Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Nggak Seperti Kami yang LDII, Muhammadiyah Sudah Cukup Lucu Kok

Eksan Susanto oleh Eksan Susanto
30 Oktober 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Jika diibaratkan seperti sepeda onthel: rangkanya NU, setang dan sedelnya Muhammadiyah, sedangkan kami yang LDII ini cuma stiker buat nutupin cat yang ngelupas aja.

Kemarin, seorang oknum kader Muhammadiyah mengeluhkan ketidakmampuan untuk melucu seperti kebanyakan warga Nahdliyin. Saya cuma mau bilang, “Mending situ cuma dianggap tidak lucu, lah kami ini dianggap nggak lucu, kaku, garis keras, sesat pula. Mantep toh?”

Saya sejak orok udah sah menjadi bagian dari warga LDII. Itu tuh, yang ketika sampeyan coba ngetik empat huruf tersebut di Google, rekomendasi yang kebanyakan muncul adalah bukti kesesatan, mantan yang insaf, alasan untuk menjauhi LDII, dan stereotip negatif lainnya.

Coba bandingkan dengan teman-teman dari Muhammadiyah. Kalau sampeyan di Muhammadiyah masih enak meskipun memiliki jargon “Yang penting Al-Quran Al-Hadis” tapi nggak pernah digosipkan sesat seperti kami. Bisa dibilang, organisasi keagamaan kalian cenderung berkonotasi jauh lebih positif ketimbang kami yang LDII.

Saya yakin, meskipun sampeyan nggak baca doa qunut sampai mengharamkan rokok, sampeyan nggak pernah kan merasa khawatir untuk mengaku sebagai warga Muhammadiyah?

Sedangkan kami yang LDII ini, sejak puluhan tahun silam, sebelum banyak artis hijrah, kami yang umumnya bercelana cingkrang sering mendapat lirikan nyinyir atau senyum sinis dari orang lain.

Dalam hati kecil ini, entah kenapa muncul saja perasaan lebih baik mengaku sebagai nonmuslim sekalian saja daripada ngaku sebagai warga LDII. Bahkan asal sampeyan tahu saja, waktu saya menulis ini pun saya ingin sekali menjadi anonim, karena sampai sekarang pun tidak banyak yang tahu saya warga LDII. Tuh lihat inlander sekali bukan kami ini?

Kami yang menjaga jarak karena bukan muhrim diartikan sebagai sok alim atau sombong. Kami yang dikatakan punya Imam, dianggap punya “Kerajaan Islam” sendiri.

Lah itu, di luar sana bukannya ada juga yang mendaku sebagai Imam Besar. Nggak ada masalah tuh sampai sekarang? Didukung banyak banget orang lagi dan iklaim sampai jutaan.

Hal itulah yang bikin saya masih heran, kenapa predikat sebagai umat muslim yang terlalu fanatik cuma dilekatkan pada kening kami doang ya?

Padahal bicara tentang kefanatikan tentu tergantung pada individu masing-masing. Nyatanya saya punya saudara warga Nahdliyin, beliau mewanti-wanti anaknya, menantu yang diterima hanyalah menantu dari kalangan Nahdliyin.

See...? Di luar sana gosip yang beredar, warga LDII dilarang menikah dengan orang di luar LDII, padahal istri saya, keluarga besar istri saya, nyel… orisinil warga NU semua-semuanya bahkan sampai yang belum brojol alias masih dalam kandungan. Dan saya? Enjoy aja tuh nggak ada masalah.

Oke balik lagi, mengenai keluhan nggak bisa melucu sebagai warga Muhammadiyah, mbok ya nggak usah maksa bisa lucu, Mas. Di luar sampean ada kami warga LDII yang jangankan untuk melucu, bisa merasa yakin untuk tidak dirasani saja kami sudah mengucap syukur Alhamdulillah.

Saya sadar bahwa kami terlampau serius, satu sampai dua strip di atas keseriusan warga Muhammadiyah. Kami dinilai cenderung eksklusif, bahkan untuk melucu pun kami eksklusif. Tokoh-tokoh kami tak ada yang muncul ke permukaan untuk menaanggapi isu nasional, kalaupun ada saya yakin tidak ada yang tahu kalau beliau tokoh LDII. Ya maklum, masyarakat kelas dua gitu.

Iklan

Sampeyan masih beruntung punya Muhammadiyah Garis Lucu meski harus disentil Mas Iqbal Aji Daryono. Walau menurut sampeyan gerakan itu nggak ada lucu-lucunya sama sekali, lah kami? Jangankan garis lucu, yang ada ketika ngetik di Google dengam kata awal LDII, pilihan yang muncul adalah “keras”, “sesat”. Ngaaa~

Muhammadiyah sebagai ormas besar bahkan memberi tanggapan dan seruan kepada warganya terkait “bendera tauhid yang dibakar”.

Sedangkan kami? Boro-boro memberi tanggapan di media, lha wong kami ini dibandingkan NU dan Muhammadiyah jika diibaratkan seperti sepeda onthel, rangkanya NU, setang dan sedelnya Muhammadiyah, sedangkan kami ya cuma stiker untuk nutupin lecet cat yang mengelupas aja kok. Mau ada tanggapan atau nggak ada, Nggak ada efeknya, Bung. Ya maklum, namanya juga minoritas.

Tapi ada baiknya sampeyan menyimak apa yang pernah disampaikan oleh penulis Gaspar, Mas Dio pas ngisi materi di acara Jambore Mojok beberapa waktu silam. Entah mengutip dari siapa, kira-kira begini, “Membuat orang tertawa adalah serendah-rendahnya komedi.”

Mas Dio juga menceritakan pula bahwa ada seorang yang tampil di atas panggung, kemudian membaca buku di hadapan orang yang menunggu dan berharap akan menyaksikan sebuah acara komedi. Sekali lagi, dia membaca buku di atas panggung di mana penontonnya sedang nunggu buat dibikin ketama. Buset dah, itu di mana letak lucunya coba?

Pola pikir ini yang kemudian saya tangkap sebagai alasan kenapa di organisasi kami cenderung tidak ada kelucuan. Humor cerdas, apalagi menjadi pendengar humor tersebut, itu mudah kok. Asal definisi humor tersebut tidak selalu berarti lucu. Kritikan yang terlampau kritis bisa juga berubah seperti humor. Dalam titik tertentu humor tidak melulu harus berakhir dengan ketawa bahagia, ketawa getir kan juga ada ya kan?

Jadi begini. Bagi kami orang LDII ini, rasan-rasan orang di sekitar kami, kesaksian-kesaksian yang diungkap di media, komentar-komentar ustaz-ustaz di Youtube mengenai kami, dan semua celotehan yang menyudutkan kami itulah komedi yang sesungguhnya. Mereka membuat kami benar-benar tertawa. Alih-alih bersedih karena stereotip tersebut lalu dicurigai sedemikian rupa.

Saya menyaring, mengambil inti sebuah makna dari tulisan almarhum Cak Rusdi Mathari yang sangat saya rindukan, “Anjingkan daku, kau kumonyetkan.”

Maafkan saya Cak Rusdi, saya kok sempat mengartikannya seperti ini…

“Sesatkan aku, kau kukafirkan.”

Terakhir diperbarui pada 25 November 2019 oleh

Tags: garis lucuHumorIqbal Aji DaryonoKafirkomediLDIIMuhammadiyahnurusdi mathariSesat
Eksan Susanto

Eksan Susanto

Artikel Terkait

Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO
Sehari-hari

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO
Kabar

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Siswa Katolik di Muhammadiyah Pekalongan. MOJOK.CO
Sekolahan

Cerita Siswa Katolik Suka Otak-atik Motor hingga Lulus dari SMK Muhammadiyah dan Dapat Beasiswa Magang ke Jepang 

18 Mei 2026
Tapak Suci Unair. MOJOK.CO
Sehari-hari

Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran

21 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Karnaval sound horeg getarkan Jawa Timur tiap Agustusan. Dosa jariah di balik gengsi antardesa, dalih selawatan, hingga perputaran ekonomi di bawah MOJOK.CO

Jatim Bergetar Tiap Agustusan: Dosa Jariah Sound Horeg di Balik Gengsi Antardesa hingga Selawatan Sambil Berjoget Seksi

3 Agustus 2026
Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman meluncurkan aplikasi Gandheng ATS untuk atasi masalah anak putus sekolah MOJOK.CO

Sleman Punya Aplikasi Pencegahan Dini Anak Tidak Sekolah

5 Agustus 2026
Polemik IKAPI DIY dan toko buku Jogja perihal harga murah MOJOK.CO

Narasi “Harga Murah” Pameran Buku IKAPI DIY Singgung Toko Buku Jogja, Kalimat yang Tidak Seharusnya Keluar

5 Agustus 2026
Malaysia dekat ke gerbang negara maju. Indonesia negara apa? (Unsplash)

Malaysia kian dekat ke gerbang negara maju, kalau Indonesia makin dekat ke gerbang apa bes?

4 Agustus 2026
Token listrik lebih awet setelah mengubah kebiasaan kecil di rumah (Unsplash)

Token listrik lebih awet setelah saya mengubah kebiasaan kecil di rumah

7 Agustus 2026
Ilustrasi perantau dari desa.MOJOK.CO

Tangis Sunyi Para Perantau: Uang Habis Untuk Hidupi Keluarga, tapi Dicap Durhaka karena Jarang Pulang dan “Tak Hadir” di Orang Tua

3 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.