Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Rumus Mencari Arti Namamu di Al-Quran ala Gus Nur

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
31 Maret 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Gus Nur ternyata dai yang anak ’90-an.

Setelah cukup lama vakum dari pembicaraan, Gus Nur kembali mengguncang dunia silat lidah media sosial dengan sebuah penemuan fenomenal yang membuat tercengang. Di sebuah forum pengajian, dai yang pernah dikenal dengan “Dakwah Kubur”-nya ini memunculkan sebuah fakta mengejutkan mengenai arti nama Jokowi.

Iklan

Dalam video yang beredar di YouTube, Gus Nur menyebutkan nama Jokowi punya urutan abjad yang jika dijumlahkan akan menghasilkan angka “83”. Rumusnya pun cukup sederhana. Huruf “JOKOWI” diurutkan saja, misalnya huruf “J”, ada di urutan ke-10 dalam abjad, huruf “O” ada di urutan ke-15, dan seterusnya. Lalu ketika sampai semua huruf sudah memiliki angka, semuanya dijumlahkan… lalu—taraaaaaa… hasilnya 83.

Hm, brilian. Saya yakin jika Stephen Hawking masih hidup, beliau akan menyesal tidak mampu menghasilkan rumus seperti ini.

Nah, dari angka tersebut Gus Nur lalu mencocokkan dengan urutan surat dalam Al-Quran yang TERNYATA tertuju ke surat Al-Muthaffifin. Surat mengenai kumpulan orang-orang yang curang.

So emejing! So esketing!

Terang saja rumus ini segera digunakan oleh warganet untuk balik menyerang Gus Nur, menggunakan pendekatan serupa untuk melihat jatuh di mana nama Gus Nur dalam urutan surat Al-Quran. Hasilnya? Yaelah, kamu itung aja sendiri, males amat seh.

Harus diakui sidang jemaat yang berbahagia, Gus Nur ini memang manusia langka yang meramaikan dunia per-“gus”-an belakangan ini. Tidak seperti Gus Tommy Soeharto yang mendapatkan gelar “gus” dari Forum Ulama Berkarya atau Gus Mus dan Gus Dur yang karena ogah dipanggil “Kiai”, Gus Nur mendapatkan gelar gus dari…

…ya dari dirinya sendiri.

Beliau adalah contoh bagaimana gelar “gus” tidak bisa lagi dimonopoli oleh hubungan darah bapak dengan anaknya. Hebat, bukan?

Ibarat perjalanan meniti karier, Gus Nur benar-benar mendapatkan kepercayaan dari umatnya dari kerja kerasnya sendiri tanpa meminjam kebesaran nama besar keluarganya. Dan untuk yang satu ini, tanpa berniat untuk mengejek, saya sangat salut dengan beliau. Beliau adalah contoh bagaimana dengan kesungguhan, siapa pun bisa jadi apa pun yang diinginkan. Bahkan menjadi ulama tanpa belajar di pondok pesantren lebih dahulu.

Lho? Memangnya ilmu agama hanya bisa didapatkan dari pesantren? Ada banyak ulama hebat yang bisa dijadikan guru tanpa harus punya pondok pesantren kok. Jangan terlalu mengeksklusifkan pesantrenlah, seolah-olah kalau bukan dari pesantren, nggak punya ilmu agama mumpuni. Jangan gitu-gitu amat mikirnya.

Gus Nur sendiri memang mengakui bahwa beliau tidak bisa baca kitab kuning karena beliau tidak pernah mondok, tidak pernah mencicipi ngaji sorogan atau bandongan, tapi itu bukan berarti beliau tidak bisa ngaji sama sekali. Beliau bisa kok, beliau bisa menafsirkan beberapa ayat, beliau bisa mendoakan ke umatnya dengan suara-suara yang bikin baper, dan bahkan beliau bisa juga menyampaikan materi-materi agama dengan mudah dipahami. Paling tidak, semua hal mengenai prasyarat dan syarat menjadi seorang da’i beliau ini merasa punya lho.

Sayangnya, satu hal saja yang beliau tidak punya dan itu justru yang paling penting. Apa itu? Adab. Baik adab mengritik pemimpin maupun adab menggunakan ayat-ayat kitab suci dalam berdakwah. Seperti yang beliau tunjukkan saat bikin rumus cocoklogi nama dan urutan surat kitab suci.

Saya akui, beberapa orang melihat pondok pesantren sebagai wadahnya ilmu-ilmu agama yang canggih. Bagaimana mempelajari gramatikal bahasa Arab, ilmu tafsir, sampai dengan ilmu falak. Segala perangkat ilmu agama sepertinya ada di sana. Akan tetapi satu aspek penting yang sering dilupakan adalah di pesantren semua ilmu itu dilandasi dengan adab terlebih dahulu.

Bukankah Nabi Muhammad hadir di Mekah pada mulanya bukan membenahi kemajuan ilmu pengetahuan masyarakatnya, namun persoalan adabnya lebih dahulu?

Hal-hal semacam inilah yang setahu saya menjadi salah satu alasan kenapa banyak kiai lebih memilih memondokkan putranya ke pondok pesantren lain—bukan di pondok pesantrennya sendiri. Seperti Gus Mus yang dipondokkan ke Pesantren Krapyak, Gus Dur dipondokkan ke Pondok Tegalrejo Magelang, bahkan profesor sekaliber Quraish Shihab yang notabene bukan gus sih, tapi habib, pada masa kecilnya pernah dipondokkan jauh ke Pondok Darul Hadis al-Faqihiyah di Malang.

Pada titik ini, niat mengirimkan anak ke pesantren di tempat yang jauh bukan hanya soal mencari ilmu agama, akan tetapi juga mendidik agar menjadi pribadi yang tidak merasa spesial. Sebab dengan berada di pesantren lain, seorang putra kiai tidak akan mendapatkan keistimewaan yang bisa diperoleh seperti ketika ia bisa mondok di pesantrennya sendiri.

Iklan

Seorang putra kiai akan hidup sebagai seorang santri biasa di lingkungan yang jauh dari tempat ia biasa dikenal sebagai gus. Di tempat baru ia bukan siapa-siapa. Ia hanya santri biasa yang dipukuli kalau tidak ngaji atau ditakzir kalau melanggar aturan pondok. Mereka dipaksa hidup sederhana, pada perkembangannya hilang sudah label-label kehormatan bapaknya (beserta alasan seorang gus dipanggil gus), ketika berhadapan dengan teman-teman santrinya ia juga sama rentannya untuk dikerjai bahkan sampai di-bully dengan teman santri-santri yang lain.

Itulah kenapa, tidak sedikit gus (setidaknya yang saya kenal langsung) pada dasarnya cukup risih dengan panggilan itu. Bukan apa-apa, panggilan gus adalah sebuah beban yang mengerikan. Seseorang dipanggil kiai itu masih mending, ia muncul karena kemampuannya sendiri, tapi seseorang dipanggil gus itu muncul bukan dari upaya sendiri, melainkan muncul karena prestasi si “bapak”. Ini jelas bukan citra yang benar-benar menyenangkan.

Ada cukup banyak gus yang sampai enggan dipanggil gus, dan lebih memilih dipanggil mas atau kang saja. Bukan apa-apa, ada perasaan tidak nyaman ketika capaian yang dihasilkan oleh orang lain (meski dalam hal ini adalah bapaknya sendiri) harus dilekatkan pada si anak. Memang betul, ini panggilan penghormatan, tapi siapa sih yang nyaman ketika situ dihormati bukan karena kemampuan situ sendiri? Rasanya seperti dapat piala di mana situ nggak pernah ikut lombanya, ya nggak sih?

Hal ini yang mungkin jadi jawaban, kenapa cukup banyak gus yang jauh lebih bersajaha jika yang bersangkutan pernah mondok (nggak semua sih—saya tahu, tapi beberapa gus yang saya kenal seperti itu). Alasannya sederhana, karena beliau-beliau ini pernah juga jadi santri biasa. Tahu rasanya, pernah mengecap pahit-pahitnya.

Yang artinya, beliau pernah menjadi umat yang ia ceramahi ketika yang bersangkutan jadi dai. Pernah jadi umat yang ia nasihati sendiri. Pernah jadi umat yang ia tegur sendiri. Hal-hal yang kemudian mendidik para gus ini jadi lebih memiliki adab ketika sedang ceramah atau menegur seseorang.

Bahkan, ketika yang bersangkutan sudah menjadi kiai pun, orang-orang macam ini akan selalu bersahaja. Salah satu teman saya misalnya, yang saat ini dipercaya mengasuh salah satu pondok pesantren di Jawa Timur, sering kali mengeluhkan bentuk penghormatan santri-santrinya sendiri yang menurutnya jadi berlebihan.

Hal yang diakui malah membuatnya tidak nyaman. Asal situ tahu saja, teman saya ini kuliah sembari mondok di salah satu pondok mentereng di Jogja. Kehidupannya selama sekolah dan kampus, ya biasa-biasa aja. Nggak mungkin ada teman kampusnya yang ujug-ujug cium tangannya mentang-mentang teman saya ini gus. Biasa aja.

Teman saya ini kemudian cerita, kalau setiap dirinya lewat depan rumahnya sendiri di daerahnya, semua santri yang sedang berada di depan halaman rumah, seketika itu juga akan menghentikan aktivitasnya. Sak-dek, sak-nyet.

Berdiri mematung dan hanya berani melihat ke bawah. Mau itu ada yang sedang main bola, nyapu, bersih-bersih, bahkan sampai ada yang tadinya lari ngebut ke kamar mandi buat boker, semua akan menghentikan gerakannya. Benar-benar seperti lagi main “jadi patung” tapi yang ikutan main satu sekolah gitu.

Dan kiai muda ini selalu bilang ke santri-santrinya, “Sudahlah, kalau aku lewat mbok kalian tetep biasa aja ya? Kalau mau lewat, ya lewat aja, nggak usah rikuh begitu.”

Barangkali baginya, ia tidak ingin dihormati karena sejak duduk di bangku sekolah sampai dengan kuliah ia hidup bersama teman-teman santrinya yang senasib. Tidak punya kedudukan, tidak memiliki keistimewaan sehingga ketika dianugerahi keistimewaan mempunyai umat (dalam bentuk santri-santri), ia tidak ingin mendapatkan hormat yang berlebihan dari mereka. Hal ini tanpa disadari membentuk karakter teman saya ini jadi lebih berhati-hati dalam bertindak karena sadar bahwa dirinya tidaklah istimewa-istimewa amat meskipun faktanya ia betulan jadi kiai.

Hal semacam inilah yang saya pikir perlu dipikirkan kembali oleh Gus Nur. Bukan apa-apa, saya yakin ilmu agama beliau memang mumpuni meski nggak pernah mondok, hanya saja sangat disayangkan ketika kemampuan beliau tidak dibarengi dengan kematangan emosinal dalam menafsirkan dan menggunakan ayat-ayat kitab suci dalam dakwahnya. Hal yang malah digunakan untuk memprovokasi dengan cocoklogi rumus bikinan sendiri. Sebab, kalau mau marah-marah sendiri sih nggak apa-apa, tapi kalau marahnya ngajak-ngajak orang pakai kitab suci kan beda urusannya, Gus.

Btw, terlepas dari itu, saya jadi penasaran kalau pakai rumus dari Gus Nur ini, “MOJOK” diartikan jadi apa ya?

M = 13

O = 15

J = 10

O = 15

K = 11

Hasilnya = 64

Surat At-Taghabun, “Hari Diperlihatkannya Kesalahan-kesalahan”.

Nyuoh, kuapokmu kapan, Jok!

Terakhir diperbarui pada 31 Maret 2018 oleh

Tags: Al-Quranarti nama jokowigus nurnamarumus menghitung arti nama
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

ngaji al-qur'an.MOJOK.CO

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026
penyakit ain mojok.co

Hati-hati Penyakit Ain! Berikut Ciri-cirinya Menurut Al-Qur’an dan Hadits

4 Januari 2023
tadarus al quran raksasa mojok.co

Berburu Pahala di Akhir Puasa dengan Al Quran Raksasa

28 April 2022
nama panggilan jembut

Pengalaman Punya Panggilan Jembut

12 Desember 2021
hafal al-quran tidak perkalian

Hafal Al-Quran tapi Tak Mau Hafal Perkalian

28 November 2021
Agar Argumen Ade Armando soal Waktu Sholat Lebih Kontroversial

Agar Argumen Ade Armando soal Waktu Sholat Lebih Kontroversial

23 November 2021
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
Ide bisnis sewa HP flagship, ide aneh raup omzet 20 juta per bulan MOJOK.CO

Ide bisnis sewa HP flagship ternyata begitu menguntungkan, modal 3 HP bisa raup omzet 20 juta per bulan

20 Agustus 2026
Jombang makin kegilaan karnaval sound horeg: battle audio tengah malam, atraksi lampu jadi perburuan baru MOJOK.CO

Jombang Makin “Kegilaan” Sound Horeg: Battle Audio Tengah Malam, Atraksi Lampu Jadi Tren Kalcer Baru

23 Agustus 2026
Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran .MOJOK.CO

Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026

Punya 30 Kamar Kost Putri Ternyata Tidak Seindah yang Dibayangkan

19 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.