MOJOK.CO – Memondokkan anak hari ini tak cukup hanya bermodal kepercayaan kepada kiai; orang tua juga ingin mengetahui apa yang dipelajari anak, bagaimana perkembangannya, dan seperti apa pesantren mengurus kehidupannya.
“Emang mondok setahun di sana, anakmu dapat apa?”
Pertanyaan itu dilontarkan kepada saya ketika sedang mencari referensi pesantren untuk anak. Rasanya baru kemarin saya boyongan dari pondok, kini sudah bertukar nasib. Giliran saya menjadi bapak-bapak yang bersiap mengantar anak mondok.
Saya sendiri pernah mondok sejak usia SD hingga SMA. Dalam dunia pesantren, mondok berarti tinggal sekaligus belajar sebagai santri.
Anak tidak sekadar datang untuk mengikuti pelajaran agama, tetapi menetap di asrama, menaati jadwal dan aturan pondok, serta menjalani kehidupan sehari-hari bersama kiai, ustaz, pengurus, dan santri lainnya.
Jadi, ketika orang tua memondokkan anak, yang dititipkan bukan hanya urusan pendidikan, melainkan juga pengasuhan, pembentukan adab, kemandirian, kesehatan, dan keselamatannya selama jauh dari rumah.
Memondokkan anak di pesantren tidak lagi sesederhana dulu
Dulu, ketika orang tua saya hendak memasukkan saya ke pesantren, pertanyaannya relatif sederhana: pesantrennya mana, kiainya siapa, ngajinya apa, dan sanadnya bagaimana?
Sekarang, pertanyaan orang tua bertambah panjang. Setahun anak akan hafal berapa juz? Bisa apa saja? Bagaimana kemampuan bahasa Arab dan bahasa Inggrisnya? Apakah perkembangan belajarnya bisa diketahui orang tua?
Saya tahu pertanyaan semacam itu terdengar transaksional. Masa mengaji ditarget seperti cicilan? Setahun harus dapat sekian, dua tahun sekian. Namun, kita juga tidak perlu buru-buru menyalahkan orang tua yang berpikir demikian. Zaman berubah, begitu pula cara mereka memandang pendidikan pesantren.
Lihat saja pertumbuhan sekolah pendidikan Al-Qur’an modern di banyak tempat. Yang saya maksud “modern” di sini bukan gedung megah, kelas ber-AC, atau asrama dengan fasilitas serba canggih.
Model lembaganya justru bisa sederhana, bahkan tidak selalu memiliki kompleks bangunan besar dengan ekosistem santri seperti pesantren tradisional. Namun, programnya jelas, clear: belajar membaca Al-Qur’an, tajwid, dan hafalan. Sudah. Simpel.
Yang paling penting, targetnya terlihat dan progresnya terpantau. Orang tua bisa mengetahui dalam setahun anak akan mempelajari apa, ditargetkan menghafal berapa juz, dan perkembangannya sudah sampai mana. Hal semacam itulah yang dicari banyak orang tua sekarang, termasuk mereka yang dahulunya lulusan pesantren tradisional.
Merasa sudah membayar, banyak orang tua sekarang yang nggak sabar
Ketika pertanyaan yang sama diajukan kepada sebagian pesantren tradisional, jawabannya kadang sedikit abstrak dan mengambang: “Ya, nanti tergantung kemampuan anaknya.”
Jawaban itu tidak sepenuhnya salah. Kemampuan setiap anak memang berbeda. Ada santri yang daya ingatnya kuat dan bisa menghafal dengan cepat. Ada pula yang sudah murajaah sampai koprol berkali-kali, tetapi hafalannya masih tersendat-sendat.
Pesantren tradisional paham betul bahwa pendidikan anak Adam tidak bisa dipatok seperti memesan tiket kereta. Anak harus diperlakukan sebagai manusia dengan kemampuan dan kecepatan belajar yang berbeda, bukan sebagai produk yang harus selesai dengan spesifikasi seragam.
Masalahnya, banyak orang tua sekarang tidak lagi memiliki kesabaran jeru—kesabaran untuk menunggu proses dalam waktu panjang—seperti generasi sebelumnya. Mereka sudah membayar uang pangkal, syahriyah, perlengkapan, serta biaya antar dan menjenguk anak.
Wajar jika kemudian muncul pertanyaan yang terdengar seperti perhitungan untung-rugi: “Uang dan waktu sudah keluar banyak, hasil konkretnya untuk anak saya apa?”
Di situlah pertanyaan pada awal tulisan tadi berbalik kepada saya sendiri: “Emang anak saya nanti dapat apa, ya?”
Dulu, kepercayaan kepada kiai saja sudah cukup
Harus diakui, saya orang udik. Dari desa. Cukup ndesit. Cara pandang saya sebagai masyarakat tradisional membuat saya punya cara pandang sendiri untuk pendidikan agama anak saya.
Jujur, saya memondokkan anak, karena saya punya kepercayaan tak terjelaskan terhadap kiai. Saya tidak akan banyak bertanya soal kurikulum di atas lembar-lembar akreditasi. Apalagi sampai minta data outcome-based education ke gus-gus pondok.
“Wis, sing penting melu kiai kuwi wae. Sanad-e wis jelas.” Bagi saya, itu sudah cukup.
Anak dititipkan, kiai dipercaya, proses dijalani, dan hasilnya dilihat nanti, nderek Gusti.
Model kepercayaan semacam ini bertahan dari generasi ke generasi karena hubungan pesantren dengan masyarakat dibangun melalui reputasi yang dipupuk dalam waktu panjang. Kiai mengenal keluarga santri.
Orang tuanya pernah mondok di sana. Pamannya alumni. Kakeknya mengenal pengasuh pesantren. Semua saling berkelindan dalam hubungan yang tidak dibangun melalui iklan atau lembar promosi.
Bagi pesantren, waktu adalah bukti. Artinya, pesantren sebenarnya mempunyai sistem pemasaran sendiri. Namanya silaturahmi: saling mengenal, lalu saling percaya.
Namun, jejaring silaturahmi itu kini harus berhadapan dengan algoritma media sosial dan mesin pencari. Orang tua dapat membandingkan program, biaya, fasilitas, target hafalan, bahkan aktivitas harian berbagai lembaga melalui layar telepon genggam.
Waktu mulai dihitung, biaya masuk neraca, dan capaian pendidikan mempunyai indikator.
Sekolah Al-Qur’an modern lebih mudah menyesuaikan diri dengan logika tersebut. Program dan targetnya terpampang jelas, sehingga orang tua tidak perlu banyak bertanya: lima juz, sepuluh juz, atau tiga puluh juz dalam tiga tahun. Clear.
Namun, perlu njenengan ketahui, saya tidak sedang membenturkan sekolah Al-Qur’an modern dan pesantren tradisional seolah-olah keduanya bermusuhan. Tidak. Anggap saja ini refleksi bersama—halah—bahwa pesantren tradisional juga perlu bertransformasi agar mampu menjawab kebutuhan wali santri hari ini.
Gerakan Ayo Mondok juga mengajak pesantren berbenah
Gagasan ini bukan datang dari saya sendiri. Saya mengenalnya dari “gus” saya, Gus Rozin atau KH. Abdul Ghaffar Rozin. Pada 2015, melalui jaringan Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU), saya mengikuti gagasan yang dibawa dalam gerakan “Ayo Mondok”.
Gerakan tersebut kerap dipahami hanya sebagai ajakan kepada orang tua untuk menyekolahkan anak ke pesantren. Padahal, yang diajak berbenah bukan hanya cara pandang calon wali santri, melainkan juga pesantrennya. Pesan orang tua bukan semata “ayo mondok”, tetapi pesantren pun perlu mempersiapkan diri menjadi tempat pendidikan yang semakin baik.
Transformasi itu tidak berarti pesantren tradisional harus memiliki kelas ber-AC, memasang layar LED, atau membuat akun Instagram yang rajin mengunggah Reels.
Transformasi itu dapat dimulai dari perkara sehari-hari yang sangat menentukan kehidupan santri. Ketika anak sakit, misalnya, siapa dan bagaimana menanganinya dan seberapa cepat wali santri dihubungi? Apakah orang tua bisa mengetahui penggunaan uang saku anak melalui catatan digital? Apakah perkembangan belajar dan kondisi anak dilaporkan secara berkala?
Jadwal ngaji, sekolah, makan, kebersihan tidak lagi mengandalkan sistem; “Nanti coba tanya pengurusnya dulu, Pak,” tapi bisa dipantau atau dilaporkan ke wali santri di rumah. Wali santri tidak lagi pasrah bongko’an tapi juga dilibatkan dalam tumbuh kembang santri meski beda lokasi. Anak di pesantren, orang tua di rumah sendiri.
Transformasi tak akan mengubah jati diri pesantren tradisional
Toh, transformasi ini, saya kira, tidak perlu sampai mengubah pesantren tradisional berubah jati dirinya. Kitab kuning tetap dikaji. Hubungan guru-murid tetap dijaga. Tradisi tetap hidup. Adab tetap jadi core of the core. Yang penting, pesantren jangan sampai berpikir bahwa pola pikir wali santri sekarang sama dengan wali santri puluhan tahun lalu.
Dalam pandangan saya, tidak sedikit pesantren yang sudah bertransformasi menjadi lebih modern seperti itu. Di Jawa Tengah ada beberapa, di Jawa Timur, di Jogja juga. Pesantren, saya rasa tidak cukup lagi hanya membanggakan reputasi lembaganya yang sudah berusia ratusan tahun.
Toh, tidak ada yang ingin pesantren membuang ekosistem dan tradisinya, saya hanya ingin bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana yang muncul ketika ada yang nyeletuk.
“Emang mondok setahun di sana anakmu dapat apa?”
Lalu saya bisa menjawabnya dengan pasti, tanpa dalil-dalil ilahi. Anak saya setahun dapat entah berapa juz, tapi setidaknya saya tahu ia bakal belajar apa, berkembang sampai mana, seperti apa guru-gurunya.
Dan, ini yang penting, pengurus pesantrennya tidak menjawab ke saya dengan balasan, “Insya Allah nanti juga kelihatan hasilnya,” tapi dijawab dengan jelas seperti, “Baik, Bapak. Dari data kami, anak Bapak ternyata suka menulis dan kaligrafi, tetapi ternyata kurang suka pelajaran kalkulus.
Penulis: Khasan Ubaidillah
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA: Framing Busuk Trans7 ke Pesantren Lirboyo dengan Citra Perbudakan adalah Kebodohan yang Tidak Bisa Dimaafkan Begitu Saja dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.
