Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Pilih SCBD atau Pindah Cikarang demi Karier? Cikarang Aja, SCBD Nggak Semenarik Itu

Daripada mimpi bekerja di SCBD yang belum jelas status sisi elitenya, lebih baik impikan pekerjaan dengan kompensasi dan prospek berkembang yang cerah. Ya di Cikarang itu tadi, misalnya.

Christian Evan Chandra oleh Christian Evan Chandra
19 Maret 2022
A A
Pilih SCBD atau Pindah Cikarang demi Karier? MOJOK.CO

Ilustrasi pusing milih SCBD atau Cikarang. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sudah, kalau di Cikarang saja menjanjikan, tidak perlu memaksakan diri kerja di SCBD demi status dan popularitas. Pusing.

Boyongan ke Ibu Kota Negara (IKN) yang baru memang masih lama. Namun, nggak ada salahnya untuk memikirkan langkah-langkah taktis terkait karier sejak sekarang. Terutama bagi mereka, yang sudah sejak lama kepingin berkarier di Jakarta, salah satunya kawasan SCBD yang “seksi” itu.

Iklan

Memang, Jakarta masih akan tetap jadi pusat bisnis. Namun, ketika investor pada hengkang, Jakarta akan mengalami penurunan pamor. Apakah kawasan SCBD bakal kena dampaknya? Tidak mungkin tidak, meskipun kita belum bisa mengukur seberapa besar dampak tersebut.

Nah, beberapa hari yang lalu, jagat Twitter ramai setelah seseorang meminta nasihat untuk memilih pekerjaan di Cikarang dengan kompensasi lebih tinggi versus di SCBD dengan kompensasi lebih rendah, tetapi terlihat lebih keren.

Kalau saya, melihat selisih gajinya, sulit untuk memilih SCBD meskipun dia yang bertanya bisa tinggal di rumahnya sendiri di Jakarta dan harus ngekos di Cikarang. Hal yang membuat saya bingung, sebagai seorang warga Jakarta adalah, mengapa SCBD terlihat begitu keren untuk si penanya.

#1 SCBD memang bisa “memanjakan mata”, tapi dompet pasti nangis

Kawasan SCBD dan sekitarnya memang banyak dihuni oleh perusahaan kelas atas, beberapa lembaga negara, serta pusat perbelanjaan, kuliner, dan tongkrongan yang juga kelas atas. Apalagi di SCBD itu sendiri, misalnya ada Pacific Place dan Ashta yang pastinya memanjakan mata.

Masalahnya, harga barang di sini sering membuat air mata mengalir. Ujungnya, para pekerja memilih berbelanja di pusat perbelanjaan kelas menengah. Untuk makanan, kantin karyawan adalah jawabannya. Sementara itu, ketika jalan-jalan di SCBD, mentok window shopping.

Jika sesekali ke SCBD saja sudah cukup menyedihkan, apalagi bertahan di sini setiap hari?

#2 Lokasinya mudah dijangkau, tapi tempat tinggalnya mahal betul

Lokasinya yang berada di Jakarta Selatan memang tergolong mudah dijangkau transportasi publik. Mau TransJakarta? Ada. MRT, kemudian disambung KRL Commuter Line? Bisa juga.

Soal transpor memang masih bisa diatasi. Terutama bagi mereka yang tinggal dekat sana, meski numpang sama orang tua atau saudara.

Berita buruk datang jika kamu adalah perantau. Misalnya beberapa teman saya yang kerja di SCBD. Mereka memilih kos di kawasan penyangga. Transportasi publik jadi andalan.

Mereka pernah berencana untuk membeli atau setidaknya menyewa hunian yanh lebih dekat. Namun, untuk unit studio apartemen yang sudah uzur pun tidak murah. Sudah gitu, hunian di pinggiran juga makin mahal. Hunian di pinggiran ini terhitung sangat jauh lho dari SCBD.

Bayangkan jika lembur sampai tengah malam. Boro-boro menikmati pusat perbelanjaan dan tongkrongan di sekitar kantor. Sudah pusing memikirkan caranya pulang dengan ongkos sehemat mungkin. Pagi hari, ketika kadung terlambat masuk kantor, harus keluar ongkos ekstra layanan ojek online yang lebih cepat.

#3 Memilih jenis pekerjaan dulu atau lokasinya?

Umumnya, ketika berkesempatan memilih satu dari beberapa pekerjaan di SCBD, beberapa faktor akan diperhitungkan secara bersamaan. Misalnya, jenis pekerjaan, perusahaannya kayak apa, gimana skema kompensasi, status kontrak, sampai potensi pendapatan bersih yang bisa diperoleh setelah dipotong biaya-biaya yang dibutuhkan sehari-hari.

Iklan

Jika gagal menemukan pilihan paling ideal, kita akan mulai mempertimbangkan faktor pendukung lainnya. Iya, yang saya maksud adalah lokasinya.

Biasanya, orang menjatuhkan pilihan kerja berdasarkan lokasi kantor ini bukan berdasarkan status atau popularitas. Teman-teman saya, misalnya, memilih yang dekat dan mudah dijangkau.

Nah, di sini timbul dilema. Orang sering salah mengambil pekerjaan karena terlalu memprioritaskan popularitas dan status. Padahal, pekerjaan yang ideal adalah yang bisa menghadirkan kesejahteraan dompet serta jiwa. Bisa memberi kita kesempatan berkembang. Terlalu tenggelam dalam popularitas dan status bakal membunuhmu perlahan.

#4 Pamor SCBD pasti turun seiring digitalisasi

Meskipun dua investor besar IKN hengkang, di mana SoftBank adalah salah satunya, bukan berarti pembangunan IKN berhenti. Roadmap yang bisa kita baca menegaskan bahwa pembangunan akan dilakukan secara bertahap dalam jangka yang cukup panjang. Artinya, Pemerintah punya waktu untuk mencari investor pengganti.

Memanfaatkan pendapatan negara dan berutang memang bisa saja. Namun, sebisa mungkin, jangan terlalu besar, sih, karena nantinya menjadi beban generasi berikutnya.

Ketika IKN mulai beroperasi nantinya, pasar di Jakarta tentu berkurang karena sebagian pejabat dan ASN pindah. Sebagian dari pihak swasta mungkin juga perlu boyongan jika kegiatan mereka membutuhkan aktivitas secara fisik di kantor lembaga negara.

Namun, memang, rasanya terlalu mahal untuk memindahkan pusat bisnis dan pendidikan ke IKN sehingga ujung-ujungnya status itu tetap akan diemban oleh Jakarta. Jakarta turun pamor, tetapi tidak cukup signifikan. Kayaknya, sih, demikian.

Ancaman yang lebih signifikan adalah digitalisasi yang diiringi oleh meningkatnya kompetisi di industri. Bertambahnya pesaing berarti ketatnya persaingan harga dan perlu disiasati dengan pengeluaran yang efektif dan efisien.

Pengalaman Work From Home (WFH) selama dua tahun terakhir ditambah perkembangan metaverse ke depannya akan mengurangi kebutuhan bekerja secara fisik dan bisa menghemat biaya kantor, apalagi yang masih sewa. Nah, sekalipun dia mewah, sisi elite akan berkurang ketika banyak ruang kosong muncul alias sepi pengguna.

Jadi, kehilangan dua investor besar belum tentu memupuskan harapan terwujudnya IKN di Kalimantan itu. Sekalipun IKN batal terwujud, perkembangan zaman bisa jadi membuat kebutuhan ruang kantor di SCBD dan sekitarnya berkurang, baik dari lembaga negara maupun pihak swasta.

Daripada mimpi bekerja di SCBD yang belum jelas status sisi elitenya, lebih baik impikan pekerjaan dengan kompensasi dan prospek berkembang yang cerah. Ya di Cikarang itu tadi, misalnya.

Oh iya, jika boleh ditanya, tidak sedikit di antara pegawai di ibu kota yang berharap kelak bisa Work From Home secara penuh selamanya. Dengan demikian, berkumpul di Jakarta dan sekitarnya tak perlu lagi dilakukan.

Dua provinsi terfavorit untuk pindah adalah Bali dan Yogyakarta. Harga tanah dan rumah di sana memang sudah tidak murah, tetapi masih lebih manusiawi dengan luas yang juga lebih ideal ketimbang memaksakan SCBD. Tinggal di pinggiran? Ya nggak masalah, tapi kamu harus bikin hitungan secara rinci tentang ongkos transpor dan kebutuhan lainnya.

Memilih pekerjaan tak pernah soal pendapatan semata. Sistem pendukungnya juga harus terjangkau, manusiawi, dan punya prospek jangka panjang. Sudah, kalau di Cikarang saja menjanjikan, tidak perlu memaksakan diri kerja di SCBD demi status dan popularitas. Pusing.

BACA JUGA Menerka Alasan Anak Muda Nggak Mau Kerja di Cikarang dan ulasan menarik lainnya di rubrik ESAI.

Penulis: Christian Evan Chandra

Editor: Yamadipati Seno

Terakhir diperbarui pada 19 Maret 2022 oleh

Tags: cikarangjakarta selatanJakselkawasan SCBDSCBDtips memilih pekerjaan
Christian Evan Chandra

Christian Evan Chandra

Pecinta ilmu aktuaria dengan hobi seputar menulis, kuliner, dan gadget.

Artikel Terkait

Seporsi kemenangan kecil yang bisa dirayakan di kehidupan dewasa usai berporsi-porsi kekalahan MOJOK.CO
Urban

Menemukan Seporsi Kemenangan yang Layak Dirayakan usai Berporsi Kekalahan dari Kehidupan Dewasa yang Bikin Setengah Gila

7 Juli 2026
Setiabudi Jakarta Selatan, Work Life Balance.MOJOK.CO
Urban

Kawasan Setiabudi Strategis buat Ngekos, tapi Menyimpan Masalah yang Menyiksa Perantau Gen Z Jakarta

7 Juli 2026
kebayoran baru, jakarta selatan, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Punya Kos Murah di Kebayoran Baru adalah Kemewahan, Biar Berisik tapi Setidaknya Menyelesaikan 3 Masalah Besar Perantau di Jakarta

3 Juli 2026
Naik BYD Menyusuri Jalanan Jakarta Bikin Saya Jadi Kampungan MOJOK.CO
Otomojok

Pengalaman Menahan Rasa Penasaran di Dalam Kabin Mewah BYD demi Tidak Terlihat Kampungan ketika Menyusuri Jalanan Jakarta

30 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pakai jastip Mie Gacoan di Jombang: bayar lebih mahal untuk menu membagongkan MOJOK.CO

Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan

20 Juli 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026
Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum.MOJOK.CO

Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum

20 Juli 2026
kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.