Belajar berinteraksi, bukan sekadar berada di ruang yang sama
Inclusion Link dimulai dengan memetakan kebutuhan ABK dan memilih teman sebaya yang bersedia menjadi pendamping. Sebelum berinteraksi langsung, mereka dilatih untuk memulai percakapan, menunggu respons, dan menghadapi situasi yang tidak terduga.
Mereka juga dibekali contoh kalimat yang dapat digunakan ketika kebingungan merespons. Dengan begitu, perbedaan cara berkomunikasi tidak lagi menjadi alasan untuk menghindar.
Setelah pelatihan, ABK dan teman sebaya dipertemukan dalam kegiatan yang memungkinkan keduanya memiliki peran setara. Fasilitator tetap berada di dekat mereka, tetapi hanya membantu ketika interaksi terhenti.
Bantuan tersebut perlahan dikurangi agar keduanya dapat berinteraksi secara mandiri. Setiap kegiatan diakhiri dengan evaluasi bersama fasilitator dan orang tua untuk melihat perkembangan serta menentukan pendampingan selanjutnya.
Mekanisme tersebut mengadaptasi Peer-Mediated Instruction and Intervention (PMII), pendekatan yang melatih teman sebaya untuk terlibat aktif dalam perkembangan sosial ABK.
Reichow dan Song (2024) merangkum 10 tinjauan sistematis yang mencakup 47 studi terhadap 114 anak dengan berbagai disabilitas perkembangan. Lebih dari 80 persen studi yang ditinjau menunjukkan hasil positif terhadap perkembangan sosial mereka.
Tantangan yang bisa diatasi lewat peran komunitas
Tentu, Inclusion Link menghadapi tantangan. Sebagian keluarga mungkin belum yakin bahwa komunitas dapat memahami kebutuhan anak mereka. Karena itu, program ini tidak dimaksudkan menggantikan terapis maupun guru.
Inclusion Link justru memperluas ruang latihan sosial yang sebelumnya diperoleh anak melalui terapi dan pembelajaran di sekolah. Sementara guru menghadapi beban kurikulum dan administrasi, komunitas dapat membantu mempersiapkan teman sebaya agar tidak lagi menjauh hanya karena tidak tahu cara berinteraksi.
Program ini dapat dimulai dari komunitas kecil sebelum diperluas. Jika ABK, keluarga, teman sebaya, dan fasilitator terbiasa belajar bersama, stigma bahwa kondisi ABK dapat “menular” perlahan dapat dipatahkan melalui pengalaman langsung.
Anak-anak pun belajar memahami perbedaan bukan hanya dari penjelasan, melainkan karena tumbuh berdampingan.
Kita dapat memberi ruang bagi ABK yang selama ini telah berani hadir. Melalui Inclusion Link, saya ingin membersamai langkah mereka menuju dunia yang semestinya menyambut mereka sejak awal.
Sebab, inklusi bukan sekadar menempatkan anak-anak dalam ruang yang sama, melainkan meruntuhkan sekat yang membuat mereka merasa asing di dalamnya.
*) Tulisan ini merupakan finalis Essay Contest Beswan Djarum 2025/2026. Naskah telah disunting oleh redaksi Mojok.co tanpa mengubah gagasan utama penulis.
Penulis: Wiwin Theresa Hitan
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan dan tulisan menarik lainnya di Esai Mojok.co














