai akhirnya cewek yang ternyata pengikut golongan hitam ini ngambil barang yang saya pegang.

“Lalaki mah cicing we, lamun masak ge teu ngeunah!” Anak laki-laki mah diem aja, kalau masak juga nggak enak!

Saya melongo, tiap hari masak di rumah, baru kali ini saya diperlakukan begini. Saya lalu ambil ulekan buat nyambel, ada cewek lain yang lantas merebut dengan paksa.

Iklan

“Lalaki mah cicing we, lamun nyambel sok tara kira-kira ladana!” Anak laki-laki mah diem aja, kalau bikin sambel juga suka nggak kira-kira pedesnya!

Saya melongo, tiap hari masak di rumah, baru kali ini saya diperlakukan begini. Dalam hati, saya cuma bisa bertanya-tanya: kenapa sih cowok ngumpul harus sambil futsal? Nggak bisa gitu bikin nasi liwetan, masak ikan teri sambil duduk-duduk di tengah kebon sambil ngobrolin cara cangkok duren atau okulasi bunga mawar?

Selain itu, ada satu lagi pertanyaan yang tambah ganjal dalam hati saya: kenapa sih cewek kalau ngumpul harus masak-masak? Nggak bisa gitu cowok ikut nimbrung? Cowok yang nggak bisa main futsal harus ngapain?

Terakhir diperbarui pada 22 Januari 2018 oleh

Tags: cewekcowokfutsalmasaksepakbolastereotip
Novandy Fiardillah

Novandy Fiardillah

Artikel Terkait

Pekerja muda hobi bikin kue

Dicap Hobi Kuno, Bikin Kue Jadi Jalan Gen Z Jakarta Tetap Waras dari Beban Kerja Usai Ibu Tiada

10 Februari 2026
futsal uny.MOJOK.CO

Aulia, Clutch Player UNY dari Bukit Pinus yang Tak Butuh Sorotan Untuk Bersinar

13 November 2025
futsal uny.MOJOK.CO

Satu Malam, Dua Trofi: Tim Futsal UNY Kawinkan Gelar Juara, Putra-Putri Menang Besar di Final

12 November 2025
Campus League 2025: Gol Detik Akhir yang Bawa Dahlan Muda Raih Peringkat Ketiga MOJOK.CO

Campus League 2025: Gol Detik Akhir yang Bawa Dahlan Muda Raih Peringkat Ketiga

12 November 2025
Lapangan futsal untuk kompetisi antar kampus atau mahasiswa penuh emosi dan tensi tinggi MOJOK.CO

Batu Sandungan di Lapangan Futsal: Emosi Tak Terkendali kala Tensi Tinggi, Bisa Hambat Karier Sendiri

10 November 2025
Kompetisi Futsal Campus League 2025: “Derby Karangmalang” (futsal UGM vs UNY) Masih Milik Kampus Biru MOJOK.CO

Kompetisi Futsal Campus League 2025: “Derby Karangmalang” Masih Milik Kampus Biru

10 November 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan

Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan

24 Agustus 2026
pegawai BPO

Lulusan Magister Biologi Rela jadi Pegawai BPO di Tanah Rantau Agar Tidak Dianggap Pengangguran dan Bikin Orang Tua Menderita

26 Agustus 2026
Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan.MOJOK.CO

Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan

26 Agustus 2026
dukuh muda di kampung

Seni Menjadi Dukuh Muda di Tengah Gempuran Pemimpin Boomer: Kisah Dukuh Muda yang Rela Mengorbankan Masa Muda untuk Membuat Orang Tua Bangga

24 Agustus 2026
Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026
Semesta Buku Yogyakarta 2026 MOJOK.CO

Semesta Buku Yogyakarta Hadir Bersama Pasetaky #4 dan Jakal Bookshop Festival 2026: Rayakan Buku, Komunitas, dan Ruang Literasi 

27 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.