Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Saat Rakyat Banyak yang Mati, Ide Rumah Sakit Khusus Pejabat pada Masa Pandemi Itu Tepat Sekali

Muhammad Nanda Fauzan oleh Muhammad Nanda Fauzan
10 Juli 2021
A A
Mempertanyakan Prinsip Syariah RSUD: Memangnya Nungguin Orang Sakit MOJOK.CO Seandainya Biaya Periksa di Rumah Sakit Terpampang seperti Daftar Harga di Restoran

Mempertanyakan Prinsip Syariah RSUD: Memangnya Nungguin Orang Sakit MOJOK.CO Seandainya Biaya Periksa di Rumah Sakit Terpampang seperti Daftar Harga di Restoran

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Wasekjen PAN usulkan rumah sakit khusus pejabat di masa pandemi. Katanya, pejabat harus diistimewakan. Setuju sih ini.

Saya tidak punya pengalaman yang cukup intens dengan rumah sakit. Kali pertama—dan semoga terakhir—saya berkunjung ke tempat itu adalah memperbaiki tiga gigi yang rompal karena kecelakaan motor, beberapa bulan lalu.

Iklan

Setelah bolak-balik untuk perawatan saluran akar, saya tak mendapatkan kesan mendalam, kecuali mengamini jokes kodian bapak-bapak bahwa ruang paling menyeramkan di sana adalah ruang kasir. Tidak tanggung-tanggung, pada kasus saya biayanya hampir setara uang kuliah selama tiga semester.

Hingga hari ini imajinasi saya pada rumah sakit selalu berpaut pada dua hal, lagu “Ambulan Zig-zag” dari Iwan Fals dan esai panjang George Orwell berjudul “How the Poor Die” (diterjemahkan menjadi ‘Bagaimana si Miskin Mati‘ oleh Widya Mahardika Putra).

Pada Iwan Fals, saya menemukan perlakuan kontradiktif terhadap pasien miskin dan kaya, dipungkasi dengan jeritan “Hei modyar aku… Hei modyar aku…”. Sementara pada Orwell, ada banyak kisah tragis dengan sisipan humor yang autentik, ketika ia mengalami perawatan di suatu rumah sakit, seperti ini misalnya:

“Seorang penipu terkenal, Madame Hanaud, yang sakit saat dalam tahanan, dibawa ke Rumah Sakit X. Setelah beberapa hari dia berusaha kabur dengan mengecoh penjaga rumah sakit, kemudian naik taksi dan kembali ke penjara, sebab dia lebih nyaman di sana.”

Berangkat dari persepsi itu, ketika santer terdengar ide cemerlang dari Wasekjen PAN, Bu Rosaline Irene Rumaseuw, agar pemerintah membuat rumah sakit khusus pejabat, saya langsung setuju tanpa pikir panjang.

“Saya minta perhatian kepada pemerintah, bagaimana caranya harus ada rumah sakit khusus buat pejabat negara. Segitu banyak orang dewan kok tidak memikirkan masalah kesehatannya,” kata Bu Rosaline.

“Kementerian Kesehatan harus sudah mulai waspada karena pejabat negara ini harus diistimewakan, dia ditempatkan untuk memikirkan negara dan rakyatnya. Bagaimana sampai dia datang ke emergency terus terlunta-lunta,” lanjut Bu Rosaline dengan sangat brilian.

Ini adalah momen yang tepat untuk mengubah persepsi tentang rumah sakit yang selalu menyeramkan di mata saya. Sebab di rumah sakit khusus pejabat ini tidak akan kita temukan jeritan penuh iba, “heiii modyar aku.. hei modyar aku…,” dari seorang pasien miskin.

Dan dengan segala kenyamanannya, tidak akan ada seorang penipu kelas kakap seperti Madame Hanaud yang kabur dalam esai Orwell.

Di rumah sakit khusus pejabat tersebut, para anggota DPR juga bisa lebih tenang “memikirkan rakyat”. Mereka bisa berkontemplasi, berpikir—doang tapi nggak bertindak–-lebih jernih tanpa gangguan.

Selain itu, saya juga sudah terlena dengan kompetensi Bu Rosaline Irene Rumaseuw. Ia adalah seorang politikus yang nyambi jadi dokter. Dua subjek bahasannya sama sekali tidak melenceng dari koridor pengetahuan yang dimiliki; pejabat + rumah sakit.

Kalian yang menolak, sinis, dan nyinyir pada ide Blio pastilah orang-orang yang menyebabkan matinya kepakaran—kalau kata Tom Nichols. Berikut juga dengan pengurus-pengurus PAN kemudian yang gelagepan bikin klarifikasi kalau pernyataan Bu Rosaline sama sekali tidak mewakili sikap partai.

Tapi saya pikir, apa salahnya ide Bu Rosaline ini? Ini kan luar biasa. Menunjukkan totalitas dalam berpikir untuk survive. Naluri dasar manusia. Setidaknya, ada pejabat yang menampilkan kejujuran paling hakiki di masa sulit-sulit seperti ini.

Maksud saya, dengan atau tanpa membuat rumah sakit khusus pejabat, semua orang tahu anggota DPR atau pejabat pemerintah kerap mendapat perlakuan istimewa—dan itu bukan hanya berlaku di wilayah medis, tapi di segala bidang. Dari urusan dunia, bahkan sampai urusan fatwa.

Jadi, ketimbang terus bertingkah denial, menutup-nutupi sesuatu yang sebetulnya sudah sangat jelas, sekalian saja ide ini dilontarkan. Bangun fasilitas-fasilitas khusus rumah sakit khusus pejabat. Dengan begitu, rakyat bisa lebih total dalam bersikap iri dan dengki. Nggak perlu setengah-setengah lagi.

Meski begitu, saya rasa, ide ini juga harus diberlakukan di segala fasilitas. Maksudnya jangan berhenti di bangunan dan pelayanan rumah sakit khusus pejabat saja. Kalau perlu sediakan juga panti pijat khusus, penjara khusus, tukang cukur khusus, dan bila perlu kita seharusnya meminta Tuhan untuk menciptakan surga khusus. Mungkin proses seleksinya relatif beda, bukan timbangan amal baik atau buruk, tapi perolehan suara di pemilu terakhir sebelum mereka mati.

Iklan

Bu Rosaline Irene Rumaseuw adalah seorang yang cerdas. Dan ini adalah bagian yang paling saya sukai.

Selama bertahun-tahun saya sering mendengar tuduhan sembrono bahwa pejabat, lebih-lebih anggota DPR, hanya sekumpulan orang yang memiliki modal tapi tidak dengan akal. Bu Rosaline telah membuktikan bahwa itu hanya omong kosong. Ada kristal-kristal kejujuran yang muncul dari kalimat-kalimat mutiaranya itu.

Sayang sekali, ide brilian ini akhirnya harus segera ditutup karena banyak politisi-politisi dari partai lain yang memanfaatkan ini untuk menyerang Bu Rosaline dan PAN. Maklum, 2024 sudah dekat. Ada banyak yang harus memoles diri.

Padahal jika saja rumah sakit khusus pejabat ini betul-betul terlaksana, mungkin progres penyerapan anggaran Covid-19 tidak akan terlunta-lunta.

Hingga bulan lalu, menurut kementerian keuangan, anggaran terserap baru mencapai 22,9 %. Alias sekitar Rp39,55 triliun, dari total keseluruhan Rp172,84 triliun. Proses pencairannya terlalu berbelit-belit. Tapi untuk rumah sakit khusus pejabat, pastilah dana itu langsung ludes.

Tidak perlu memikirkan karantina wilayah yang menanggung kebutuhan hidup rakyat, tidak peduli dengan ongkos distribusi vaksin ke seluruh tanah air. Selama ini, toh rakyat yang telah bersalah menyebabkan pandemi menyebar ke mana-mana. Rakyat juga yang keliru karena sudah banyak yang meninggal dunia.

Karena rakyat sudah melakukan banyak kesalahan ke pejabat, sampai bikin semua yang di gedung DPR dan gedung pemerintahan pada repot, maka biarkan kami mati sendiri-sendiri dengan segenap kemampuan kami.

Para pejabat tenang saja. Silakan nikmati privilege kalian, sepuas-puasnya, sekuat-kuatnya, sebangsat-bangsatnya.


BACA JUGA Sulitnya Kita Mengimani Omongan Pejabat dan tulisan Muhammad Nanda Fauzan lainnya.

Terakhir diperbarui pada 10 Juli 2021 oleh

Tags: 2024COVID-19panpandemipejabatrumah sakit
Muhammad Nanda Fauzan

Muhammad Nanda Fauzan

Mahasiswa Filsafat UIN BANTEN.

Artikel Terkait

Kisah pengusahaan binaan program UMiMAX dari Pertamina. MOJOK.CO

Kisah Para Ibu Jual Kopi Keliling usai Suami Kena PHK, Relakan “Cincin Terakhir” agar Anak Bisa Sekolah

26 Juni 2026
penyakit, cuci darah.MOJOK.CO

‘Gaji Habis buat Cuci Darah’ – Yang Perlu Kamu Ketahui soal “Tren” Penyakit Lansia yang Menyerang Generasi Muda

19 Juni 2026
Z sarjana ekonomi di Undip. MOJOK.CO

Apesnya Punya Nama Aneh “Z”: Takut Ditodong Tiba-tiba Saat Kuliah, Kini Malah Jadi Anak Emas Dosen di Undip

27 November 2025
perawat.mojok.co

Perawat, “Pahlawan Kemanusiaan” yang Tak Dimanusiakan: Beban Kerja Selangit, Gaji Sulit

6 Oktober 2025
Getirnya Gen Z Jogja Jadi OB Rumah Sakit Cuma Digaji Rp800 Ribu: Jangankan Punya Rumah, Buat Ngopi Aja Mikir-Mikir.MOJOK.CO

Getirnya Gen Z Jogja Jadi OB Rumah Sakit Cuma Digaji Rp800 Ribu: Jangankan Punya Rumah, Buat Ngopi Aja Mikir-Mikir

7 Mei 2024
takut naik lift.MOJOK.CO

Pengalaman Pertama Naik Lift, Orang Desa Panik dan Malu di RS JIH Jogja sampai Buka Google Dulu

16 Maret 2024
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Shifana, pemain Timnas U-16 Indonesia dibayangi pemain Yordania, Alma Odai di pertandingan semifinal Srikandi Merdeka Cup 2026. Indonesia menang dengan skor 3-0 di laga semifinal, Jumat (21/8).

Timnas Putri U-16 Indonesia Bungkam Yordania 3-0, Thailand Menanti di Final Srikandi Merdeka Cup

22 Agustus 2026
Kenangan Honda Astrea Grand 1996 di Surabaya. MOJOK.CO

Astrea Grand 1996 Milik Bapak: Saksi Bisu Ketangguhan Orang Tua Saya, Kini Tetap Slay Menyibak Kemacetan Surabaya

27 Agustus 2026
Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap MOJOK.CO

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap

21 Agustus 2026
ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
Alma Odai "Cucurella" Diburu Fans, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu MOJOK.CO

Alma Odai “Cucurella” Diburu Fans di Srikandi Merdeka Cup, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu

22 Agustus 2026
Kemiskinan Struktural di Balik Riuh Operasi Pesta Copet.MOJOK.CO

Kemiskinan Struktural di Balik Riuh Operasi Pesta Copet

25 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.