Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Pria Sejati Nggak Takut Pakai “Sarung”

Diana Nurwidiastuti oleh Diana Nurwidiastuti
11 Juli 2017
A A
esai KB mojok penyuluh keluarga berencana penyuluh kb bkkbn kondom kontrasepsi mojok.co

esai KB mojok penyuluh keluarga berencana penyuluh kb bkkbn kondom kontrasepsi mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kalau ditanya hal apa yang paling menakutkan buat perempuan, jawabannya bukan ketemu mantan yang udah jadi hot daddy, lipstik dijadiin krayon sama anak, apalagi kebangkitan komunisme. Itu semua nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan cocor bebek.

Daripada pembaca terlanjur salah kaprah mengira yang kita bicarakan ini adalah sejenis tanaman yang begitu populer dalam pelajaran IPA, sebaiknya saya jelaskan lebih dahulu makhluk seperti apa cocor bebek yang dimaksud dalam tulisan ini.

Cocor bebek atau spekulum adalah alat medis yang bentuknya seperti cocor bebek dan terbuat dari stainless steel yang digunakan untuk membuka vulva atau vagina. Boleh kok dijeda dulu buat gugling, biar lebih menghayati tulisan ini ke depannya.

Sudah tahu gambarannya, ya? Mengerikan? Tidak? Nah, barangkali harus tahu cara kerjanya dulu biar lebih ghreghet. Cocor bebek dimasukkan ke dalam vagina dalam keadaan miring dan tertutup, setelah itu diputar, kemudian dibuka, dan dikencangkan bautnya. Baru pemeriksaan siap dilakukan.

Cocor bebek biasanya digunakan untuk pemeriksaan seputar rahim, seperti IVA test (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat, untuk screening dini kanker serviks), pemasangan IUD (intraurine device) alias KB spiral, kuret (pembersihan janin yang gugur), dan sebagainya.

Sebenarnya, ketika sudah diperiksa, rasanya biasa saja, tapi sensasinya bisa jadi mengerikan buat sebagian orang. Mbak Thengu, misalnya, perempuan beranak satu ini mengungkapkan perasaannya menghadapi cocor bebek saat IVA test. “Bunyi sekrupnya pas dikencengin itu lho, kayak musik film horor,” tuturnya. Lain lagi dengan Jeung Pethak, ia merasa paling horor justru pada saat si cocor bebek dimasukkan. “Dingin, Sist. Dingin yang mengerikan,” ungkapnya singkat dengan pandangan menerawang.

Meskipun rasa sakitnya memang tidak sebanding dengan melahirkan, perkara cocor bebek ini cukup pelik. Dokter atau tenaga kesehatan biasanya menyarankan pasien untuk tarik nafas dan rileks. Namun, bagaimana bisa rileks kalau ada benda asing yang masuk ke tubuh kita? Meski sudah dengan rela menyetujui tindakan ini, rasa sakit masih tetap menghantui.

Sudah begini kok ya masih ada yang bilang korban pemerkosaan bisa menikmati saat diperkosa. Heh, situ minumnya air sungai Citarum, ya? Pikirannya kotor betul.

Jadi, kalau ada lelaki yang bilang “Perempuan nggak pernah ngerasain sunat, sih”, suruh dia baca tulisan ini. Biar dia tahu penderitaan perempuan? Nggak, biar traffic-nya Mojok naik.

Lalu belakangan ini kan juga ramai soal poster kampanye KB yang berslogan “Banyak Anak Banyak Masalah”. Sebenarnya nggak masalah sih asal ada dana cukup buat menghidupinya. UUD, ujung-ujungnya duit. Wqwqwq. Duit aja nggak cukup juga sih, karena untuk mengasuh anak juga perlu waktu dan yang terpenting perhatian orang tua. Jadi ya bebash mau punya anak berapa, asal orang tua komitmen untuk mengasuh anak dengan sebaik-baiknya.

Kalau ada yang bilang “Ah, orang zaman dulu punya anak 14 juga anaknya bisa hidup dan sukses semua”, sini aku kasih tahu yes. Selain lahan kebun dan sawah belum jadi hotel dan apartemen, zaman dulu belum ada mom wars macem sekarang, Shaaay. Nggak hanya Islam, ilmu parenting pun ada banyak mazhabnya, dan beberapa penganut garis keras mazhab tersebut akan siap memborbardir kita jikalau dirasa nggak sealiran.

Belum lagi, nanti pasti akan masuk berita dengan judul bombastis macam “Wow, Pasangan Ini Punya Anak Selusin Dapat Bonus Dua”, atau “Pacaran, Kawin, Tekdung 14 Kali, Pas Ditanya Rasanya Gimana, si Istri Bilang Ampe Udah Nggak Berasa Lagi”. Belum lagi akan dihadapkan pada kejamnya komen netizen yang budiman semacam “Wah, jalannya udah bisa buat puter balik kontainer tuh”, “Itu apal nggak nama anaknya siapa aja?”, “Anak terakhir ngelahirinnya tinggal bersin”, dan komen-komen seksis lainnya.

Kalau sekiranya kamu kuat menghadapi hal-hal tersebut, niscaya kamu sudah siap pula menghadapi persoalan lainnya.

Semua kembali lagi ke keputusan masing-masing keluarga. Mau punya anak banyak, silakan. Siapa tahu kayak Gubernur Sumbar, punya anak 10 dan semuanya hafal Al-Quran. Atau seperti Gen Halilintar, keluarganya seru dengan anak 11 orang.

Iklan

Kalau merasa punya anak satu aja udah pushyiaaaang dan selalu merasa butuh me time terus, apalagi bawaannya urung-uringan kalau lihat tumpukan piring kotor dan badan yang nggak keurus, KB bisa jadi pilihan. Kalau takut mau IUD, enggan suntik rutin, atau nggak telaten minum pil, bisa pilih KB sarung.

Buat bapak-bapak, kalau sungguhan pria sejati dan sayang istri, jangan egois nggak mau pakai sarung. Perempuan itu sudah hamil, melahirkan, menyusui, masih harus diobok-obok lagi untuk pasang IUD. Sebagian pasang IUD karena si bapak nggak suka pakai sarung.

Padahal, bukannya pakai sarung itu enak ya, Pak? Selain menghindari masuk angin, juga jadi kelihatan NU banget. Eh, ini sarung gajah duduk apa sarung belalai gajah?

Terakhir diperbarui pada 12 Mei 2021 oleh

Tags: anakCocor BebekGen HalilintarHot DaddykbKB SarungkomunismeMom WarsVulvaparentingVagina
Diana Nurwidiastuti

Diana Nurwidiastuti

Artikel Terkait

Berkaca dari Kasus Yurizal, Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya punya empati MOJOK.CO
Esai

Berkaca dari Kasus Yurizal: Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya Berempati

7 Agustus 2026
Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif MOJOK.CO
Esai

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif

21 Juli 2026
Orang tua, ibu.MOJOK.CO
Urban

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia MOJOK.CO
Esai

Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia

8 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Di Balik Lanyard Startup Jaksel: Digembleng Target Tinggi, Digaji Pas-pasan MOJOK.CO

Di Balik Lanyard Startup Jaksel: Digembleng Target Tinggi, Digaji Pas-pasan

3 Agustus 2026
Seporsi kekalahan anak laki-laki pekerja swasta di Surabaya: merasa gagal karena kerja gaji kecil pas-pasan, tak kunjung sanggup ringankan beban orang tua di masa tua MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Anak Laki-laki: Kerja Ngoyo tapi Masih Begini-begini Saja, Tak Sanggup Ringankan Beban Ortu di Masa Tua

3 Agustus 2026
Andai ormas-ormas lain seperti Yakuza Maneges Kediri. Bukan tukang malak tapi garda depan berantas kekerasan seksual di pondok pesantren MOJOK.CO

Andai Ormas Lain seperti Yakuza Maneges Kediri: Dulu Dihina tapi Buktikan Sangat Berguna

5 Agustus 2026
Kenapa aktivis yang memulai bisnis kerap dicap sebagai kapitalis? MOJOK.CO

Kenapa aktivis harus miskin dan yang memulai bisnis kerap dicap sebagai kapitalis?

4 Agustus 2026
Elang Jawa terbang bebas di Gunung Gede Pangrango, tapi masih berada dalam ancaman MOJOK.CO

Konsultasi Publik di Bandung Hasilkan Masukan Strategis Konservasi Elang Jawa 2026-2036

3 Agustus 2026
Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.