MOJOK.CO – Restoran all you can eat adalah penipuan terbesar abad ini. Sudah bayar ratusan ribu rupiah, malah disuruh masak sendiri, makan dikejar waktu, dan pulang membawa kolesterol serta penyesalan.
Cucu saya yang paling besar baru dapat gaji pertamanya. Dengan bangga, ia mengajak saya makan malam akhir pekan lalu.
“Kung, ayo makan enak. Kita ke restoran Jepang, makan daging sepuasnya. Bayar sekali, ambil sak modare (sampai mati, kenyang),” katanya dengan mata berbinar.
Restoran all you can eat adalah konsep kuliner paling tidak manusiawi
Sebagai pensiunan PNS yang sehari-hari hidupnya tenang dengan menu sayur bening dan tempe garit, tawaran makan daging sepuasnya tentu terdengar menggoda. Naluri purba saya sebagai manusia yang pernah melewati masa-masa susah pangan di era 70-an langsung bangkit.
Namun, sesampainya di restoran yang terletak di dalam mal mentereng itu, saya sadar bahwa saya telah masuk ke dalam perangkap kapitalisme modern yang bernama, all you can eat (AYCE).
Jika artikel Mojok sebelumnya menyebut sate taichan sebagai kuliner nggak jelas, izinkan saya, Sunardi, pria 65 tahun yang gigi gerahamnya sudah tinggal separuh, menobatkan restoran all you can eat sebagai “Konsep Kuliner Paling Tidak Manusiawi” yang pernah diciptakan.
Di mata saya yang tua ini, all you can eat bukanlah tempat makan. Itu adalah kamp kerja paksa yang dibungkus dengan aroma daging bakar dan AC sentral yang dingin.
All you can eat, sudah bayar mahal kok malah disuruh masak
Mari kita mulai dari keanehan pertama: Masak sendiri.
Seumur hidup saya, definisi restoran adalah tempat di mana kita datang, duduk manis, pesan, lalu pelayan mengantarkan makanan yang sudah matang dan lezat. Tugas kita cuma dua, mengunyah dan membayar.
Tapi di restoran all you can eat, konsep ini dijungkirbalikkan. Kita bayar 150 ribu sampai 200 ribu rupiah per kepala (uang pensiun saya menangis melihatnya), tapi kita disuruh kerja.
Di meja sudah tersedia kompor gas portabel dan panggangan. Kita harus mengambil daging mentah sendiri di kulkas. Lantas memanggangnya sendiri. Kita juga harus merebus sayurnya sendiri, harus meracik bumbunya sendiri.
Lha, terus koki restorannya ngapain? Main Ludo di dapur?
Cucu saya bilang, “Itu sensasinya, Kung. Cooking experience.”
Experience gundulmu. Saya ini sudah tua. Tangan saya sudah gemetar kalau pegang sumpit lama-lama. Saya ke restoran itu maunya dimanjakan, mau dilayani layaknya raja. Kok, malah disuruh jadi koki dadakan?
Mana asepnya ngebul ke mana-mana. Keluar dari restoran itu, baju batik sutra kesayangan saya baunya sudah kayak tukang sate madura yang habis kipas-kipas seharian. Rambut bau asep, kulit lengket minyak. Ini mau makan mewah atau mau simulasi kebakaran hutan?
Dan yang paling bikin dongkol, kalau masakannya nggak enak (karena kita salah racik bumbu atau dagingnya gosong), yang salah siapa? Kita sendiri! Restorannya cuci tangan. Mereka cuma sediakan bahan, kalau rasanya aneh, ya itu salah tanganmu sendiri. Jenius sekali cara mereka berbisnis.
Teror waktu yang dibatasi, makan rasa balapan
Keanehan kedua konsep all you can eat , dan ini yang paling bikin darah tinggi saya kumat: Durasi waktu makan 90 Menit.
Baru saja pantat saya menyentuh kursi, pelayannya sudah datang membawa bon dan bilang dengan nada mengancam: “Waktunya 90 menit ya Pak, dimulai dari sekarang. Last order di menit ke-75.”
Detik itu juga, kenikmatan makan hilang. Berubah menjadi kepanikan.
Makan itu, bagi orang seusia saya, adalah ritual. Harus dinikmati pelan-pelan. Dikunyah 33 kali sesuai sunnah (atau sesuai kemampuan gigi palsu). Diselingi ngobrol santai tentang politik atau masa depan cucu. Ditutup dengan minum teh hangat sambil senderan ngelus perut.
Tapi di all you can eat, makan adalah balapan. Cucu saya bolak-balik lari mengambil piring daging kayak orang kesurupan. “Ayo Kung, cepetan makannya, waktunya tinggal 40 menit lagi!”
Saya jadi tersedak. Daging sapi tipis (yang katanya US beef tapi rasanya kayak karet ban dalam) itu saya telan bulat-bulat tanpa sempat saya rasakan bumbunya.
Jantung berdegup kencang melihat jam dinding. Ini bukan makan malam keluarga. Ini lomba makan kerupuk 17 Agustusan tapi versi elit dan berbayar mahal.
Apa nikmatnya makan kalau dikejar setan waktu? Makanan belum turun ke lambung, sudah disuruh nambah lagi biar nggak rugi. Akibatnya apa? Begah. Perut kembung. Pulang-pulang saya harus minta kerokan sama istri dan minum obat maag.
Daging setipis tisu dan jebakan gorengan
Mari bicara soal kualitas makanan di restoran all you can eat. Nama restorannya sih terkesan keren karena usung nama, shabu & grill. Tapi mari kita bedah isinya.
Daging yang mereka tawarkan itu diiris setipis kertas HVS. Kalau diterawang di lampu, mungkin tembus pandang. Saya menyebutnya daging tisu.
Kita ambil setumpuk, begitu ditaruh di panggangan, cesss, menyusut jadi keripik. Dimakan nggak ada teksturnya, cuma rasa lemak dan bumbu instan.
Lalu ada jebakan Batman bernama side dish (makanan pendamping). Di meja prasmanan, mereka menaruh nasi goreng, karage, sosis, bakso goreng, sushi, dan es krim. Semuanya mengandung karbohidrat dan tepung yang bikin cepat kenyang.
Ini trik psikologis. Orang yang kalap (seperti cucu saya), akan mengambil semua gorengan itu di awal. Akibatnya? Baru makan daging dua piring, perut sudah penuh. Restoran untung besar. Kita bayar harga daging, tapi yang masuk ke perut cuma tepung terigu murah.
Saya melihat orang-orang di meja sebelah. Anak-anak muda itu makan membabi buta. Bukan karena lapar, tapi karena dendam. “Gue udah bayar 200 ribu, gue harus makan seharga 300 ribu biar bandarnya rugi!”
Mentalitas macam apa ini? Makan kok landasannya dendam dan perhitungan untung-rugi. Makan itu harusnya landasannya “Bismillah” dan “Alhamdulillah”.
Ancaman denda: Makan di bawah todongan senjata
Puncak dari ketidaknyamanan ini adalah tulisan kecil di setiap meja: “Makanan Tidak Habis Dikenakan Denda Rp 50.000 per 100 gram.”
Gusti Allah nyuwun ngapura. Sudah bayar di muka, masak sendiri, diburu waktu, sekarang diancam denda pula.
Saya jadi makan dengan perasaan was-was. Setiap kali mengambil sayur atau daging, saya mikir: “Kuat nggak ya ngabisin ini? Kalau nggak habis nanti pensiunan saya kepotong lagi buat bayar denda.”
Menjelang menit ke-90, suasana meja berubah tegang. Ada sisa daging tiga lembar dan sosis dua biji yang sudah dingin dan keras. Cucu saya sudah nyerah, perutnya sudah kayak gentong.
Saya ini pensiunan tentara, tetapi kalau makan nggak habis saja harus pakai denda, itu seperti saya sedang makan dengan todongan pistol di kepala. Akhirnya, dengan sisa-sisa tenaga pejuang Orde Baru, saya paksakan menelan sisa makanan itu. Rasanya mau muntah. Tapi saya tahan. Saya tidak rela bayar denda.
Saya merasa seperti sapi gelonggongan. Dipaksa gemuk bukan karena sehat, tapi karena sistem.
Kembalikan saya ke nikmatnya makan nasi padang
Setelah keluar dari restoran all you can eat itu dengan jalan tertatih-tatih karena kekenyangan (dan asam urat mulai terasa nyut-nyutan), saya merenung.
Dunia kuliner zaman sekarang sudah gila. Orang-orang kota rela menyiksa diri demi sebuah status sosial. Demi bisa update story pamer daging di atas kompor.
Padahal, kenikmatan hakiki itu sederhana. Bandingkan dengan makan nasi padang.
Begitu masuk ke rumah makan Padang, kita datang, duduk. Pelayan yang skill-nya ngalahin pemain sirkus itu datang membawa tumpukan piring. Prak! Semua lauk tersaji di meja. Rendang, ayam pop, gulai tunjang. Nggak perlu masak. Nggak perlu nunggu. Nggak ada batasan waktu. Mau duduk 3 jam sambil ngopi dan ngerokok (di area merokok) juga boleh.
Dan yang paling adil saat menikmati nasi padang, kita bayar apa yang kita makan. Nggak ada paksaan harus makan banyak biar nggak rugi. Kalau cuma sanggup makan ayam satu potong, ya bayar satu potong. Adil. Beradab. Manusiawi. Nikmatnya hakiki!
Atau bandingkan all you can eat dengan warteg. Tunjuk ini, tunjuk itu. Ibu wartegnya ngambilin (kita dilayani!). Harganya murah, rasanya otentik, kenyangnya pas. Pulang hati senang, dompet tenang.
Pesan untuk cucuku dan anak-anak muda yang hobi makan all you can eat
Nak, cucu, dan anak-anak muda sekalian. Berhentilah terjebak tren kuliner yang aneh-aneh itu. Badanmu itu amanah, bukan tempat sampah yang harus diisi penuh dalam waktu 90 menit.
Restoran AYCE itu mengajarkan kita sifat tamak (gluttony). Mengajarkan kita untuk tidak menghargai proses memasak. Dan mengajarkan kita untuk makan melebihi kapasitas perut.
Simpan uang 200 ribu itu. Belikan sate kambing 50 tusuk, bisa dimakan bareng-bareng sekeluarga di rumah dengan santai. Atau belikan vitamin buat bapak ibumu.
Biarlah Pak Sunardi ini dianggap kuno. Dianggap nggak gaul. Tapi setidaknya, saya makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan (balapan). Dan yang paling penting, saya tidak perlu masak sendiri kalau saya sudah bayar.
Sekian. Saya mau minum air hangat dulu, ini perut rasanya masih begah padahal sudah lewat 3 jam. Kapok.
Penulis: Sunardi
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Filosofi Hidup dari Seporsi Nasi Padang artikel lainnya di rubrik ESAI.














