Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Pengalaman Gabung Pemuda Pancasila di Medan yang Saya Sesali

Poetra Siregar oleh Poetra Siregar
1 November 2019
A A
pemuda pancasila ikatan pemuda karya medan mojok.co pengalaman bentrok kelahi perang malak preman yapto ss olo panggabean

pemuda pancasila ikatan pemuda karya medan mojok.co pengalaman bentrok kelahi perang malak preman yapto ss olo panggabean

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Organisasi Pemuda Pancasila baru saja menganugerahi Jokowi dan Ma’ruf Amin gelar anggota kehormatan. Tapi bagi penulis ini, pengalaman menjadi anggota PP di Medan justru ia sesali.

Saya masih kelas 1 SMA ketika kali pertama mengenal dunia ormas kepemudaan. Itu tahun 1997, 22 tahun yang lalu. Di Kota Medan kala itu, ada dua ormas kepemudaan yang begitu kuat, yakni Ikatan Pemuda Karya dan Pemuda Pancasila.

Di kecamatan kami, ada dua kelurahan yang dihubungkan sebuah jembatan. Kedua kelurahan itu punya pilihan ormas yang berbeda. Di wilayah saya, kami condong ke Pemuda Pancasila yang diketuai Japto Soejoseomarno atau biasa disebut Yapto SS. Sedangkan di wilayah satunya lagi, mereka lekat dengan Ikatan Pemuda Karya yang saat itu lebih dikenal sebagai ormasnya Almarhum Olo Panggabean, orang kuat di Medan.

Dengan alasan ingin terlihat gagah, tambah lagi dunia ormas sangat kental di Medan saat itu, saya yang masih duduk di kelas 1 SMA memutuskan bergabung dengan Pemuda Pancasila. Waktu itu gabung PP juga terasa mengasyikkan karena bisa punya penghasilan tanpa capek-capek kerja. Tambah lagi, sehari-hari saya bisa kumpul dengan teman-teman.

Ketika anak ranting Medan Perjuangan dibentuk, saya dan teman-teman dengan semangat bergerak menyusun daftar pengurus/ tapi, karena saya belum cukup umur, nama saya tidak dimasukkan ke dalam daftar organisasi. Tapi itu tidak terlalu penting. Bagi saya, asal bisa pakai kaus PP, rasanya sudah gagah. Jargon organisasi ini juga sangat macho, “Sekali layar terkembang, surut kita berpantang.”

Itulah awal awal mula kisah buruk yang saya sesali kemudian. Sejak masuk ormas, saya mulai kenal minuman alkohol, mulai kenal istilah nanduk, bahasa Medan buat “memalak”, mulai kenal obat-obatan dan berkelahi.

Sebagai anak yang pernah mondok selama dua tahun di salah satu pondok pesantren di Medan dan lahir dari keluarga yang salah seorang kakeknya adalah ustadz, sudah pasti perilaku saya yang demikian sangat tidak diharapkan keluarga. Saya jadi lebih sering pulang saat keadaan mabuk. Selalu ada berita berbagai macam kasus yang sampai ke keluarga saya.

Di Medan, Pemuda Pancasila kerap bertempur dengan Ikatan Pemuda Karya. Keduanya adalah lawan sejati, musuh bebuyutan. Bukan sekali dua kali kami berperang memperebutkan lahan parkir dan wilayah kekuasaan.

Hal terbodoh yang pernah saya lakukan saat masih menjadi anggota Pemuda Pancasila adalah menyerbu kampung orang hanya bermodalkan pengaruh pil Lexotan dan minuman beralkohol. Kala itu kami bertarung dan menjarah rumah seorang Ketua Ikatan Pemuda Karya sambil berteriak layaknya seorang jagoan. Saya dan teman-teman berperang hanya bermodalkan balok, tanpa ada pengamanan sedikit pun, sedangkan ketua ranting dan pimpinan anak cabang duduk manis di mobil.

Ketika keaadaan tubuh saya sudah kembali normal, saya berpikir, alangkah murahnya nyawa saya, hanya ditebus beberapa puluh pil Lexotan yang kala itu harganya seribu rupiah per butir. Sementara kami anggota rendahan bertarung, para ketua yang mendapat lahan kekuasaan. Dan di lahan itu, kami juga yang akan mencari uang untuk disetorkan kepada ketua. Sementara jika kami terluka karena berperang, yang kami terima hanyalah ucapan “Semoga lekas sembuh”.

Saya kemudian memutuskan keluar dari Pemuda Pancasila karena suatu peristiwa. Pada suatu malam, saat akan ada pelantikan ranting Pemuda Pancasila di satu daerah di Medan bernama Pahlawan, saya menelan 13 butir pil Lexotan sebagai persiapan kalau terjadi kerusuhan. Tidak lupa saya selipkan badik kecil di sela kaki. Tapi karena pengaruh obatnya terlalu cepat, jadilah saya nyemplung ke selokan dekat rumah dan harus digotong balik ke rumah oleh teman-teman saya.

Di rumah, keluarga yang sudah antipati dengan tingkah saya sangat marah. Kakak saya memberi saya makan seolah saya ini binatang. Saya juga dikunci di luar sampai menangis. Setelah kejadian itu, saya tidak mau berurusan dengan dunia ormas lagi. Lebih banyak gila-gilanya daripada warasnya.

Bagaimana tidak, pernah di satu momen, saya dipukuli oleh beberapa orang hanya karena saling ejek. Saya yang tak terima kemudian mencari rumahnya bersama teman-teman saya. Kami hampir membakar rumah itu sampai membuat kakak si orang yang kami cari menangis-nangis minta ampun. Pembakaran itu urung terjadi karena pada akhinya kami tak menemukan orang yang kami cari.

Tapi ada sedikit hal positif yang saya dapat berkat mengikuti ormas PP: saya jadi tidak mudah takut saat menghadapi lawan, dan itu terbawa sampai sekarang. Nyali saya masih tinggi jika harus menghadapi perkelahian. Walaupun begitu, saya bersyukur saya sudah keluar dari dunia itu. Nakal saat muda boleh-boleh saja, tapi goblok sampai tua rasanya keterlaluan. Apalagi ketika kenakalan itu bikin nyawa hanya dihargai murah.

Iklan

BACA JUGA Medan, Kota Para Ketua atau esai-esai menarik lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 1 November 2019 oleh

Tags: ikatan pemuda karyamedanolo panggabeanpemuda pancasilayapto ss
Poetra Siregar

Poetra Siregar

Artikel Terkait

Orang Medan naik angkot di Bandung. MOJOK.CO
Ragam

Orang Medan Pertama Kali Naik Angkot di Bandung, Punya Cara Tersendiri Meminta Sopir Berhenti Sampai Bikin Penumpang Syok

5 Januari 2026
Pramoedya Ananta Toer Ditolak Aspal Blora MOJOK.CO
Esai

Catatan Toering: Ketika Aspal Blora Menolak Pramoedya Ananta Toer

8 Februari 2025
Ragam

Perempatan Timbangan Medan, Persimpangan Paling Ngeri yang Bikin Nyawa Pengendara ‘Berharga Murah’

3 Oktober 2024
Kuliah di BSI di Jakarta Selatan Diragukan, Mahasiswa Medan Justru Bisa Kerja Layak sebelum Lulus MOJOK.CO
Kampus

Diragukan karena Kuliah di Universitas BSI, Saya Malah Bisa Kerja di Perusahaan Besar Sebelum Lulus

12 Agustus 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ilustrasi Honda Vario Sumber Derita dan Bikin Gila di Jalanan Surabaya (Wikimedia Commons)

Honda Vario Adalah Motor yang Paling Menderita di Surabaya: Mesin Loyo Itu Sengsara Dihajar Jalan Rusak

6 Maret 2026
Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

28 Februari 2026

Beras Porang Indomaret, Makanan Aneh yang Saya Sesali untuk Sahur padahal Menu Favorit Orang Jepang

3 Maret 2026
Anak rantau di Jogja pilih jadi marbot. MOJOK.CO

Derita Anak Rantau di Jogja: Sulit Cari Kos Murah, Nyaris Terjebak Dunia Gelap, hingga Temukan “Berkah” di Masjid

6 Maret 2026
Anak Akuntansi UGM burnout. MOJOK.CO

Bela-belain Kuliah di UGM Sampai Kena Mental demi Bahagiakan Ayah Ibu yang Hanya Lulusan SD hingga Jadi Wisudawan Terbaik

6 Maret 2026
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) kerap disalahpahami mahasiswa PTN atau PTS umum lain MOJOK.CO

4 Hal yang Sudah Dianggap Keren dan Kalcer di Kalangan Mahasiswa UIN, Tapi Agak “Aneh” bagi Mahasiswa PTN Lain

28 Februari 2026

Video Terbaru

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026
Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

3 Maret 2026
Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

28 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.