Rendang Dikira Kalio, Sudah Salah Ngotot Pula: Ketika Orang Jawa Menista Warisan Masakan Padang

Jawa Ngatain “Polisi Rendang” ke Orang Sumatera. Nggak Sopan! MOJOK.CO

Ilustrasi Jawa Ngatain “Polisi Rendang” ke Orang Sumatera. Nggak Sopan! (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.COOrang Jawa nggak bisa membedakan rendang dan kalio. Lucunya, mereka nggak terima ketika dikasih tahu orang Sumatera, malah bilang mereka “polisi rendang”.

Lagi dan lagi, perdebatan terjadi lagi. Kali ini soal makanan dan yang terlibat adalah orang Jawa, salah satunya Jogja, dan Sumatera. Bahkan menurut saya ini bukan perdebatan karena orang Jawa yang ngeyel. Mereka memasak kalio tapi menyebutnya rendang. Waktu mendapat input dari orang Sumatera malah ngeyel.

Jadi, sebuah video di TikTok menampilkan seseorang sedang memasak sesuatu yang dia sebut sebagai… rendang. Kontennya menuai komentar dari orang-orang yang empunya makanan tersebut, kompak berusaha meluruskan pemahaman sang kreator bahwa yang sedang dimasak itu masih kalio, bukan rendang. 

Sayangnya, si kreator tidak menerima masukan dan kritik itu dengan baik. Sudah begitu banyak netizen yang sama-sama orang Jawa juga ikutan ngeyel. Sampai kemudian “polisi rendang” untuk mencibir komentar orang-orang Sumatera itu. 

Saya orang Jawa tulen. Lahir dan besar di Jogja. Sementara itu, istri saya orang Palembang (yang lahir dan tumbuh di Bengkulu). Pelan-pelan, saya tahu dan mengerti budaya orang Sumatera. Kalian harus menghidupi sebuah budaya untuk bisa memahaminya lebih lanjut, bukan sekadar jalan-jalan dan merasa cukup tahu. 

Oleh sebab itu, sebagai orang Jawa, khususnya Jogja, saya ingin ngomong ke saudara-saudara satu suku. Bahwa, tolonglah, jangan ngeyel, sok tahu, dan nggak sopan. Apalagi malah ngatain “polisi rendang”. 

Pelajaran membedakan rendang, kalio, dan gulai untuk orang Jawa

Untuk saudara-saudaraku orang Jawa, khususnya Jogja, rendang itu bukan hanya nama makanan. Ia merupakan sebuah proses. 

Rendang berasal dari kata marandang atau merandang yang artinya adalah ‘proses memasak daging dengan santan dan rempah lainnya dalam jangka waktu yang lama’. Rendang memang seharusnya kering, tidak berkuah atau basah. Nah, yang masih basah atau ada kuahnya itu disebut gulai dan kalio. 

Saya yakin kita semua sudah cukup paham dengan penampakan gulai. Sementara itu, kalio ada di tengah-tengah gulai dan rendang. Sudah tidak berkuah encer, tapi masih basah. 

Gulai yang terus-menerus dipanaskan akan menjadi kalio. Kalio, yang terus-menerus dipanaskan, akan menjadi rendang. Jadi, rendang memang bisa dibuat secara “tak sengaja” dari gulai yang terus-menerus dipanaskan. Sampai di sini, kawan-kawan Jawa dan Jogja bisa memahami, kan?

Oh, jangan menjadikan rendang di rumah-rumah makan padang di Pulau Jawa sebagai patokan. Apalagi yang menempelkan kertas bertuliskan “SERBA Rp12 ribu” seperti yang banyak saya temui di Jogja. 

Makanan Minang di situ sudah jauh berdeviasi dari pakem aslinya karena memang dibuat (dan bisnisnya juga dijalankan) oleh orang Jawa. Orang Minang asli, dan orang Sumatera pada umumnya, sangat menghargai makanannya. Mereka tetap akan percaya diri memasang harga yang pantas untuk makanan mereka. 

Baca halaman selanjutnya: Makna rendang bagi orang padang.

Makanan bukan sekadar pemuas perut

Bagi orang Sumatera, makanan tak hanya sekadar pemuas perut. Makanan adalah bentuk kesungguhan atau totalitas. Ia adalah bentuk pelestarian budaya dan harga diri di dalam masyarakat. Makanan juga wujud cinta, perayaan, dan penghormatan. 

Oleh sebab itu, wajar kalau orang Jawa dan Jogja memandang makanan orang Sumatera “cenderung berlebihan”. Jadi, ada perbedaan budaya di sini. Perbedaan yang kudu dipahami secara utuh, bukan untuk ngeyel dan malah ngata-ngatain “polisi rendang”. Itu namanya nggak sopan.

Kalau penasaran bagaimana seharusnya rendang itu, pergilah ke Sumatera. Nggak harus ke Sumatera Barat. Bisa ke Bengkulu, Sumatera Selatan, atau Sumatera Utara. Meski mungkin memang sudah agak melenceng juga, tapi minimal melencengnya nggak jauh-jauh amat seperti di Jawa. 

Sayangnya, banyak yang tidak memahami poin yang disampaikan di situ. Ada yang berkomentar, “Aku lebih suka gitu aja daripada kering, nanti seret.” 

Lho, sebentar sebentar, mereka orang-orang Sumatera itu nggak mempermasalahkan mana yang lebih sampeyan suka atau bagaimana selera sampeyan. Mereka hanya meluruskan pemahaman yang salah, yang sepertinya disalahartikan sebagai “ribet” dan “berlebihan” oleh sampeyan. 

Karena biasa ngomong bersayap, sih, orang Jawa, khususnya Jogja, jadi suka susah memahami maksud seseorang karena terbiasa menebak-nebak. Padahal, orang Sumatera berbicara blak-blakan. 

Perbandingannya dengan angkringan palsu dan bakpia kukus 

Nah, beberapa waktu lalu, Mojok menayangkan artikel soal “angkringan palsu” di Jakarta dan sekitarnya. Angkringan, tapi makanannya sate sosis dan nugget. Angkringan, tapi tidak ada kehangatan dari sang penjual.

Kurang dan lebihnya, seperti itulah emosi yang dirasakan oleh orang-orang Minang ketika melihat rendang kebanggaan mereka dimasak dengan keluar dari pakem. Malah, ada netizen yang bilang bahwa keluarganya memasak rendang dengan kecap agar warna gelapnya tercipta. 

Ehem, anu, mmm… sama seperti warna gelap rawon berasal dari kluwek dan bukan kecap. Warna gelap rendang juga tidak berasal dari kecap, Mas dan Mbak. 

Atau, mungkin padanan yang lebih sesuai untuk orang Jogja adalah bakpia kukus. Kenapa bisa sebuah bun, mirip bakpao, yang sama sekali tidak dipanggang, yang tekstur luar dan dalamnya sama-sama empuk, bisa disebut “bakpia”? 

Bakpia seharusnya dipanggang, tidak dikukus. Bagian dalamnya lembut, lapisan luarnya renyah. Kalau tidak seperti itu, silakan cari nama lain. Jangan menggunakan label bakpia. Kita kesal ‘kan ada bakpia gadungan yang melenceng dari pakem dan, parahnya lagi, mengacaukan referensi dan pengalaman wisatawan yang baru pertama kali ke Jogja dengan zero knowledge tentang bakpia. 

Kalau masih kurang paham, saya coba berikan perbandingan lagi dengan nasi dan bubur. Nasi dan bubur bahan pokoknya sama-sama dari beras. Bedanya, bubur itu basah dan benyek, nasi itu lebih kering.

Bentuknya beda, teksturnya beda, cara pembuatannya apalagi, sudah pasti beda. Kita tidak bisa menyebut bubur sebagai nasi, dan begitu pula sebaliknya. Sama halnya dengan rendang, kalio, dan gulai dalam kasus ini. Hanya karena kita tidak tahu, karena itu bukan produk budaya Jogja, tidak berarti kita lantas bisa semena-mena terhadapnya. 

Jangan menistakan budaya orang lain

Kalau kita sendiri tidak suka produk kebudayaan kita “dinistakan” dengan proses, bentuk, tampilan, dan rasa yang melenceng jauh dari pakem, kenapa tidak bisa kita menerapkannya untuk budaya orang lain? Sebuah makanan tidak hanya sekadar alat pemuas lapar. Ada tujuan untuk melestarikan adat, ada mimpi untuk menjaga eksistensi etnisnya di muka bumi ini. 

Mungkin karena terbiasa permisif, dimaklumi, dan menghindari konflik, orang Jawa, khususnya Jogja, jadi terkesan menyepelekan hal-hal yang dilakukannya. “Halah, cuma gitu aja, kok.” 

Silakan, jika itu hanya di antara kita sesama orang Jawa sendiri. Namun kalau sudah menyangkut budaya orang lain, orang Jawa, khususnya Jogja, perlu menjalankan prinsip hormatnya. Menghormati budaya dan pelajaran dari sesama itu bentuk akhlak yang mulia. Jangan malah sok tahu dan ngata-ngatain “polisi rendang”. Adabnya kamu buang ke mana, sih?

Penulis: Teguh Nugroho 

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Tiga Karakter Orang Minang yang Ada Pada Rendang dan analisis menarik lainnya di rubrik ESAI.

Exit mobile version