Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Restoran All You Can Eat adalah Penipuan Terbesar Abad Ini: Mending Nasi Padang, Lebih Manusiawi

Sunardi oleh Sunardi
26 Januari 2026
A A
Restoran All You Can Eat adalah Penipuan Terbesar Abad Ini: Mending Nasi Padang yang Lebih Manusiawi MOJOK.CO

Ilustrasi Restoran All You Can Eat adalah Penipuan Terbesar Abad Ini: Mending Nasi Padang yang Lebih Manusiawi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Restoran all you can eat adalah penipuan terbesar abad ini. Sudah bayar ratusan ribu rupiah, malah disuruh masak sendiri, makan dikejar waktu, dan pulang membawa kolesterol serta penyesalan. 

Cucu saya yang paling besar baru dapat gaji pertamanya. Dengan bangga, ia mengajak saya makan malam akhir pekan lalu.

“Kung, ayo makan enak. Kita ke restoran Jepang, makan daging sepuasnya. Bayar sekali, ambil sak modare (sampai mati, kenyang),” katanya dengan mata berbinar.

Restoran all you can eat adalah konsep kuliner paling tidak manusiawi

Sebagai pensiunan PNS yang sehari-hari hidupnya tenang dengan menu sayur bening dan tempe garit, tawaran makan daging sepuasnya tentu terdengar menggoda. Naluri purba saya sebagai manusia yang pernah melewati masa-masa susah pangan di era 70-an langsung bangkit.

Namun, sesampainya di restoran yang terletak di dalam mal mentereng itu, saya sadar bahwa saya telah masuk ke dalam perangkap kapitalisme modern yang bernama, all you can eat (AYCE).

Jika artikel Mojok sebelumnya menyebut sate taichan sebagai kuliner nggak jelas, izinkan saya, Sunardi, pria 65 tahun yang gigi gerahamnya sudah tinggal separuh, menobatkan restoran all you can eat sebagai “Konsep Kuliner Paling Tidak Manusiawi” yang pernah diciptakan.

Di mata saya yang tua ini, all you can eat  bukanlah tempat makan. Itu adalah kamp kerja paksa yang dibungkus dengan aroma daging bakar dan AC sentral yang dingin.

All you can eat, sudah bayar mahal kok malah disuruh masak

Mari kita mulai dari keanehan pertama: Masak sendiri.

Seumur hidup saya, definisi restoran adalah tempat di mana kita datang, duduk manis, pesan, lalu pelayan mengantarkan makanan yang sudah matang dan lezat. Tugas kita cuma dua, mengunyah dan membayar.

Tapi di restoran all you can eat, konsep ini dijungkirbalikkan. Kita bayar 150 ribu sampai 200 ribu rupiah per kepala (uang pensiun saya menangis melihatnya), tapi kita disuruh kerja.

Di meja sudah tersedia kompor gas portabel dan panggangan. Kita harus mengambil daging mentah sendiri di kulkas. Lantas memanggangnya sendiri. Kita juga harus merebus sayurnya sendiri, harus meracik bumbunya sendiri.

Lha, terus koki restorannya ngapain? Main Ludo di dapur?

Cucu saya bilang, “Itu sensasinya, Kung. Cooking experience.”

Experience gundulmu. Saya ini sudah tua. Tangan saya sudah gemetar kalau pegang sumpit lama-lama. Saya ke restoran itu maunya dimanjakan, mau dilayani layaknya raja. Kok, malah disuruh jadi koki dadakan?

Iklan

Mana asepnya ngebul ke mana-mana. Keluar dari restoran itu, baju batik sutra kesayangan saya baunya sudah kayak tukang sate madura yang habis kipas-kipas seharian. Rambut bau asep, kulit lengket minyak. Ini mau makan mewah atau mau simulasi kebakaran hutan?

Dan yang paling bikin dongkol, kalau masakannya nggak enak (karena kita salah racik bumbu atau dagingnya gosong), yang salah siapa? Kita sendiri! Restorannya cuci tangan. Mereka cuma sediakan bahan, kalau rasanya aneh, ya itu salah tanganmu sendiri. Jenius sekali cara mereka berbisnis.

Teror waktu yang dibatasi, makan rasa balapan

Keanehan kedua konsep all you can eat , dan ini yang paling bikin darah tinggi saya kumat: Durasi waktu makan 90 Menit.

Baru saja pantat saya menyentuh kursi, pelayannya sudah datang membawa bon dan bilang dengan nada mengancam: “Waktunya 90 menit ya Pak, dimulai dari sekarang. Last order di menit ke-75.”

Detik itu juga, kenikmatan makan hilang. Berubah menjadi kepanikan.

Makan itu, bagi orang seusia saya, adalah ritual. Harus dinikmati pelan-pelan. Dikunyah 33 kali sesuai sunnah (atau sesuai kemampuan gigi palsu). Diselingi ngobrol santai tentang politik atau masa depan cucu. Ditutup dengan minum teh hangat sambil senderan ngelus perut.

Tapi di all you can eat, makan adalah balapan. Cucu saya bolak-balik lari mengambil piring daging kayak orang kesurupan. “Ayo Kung, cepetan makannya, waktunya tinggal 40 menit lagi!”

Saya jadi tersedak. Daging sapi tipis (yang katanya US beef tapi rasanya kayak karet ban dalam) itu saya telan bulat-bulat tanpa sempat saya rasakan bumbunya.

Jantung berdegup kencang melihat jam dinding. Ini bukan makan malam keluarga. Ini lomba makan kerupuk 17 Agustusan tapi versi elit dan berbayar mahal.

Apa nikmatnya makan kalau dikejar setan waktu? Makanan belum turun ke lambung, sudah disuruh nambah lagi biar nggak rugi. Akibatnya apa? Begah. Perut kembung. Pulang-pulang saya harus minta kerokan sama istri dan minum obat maag.

Daging setipis tisu dan jebakan gorengan

Mari bicara soal kualitas makanan di restoran all you can eat. Nama restorannya sih terkesan keren karena usung nama, shabu & grill. Tapi mari kita bedah isinya.

Daging yang mereka tawarkan itu diiris setipis kertas HVS. Kalau diterawang di lampu, mungkin tembus pandang. Saya menyebutnya daging tisu.

Kita ambil setumpuk, begitu ditaruh di panggangan, cesss, menyusut jadi keripik. Dimakan nggak ada teksturnya, cuma rasa lemak dan bumbu instan.

Lalu ada jebakan Batman bernama side dish (makanan pendamping). Di meja prasmanan, mereka menaruh nasi goreng, karage, sosis, bakso goreng, sushi, dan es krim. Semuanya mengandung karbohidrat dan tepung yang bikin cepat kenyang.

Ini trik psikologis. Orang yang kalap (seperti cucu saya), akan mengambil semua gorengan itu di awal. Akibatnya? Baru makan daging dua piring, perut sudah penuh. Restoran untung besar. Kita bayar harga daging, tapi yang masuk ke perut cuma tepung terigu murah.

Saya melihat orang-orang di meja sebelah. Anak-anak muda itu makan membabi buta. Bukan karena lapar, tapi karena dendam. “Gue udah bayar 200 ribu, gue harus makan seharga 300 ribu biar bandarnya rugi!”

Mentalitas macam apa ini? Makan kok landasannya dendam dan perhitungan untung-rugi. Makan itu harusnya landasannya “Bismillah” dan “Alhamdulillah”.

Ancaman denda: Makan di bawah todongan senjata

Puncak dari ketidaknyamanan ini adalah tulisan kecil di setiap meja: “Makanan Tidak Habis Dikenakan Denda Rp 50.000 per 100 gram.”

Gusti Allah nyuwun ngapura. Sudah bayar di muka, masak sendiri, diburu waktu, sekarang diancam denda pula.

Saya jadi makan dengan perasaan was-was. Setiap kali mengambil sayur atau daging, saya mikir: “Kuat nggak ya ngabisin ini? Kalau nggak habis nanti pensiunan saya kepotong lagi buat bayar denda.”

Menjelang menit ke-90, suasana meja berubah tegang. Ada sisa daging tiga lembar dan sosis dua biji yang sudah dingin dan keras. Cucu saya sudah nyerah, perutnya sudah kayak gentong.

Saya ini pensiunan tentara, tetapi kalau makan nggak habis saja harus pakai denda, itu seperti saya sedang makan dengan todongan pistol di kepala. Akhirnya, dengan sisa-sisa tenaga pejuang Orde Baru, saya paksakan menelan sisa makanan itu. Rasanya mau muntah. Tapi saya tahan. Saya tidak rela bayar denda.

Saya merasa seperti sapi gelonggongan. Dipaksa gemuk bukan karena sehat, tapi karena sistem.

Kembalikan saya ke nikmatnya makan nasi padang

Setelah keluar dari restoran all you can eat itu dengan jalan tertatih-tatih karena kekenyangan (dan asam urat mulai terasa nyut-nyutan), saya merenung.

Dunia kuliner zaman sekarang sudah gila. Orang-orang kota rela menyiksa diri demi sebuah status sosial. Demi bisa update story pamer daging di atas kompor.

Padahal, kenikmatan hakiki itu sederhana. Bandingkan dengan makan nasi padang.  

Begitu masuk ke rumah makan Padang, kita datang, duduk. Pelayan yang skill-nya ngalahin pemain sirkus itu datang membawa tumpukan piring. Prak! Semua lauk tersaji di meja. Rendang, ayam pop, gulai tunjang. Nggak perlu masak. Nggak perlu nunggu. Nggak ada batasan waktu. Mau duduk 3 jam sambil ngopi dan ngerokok (di area merokok) juga boleh.

Dan yang paling adil saat menikmati nasi padang, kita bayar apa yang kita makan. Nggak ada paksaan harus makan banyak biar nggak rugi. Kalau cuma sanggup makan ayam satu potong, ya bayar satu potong. Adil. Beradab. Manusiawi. Nikmatnya hakiki!

Atau bandingkan all you can eat dengan warteg. Tunjuk ini, tunjuk itu. Ibu wartegnya ngambilin (kita dilayani!). Harganya murah, rasanya otentik, kenyangnya pas. Pulang hati senang, dompet tenang.

Pesan untuk cucuku dan anak-anak muda yang hobi makan all you can eat

Nak, cucu, dan anak-anak muda sekalian. Berhentilah terjebak tren kuliner yang aneh-aneh itu. Badanmu itu amanah, bukan tempat sampah yang harus diisi penuh dalam waktu 90 menit.

Restoran AYCE itu mengajarkan kita sifat tamak (gluttony). Mengajarkan kita untuk tidak menghargai proses memasak. Dan mengajarkan kita untuk makan melebihi kapasitas perut.

Simpan uang 200 ribu itu. Belikan sate kambing 50 tusuk, bisa dimakan bareng-bareng sekeluarga di rumah dengan santai. Atau belikan vitamin buat bapak ibumu.

Biarlah Pak Sunardi ini dianggap kuno. Dianggap nggak gaul. Tapi setidaknya, saya makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan (balapan). Dan yang paling penting, saya tidak perlu masak sendiri kalau saya sudah bayar.

Sekian. Saya mau minum air hangat dulu, ini perut rasanya masih begah padahal sudah lewat 3 jam. Kapok.

Penulis: Sunardi
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Filosofi Hidup dari Seporsi Nasi Padang artikel lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 26 Januari 2026 oleh

Tags: all you can eatNasi Padangrestoran all you can eatrestoran jepang
Sunardi

Sunardi

Kakek empat cucu yang menolak tua dengan cara menulis. Sejak muda sudah jadi penulis lepas, meski seragam utamanya loreng. Kini menghabiskan masa pensiun di Batu, Jawa Timur, karena sadar bahwa berdebat lewat tulisan ternyata lebih seru daripada latihan fisik.

Artikel Terkait

7 Kebodohan Pelanggan AYCE di Jogja yang Bikin Rugi Sendiri (Unsplash)
Pojokan

Fakta Menyedihkan dari Pengunjung ACYE yang Baru Pertama Kali Datang dan Tidak Disadari oleh Banyak Orang

4 Oktober 2025
all you can eat ayce.MOJOK.CO
Ragam

Pertama Kali Makan All You Can Eat (AYCE) Berakhir Kapok: Habis Rp250 Ribu, tapi Pulang dalam Keadaan Malu dan “Tetap Lapar”

2 Oktober 2025
warung nasi padang asli, masakan padang.MOJOK.CO
Ragam

Sulit Mencari Masakan Padang di Jogja yang Pas bagi Lidah Orang Minang, Rendang Terasa Manis

15 Agustus 2025
Pertama kali makan masakan di warung nasi padang. Kenyang meski menyesal MOJOK.CO
Kuliner

Pertama Kali Makan di Warung Nasi Padang: Jadi Katrok, Kenyang dalam Penyesalan, Hingga Obati Nasib Malang Masa Kecil

5 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

OTT Wali Kota Madiun

Warga Madiun Dipaksa Elus Dada: Kotanya Makin Cantik, tapi Integritas Pejabatnya Ternyata Bejat

20 Januari 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO

Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina

20 Januari 2026
CCTV Jogja yang Lengkap dan Bisa Diandalkan Bikin Iri Orang Sleman Mojok.co

CCTV Jogja yang Lengkap dan Bisa Diandalkan Bikin Iri Orang Sleman

25 Januari 2026
Restoran All You Can Eat adalah Penipuan Terbesar Abad Ini: Mending Nasi Padang yang Lebih Manusiawi MOJOK.CO

Restoran All You Can Eat adalah Penipuan Terbesar Abad Ini: Mending Nasi Padang, Lebih Manusiawi

26 Januari 2026
Banjir di Muria Raya, Jawa Tengah. MOJOK.CO

Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026

20 Januari 2026
Jembatan Persen di Gunungpati, Semarang, dari kayu menjadi baja dan bercor beton MOJOK.CO

Jembatan Persen di Gunungpati Semarang, Dari Kayu Jadi Bercor Beton berkat Aduan “Solusi AWP”

24 Januari 2026

Video Terbaru

Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

21 Januari 2026
Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

20 Januari 2026
Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayakan

18 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.