ADVERTISEMENT

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap MOJOK.CO

MOJOK.COSama-sama lulusan S2 dengan IPK nyaris sempurna, saya dan istri tetap harus hidup dari proyek ke proyek sambil bertanya-tanya apakah bulan depan kami masih punya pekerjaan.

“BPJS-nya kelas berapa?”

“Kelas tiga.”

“BPJS Ketenagakerjaan ada?”

“Tidak ada.”

“Kok kelas tiga? Kantornya tidak menanggung?”

Saya tidak tahu harus menjawab apa. Bukan karena pertanyaannya salah, melainkan karena saya bingung menjelaskan bahwa saya memang bekerja, tetapi tidak punya kantor yang benar-benar bisa disebut sebagai “kantor saya”.

Pekerjaan saya datang bersama proyek. Ketika proyek selesai, saya harus menunggu proyek berikutnya atau kembali mencari pekerjaan. Begitu pula dengan istri saya.

Kami sama-sama lulusan S2. Kami menikah pada awal 2025 dan sekarang tinggal di Sleman, jauh dari kota asal saya di Surabaya dan keluarga istri di Batam. Kami sama-sama bekerja, tetapi sampai hari ini tidak satu pun dari kami memiliki pekerjaan tetap.

Kalau ditanya bekerja sebagai apa, saya masih bisa menjawab dengan cukup percaya diri: peneliti dan konsultan. Istri saya bekerja sebagai tenaga ahli sosial dan kebijakan serta asisten peneliti.

CV kami, jika dibaca sepintas, mungkin terlihat cukup meyakinkan. Saya lulusan S2 Manajemen Bencana UGM dengan IPK 3,95. Istri saya lulusan S2 Kebijakan Publik Universitas Airlangga dengan IPK 3,78. Kami punya pengalaman penelitian, proyek, publikasi, dan pekerjaan profesional.

Namun, hidup ternyata tidak pernah membaca CV sampai selesai.

Sudah kirim 150 lamaran, gelar S2 saya justru tak mendatangkan wawancara

Saya jadi lulusan S2 pada Januari 2026. Saya kira setelah itu persoalannya tinggal mencari pekerjaan. Ternyata mencari pekerjaan sendiri bisa menjadi pekerjaan penuh waktu.

Sejak lulus, saya memperkirakan telah mengirim sekitar 150 lamaran ke berbagai tempat. Dari semua lamaran tersebut, hanya sekitar tiga yang berujung panggilan wawancara.

Lebih ironis lagi, ketiga panggilan itu justru datang ketika saya menggunakan ijazah S1. Lamaran yang menggunakan ijazah S2 tidak menghasilkan satu pun wawancara. Setelah bertahun-tahun belajar demi memperoleh gelar lebih tinggi, ketika mencari kerja saya justru lebih sering diminta menunjukkan gelar yang lebih rendah.

Istri saya sudah lebih dahulu mengalami fase ini. Sebagai lulusan S2, ia mencari pekerjaan sejak 2024. Jumlah lamaran yang dikirimkannya tentu lebih banyak daripada saya, tetapi sampai sekarang ia juga belum menemukan pekerjaan tetap.

Kalau ada yang mengatakan kami kurang berusaha, rasanya sulit menerimanya. Kami mengirim lamaran, mengikuti seleksi, menjalankan penelitian, dan mengambil proyek yang datang. Masalahnya bukan kami tidak mau bekerja. Pekerjaan yang tersedia bagi kami tidak selalu datang bersama kepastian.

Rata-rata satu proyek berlangsung sekitar tiga sampai empat bulan. Setelah proyek selesai, kami kembali membuka laptop, memperbarui CV, mencari lowongan, mengirim lamaran, lalu menunggu balasan yang belum tentu datang.

Kami punya pekerjaan. Kami hanya tidak pernah benar-benar tahu apakah pekerjaan itu masih ada beberapa bulan kemudian.

Baca halaman selanjutnya

Ada tawaran pekerjaan tetap, tapi belum tentu menyelesaikan persoalan

Terakhir diperbarui pada 21 Agustus 2026 oleh .

Muhamad Irfan Nurdiansyah

Praktisi kebencanaan dengan latar belakang Magister Manajemen Bencana. Tertarik menulis tentang pendidikan, pekerjaan, perantauan, dan kegelisahan sehari-hari yang dialami generasi muda.

Exit mobile version