MOJOK.CO – Penulis pernah dapat stigma sebagai orang tua ambisius gara-gara anak ikut bimbel.
Saya pernah disebut sebagai orang tua ambisius gara-gara memasukkan anak ke sebuah bimbingan belajar atau bimbel yang terkenal berat dan mahal di Surabaya.
Anggapan itu mungkin muncul karena bimbel kerap dilekatkan dengan anak-anak yang hidupnya penuh target. Sepulang sekolah, mereka belum boleh rebahan sambil bermain ponsel karena harus kembali berhadapan dengan buku, rumus, dan latihan soal.
Orang tuanya kemudian dianggap sebagai orang yang memaksakan kehendak pada anaknya. Orang yang egois agar dianggap berhasil mendidik anak-anaknya.
Saya tidak mengatakan orang tua semacam itu tidak ada. Memang ada orang tua yang menentukan sekolah, jurusan, bahkan masa depan anak tanpa memberi kesempatan kepada anak untuk menyampaikan keinginannya.
Akan tetapi, menyimpulkan bahwa setiap anak yang ikut bimbel merupakan korban ambisi orang tua juga terlalu dangkal. Dalam kasus keluarga saya, justru anak saya yang meminta ikut bimbel, meski awalnya saya tidak setuju.
Saya justru menganggap anak tidak perlu ikut bimbel
Saat anak saya masih SMP, ia memiliki keinginan masuk ke salah satu SMA negeri favorit di Surabaya. Ia memahami bahwa persaingannya ketat dan nilai yang biasa-biasa saja belum tentu cukup membawanya ke sekolah yang diinginkan.
Karena itu, ia meminta izin mengikuti sebuah bimbel yang terkenal dengan pola belajar cukup berat.
Saya yang mendengar permintaan tersebut bukannya langsung menyambut dengan gembira. Saya justru merasa ia tidak perlu mengikuti bimbel.
Di sekolah, ia sudah belajar selama berjam-jam. Sepulang sekolah, ia masih harus mengerjakan tugas dan mempersiapkan pelajaran untuk hari berikutnya. Bagi saya, anak ikut bimbel hanya akan membuat waktunya semakin padat.
Namun, anak saya punya alasan sendiri. Menurutnya, pelajaran di sekolah sering berjalan terlalu cepat.
Ia belum benar-benar memahami materi, tetapi guru sudah memberikan soal dan beralih ke pembahasan berikutnya.
“Belum sempat memahami, sudah diberi soal,” katanya.
Ia merasa membutuhkan waktu tambahan untuk mengulang materi, bertanya, dan berlatih. Keinginannya mengikuti bimbel bukan datang dari saya atau suami.
Ia sudah memikirkan sendiri sekolah yang ingin dituju dan usaha yang menurutnya perlu dilakukan.
Saya yang tadinya menganggap anak saya tidak perlu bimbel akhirnya luluh setelah ia mengutarakan alasannya ingin ikut bimbel. Betapa egoisnya saya sebagai orangtua jika saya menolak keinginan anak saya.
Saya tak mungkin mematahkan ambisi anak, meskipun saya juga menyadari belajar tambahan di bimbel butuh biaya lebih dan tidak menjamin diterima di sekolah favorit impiannya.
Anak ikut bimbel itu ambisi yang perlu dihargai
Ketika seorang anak mengikuti banyak les, orang dewasa sering langsung mencari siapa yang memaksanya. Kecurigaan pertama biasanya diarahkan kepada orang tua.
Padahal, anak bukan manusia tanpa kehendak yang hanya mengikuti jadwal buatan ayah dan ibunya. Anak juga dapat memiliki ambisi, memahami persaingan, dan menentukan sesuatu yang ingin diperjuangkan.
Ambisi anak tidak selalu harus dicurigai sebagai hasil tekanan keluarga. Selama tidak mengorbankan kesehatan fisik dan mentalnya, memiliki tujuan justru menunjukkan bahwa anak mulai mengenali apa yang ia inginkan.
Tugas orang tua bukan mengambil alih ambisi tersebut, melainkan memastikan anak memahami konsekuensinya. Kami menjelaskan bahwa mengikuti bimbel tidak menjamin ia diterima di sekolah impian.
Belajar lebih lama juga tidak selalu menghasilkan nilai seperti yang diharapkan.
Namun, bukankah salah satu tugas orang tua memang menemani anak berusaha sekaligus mengajarkan bahwa tidak semua usaha berakhir dengan kemenangan?
Seandainya nanti ia gagal, setidaknya ia pernah diberi kesempatan untuk memperjuangkan sesuatu yang dipilihnya sendiri. Ia juga dapat belajar bahwa kegagalan tidak selalu berarti usahanya sia-sia.
Ambisi anak tidak muncul dari ruang kosong
Mari sama-sama jujur, sistem zonasi yang dirancang untuk mendorong pemerataan pendidikan belum berhasil menghilangkan label sekolah negeri favorit.
Sebab, sampai sekarang mutu pendidikan antarsekolah belum sepenuhnya merata. Tak perlu membandingkan sekolah di kota besar dengan sekolah di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.
Di dalam satu kota atau kabupaten saja, perbedaannya bisa dirasakan.
Saya tentu bukan satu-satunya orang tua yang ingin anaknya memperoleh pendidikan berkualitas tanpa memberatkan keuangan keluarga. Keinginan itulah yang membuat bangku di sekolah negeri tertentu terus diperebutkan.
Anak-anak harus mengandalkan jarak tempat tinggal, nilai, prestasi, atau komponen seleksi lain.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengeluarkan kebijakan baru pada 2025 yaitu Tes Kemampuan Akademik (TKA). Hasil tes ini dapat digunakan sebagai salah satu komponen seleksi ke jenjang berikutnya, sesuai jalur dan ketentuan pemerintah daerah.
Jika penerimaan murid baru merupakan arena pertandingan, nilai dan prestasi menjadi bekal yang dibawa anak-anak untuk memperebutkan kursi yang terbatas.
Karena itu, keinginan anak saya mengikuti bimbel tidak muncul begitu saja. Ia merasa pelajaran di sekolah berjalan terlalu cepat.
“Belum sempat memahami, sudah diberi soal,” katanya. Bimbel kemudian menjadi caranya memperoleh waktu tambahan untuk mengulang materi, bertanya, dan berlatih.
Bimbel tentu membutuhkan biaya. Namun, bagi keluarga kami, mengusahakan biaya bimbel masih lebih mungkin daripada membayar uang pangkal dan SPP sekolah swasta yang dianggap memiliki kualitas setara.
Karena itu, bimbel kami pilih sebagai salah satu ikhtiar untuk memperbesar peluang anak memperoleh pendidikan negeri yang berkualitas dan terjangkau.
Jadi, ambisi anak tidak selalu lahir karena dipaksa orang tua. Bisa jadi, anak sudah melihat sendiri bahwa sekolah yang dianggap berkualitas harus diperebutkan, sedangkan ia merasa bekal dari sekolahnya belum cukup untuk menghadapi persaingan tersebut.
Mendukung keinginan anak ikut bimbel tetap harus melihat kemampuan keluarga
Tentu saja, mendukung keinginan anak terdengar mudah selama belum membicarakan biaya.
Bimbel yang dipilih anak saya tergolong mahal bagi kondisi keuangan keluarga kami. Saya dan suami harus berhitung karena pada saat yang sama kami juga memikirkan kebutuhan rumah tangga dan biaya pendidikan anak-anak hingga perguruan tinggi.
Biaya anak ikut bimbel tersebut akhirnya harus saya cicil. Pilihan itu kami ambil karena masih mungkin diusahakan, meskipun tidak mudah.
Pengalaman ini membuat saya memahami bahwa tidak semua orang tua dapat memberikan bentuk dukungan yang sama. Saya mengenal orang tua yang bahkan tidak memasukkan bimbel sebagai pilihan.
Bukan karena tidak peduli terhadap pendidikan anak, melainkan karena penghasilan keluarga hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, anak yang tidak mengikuti bimbel tidak dapat disebut kurang berusaha. Orang tuanya juga tidak bisa dianggap kurang mendukung. Setiap keluarga memiliki kemampuan dan cara masing-masing dalam mendampingi anak.
Ada yang mampu membayar bimbel, ada yang membantu anak belajar sendiri di rumah, dan ada pula yang hanya dapat mengandalkan pembelajaran dari sekolah. Keinginan anak boleh sama tingginya, tetapi jalan yang tersedia bagi mereka belum tentu sama.
Bimbel tidak menjamin kemenangan
Bimbel pada akhirnya hanyalah salah satu alat bantu belajar. Ia dapat memberikan tambahan waktu, latihan soal, atau kesempatan bertanya yang mungkin tidak diperoleh anak di sekolah.
Namun, bimbel bukan tiket khusus yang otomatis membawa anak masuk ke sekolah favorit. Anak yang mengikuti bimbel tetap bisa gagal.
Sebaliknya, anak yang belajar tanpa bimbel juga dapat berhasil.
Pilihan ikut Bimbel adalah pilihan yang rasional, mengingat anak harus menghadapi kompetisi dan tuntutan tinggi demi mendapatkan hak pendidikan yang layak.
Tapi menjadi pilihan yang irasional bagi orangtua yang kemampuan ekonominya hanya cukup untuk makan sehari-hari.
Ironis memang, pendidikan tambahan di luar sekolah menjadi jalan bagi siswa agar siap berhadapan dengan sistem pendidikan, demi memperjuangkan hak mendapatkan pendidikan yang berkualitas.
Ketimpangan ekonomi juga semakin nyata ketika berhadapan dengan sistem pendidikan yang katanya berlandaskan keadilan.
Penulis: Rina Widowati
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Ambisnya Orang Tua di Jogja demi Sekolah Favorit untuk Anaknya