Misteri Desa Kecil di Selatan Surabaya

Peran pemerintah Desa Wage sangat sentral dan harus lebih sebagai fasilitator, supervisi, dan pengembangan kapasitas desa.

Misteri Desa Kecil di Selatan Surabaya MOJOK.CO

Ilustrasi Desa Wage, desa kecil di selatan Surabaya. (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.COSatu hal yang pasti, geliat “desa kecil” di selatan Surabaya itu semakin terasa. Menjadi desa yang kuat secara ekonomi dan sosial.

Sebagai kaum urban, saya melihat ada geliat ekonomi yang meyakinkan di desa ini. Sebuah desa kecil dengan penduduk sangat padat. Mengintip data 2018, penduduk di desa ini sudah mencapai 22.257 jiwa. Angka ini paling banyak se-Kecamatan.

Adalah Desa Wage. Sebuah desa kecil di Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, tidak jauh dari Surabaya. Desa Wage bukan desa biasa. Ia telah bermetamorfosis menjadi desa besar yang menampung banyak penduduk urban.

Secara geografis, desa ini masuk ke wilayah Kabupaten Sidoarjo. Namun, melihat ke peta, Desa Wage sangat dekat dengan Surabaya.

Sebelah utara desa merupakan akses menuju ke Terminal Purabaya. Di sisi timur merupakan akses menuju ke Bandara Juanda. Desa ini juga dikelilingi banyak industri, mulai Maspion, hingga industri baja Ispatindo.

Melihat landmark yang mengelilingi desa, kita bisa meraba besarnya potensi yang tersimpan di Wage. Namun, tahukah kamu, desa ini belum lama dikenal oleh kalangan luas, apalagi oleh mereka yang tinggal di Sidoarjo dan Surabaya. Baru sekitar tahun 1960an, Desa Wage perlahan dikenal.

Dulu, desa ini hanya berstatus “persinggahan”. Sebuah desa yang sangat sepi. Dikepung padang ilalang (ara-ara). Orang lokal menyebutnya grumbul atau deretan rumpun bambu.

Nama desa ini juga unik. Diambil dari nama hari pasaran kalender Jawa; Paing, Pon, Wage, Legi, dan Kliwon. Pemilihan nama Wage selalu dihubungkan dengan legenda Ratu Ayu. Seorang tokoh perempuan cantik dengan kesakten yang tinggi. Pundennya masih ada dan kemudian diabadikan sebagai jalan utama di desa ini dengan nama Jalan Ratu Ayu.

Kondisi Desa Wage saat ini

Desa Wage saat ini tak lagi sama dengan desa yang mulai dikenal 62 tahun yang lalu. Wage menjadi desa terkenal karena penghuni barunya. Kaum urban yang datang dari berbagai pelosok tanah air untuk mendiami desa “misterius” di selatan Surabaya ini.

Yang mengejutkan adalah Desa Wage kini justru sudah menjadi semacam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Pertumbuhan ekonominya paling cepat dibandingkan dengan kawasan di sekitar Sidoarjo dan Surabaya.

Sepanjang Jalan Taruna, misalnya, yang membelah Desa Wage menjadi dua; utara dan selatan. Membentang dari timur ke barat, sepanjang kurang lebih 1,5 kilometer, adalah pusat perekonomian masyarakat di mana perputaran ekonominya terbilang dahsyat

Di sepanjang Jalan Taruna ini, berdiri banyak toko dan kios-kios. Besar dan kecil. Di tengah-tengahnya ada pasar tradisional yang menjadi pusat belanja kebutuhan sehari-hari bagi warga.

Kemudian di sebelah baratnya lagi berdiri banyak kios kuliner. Mulai dari Bakso & Mie Ayam Pak Kumis, Ayam Bakar Pak D, Ayam Lodho Bu Hartini, dan lapangan kulineran UD Kresno. Semuanya juga telah tersedia di Google Map. Di kawasan ini, perputaran uang yang terjadi sangat tinggi. Lebih-lebih pada bulan puasa.

Di bulan puasa, perputaran uang di kawasan Jalan Taruna jauh lebih tinggi. Dalam hitungan kasar, satu minggunya bisa mencapai Rp3,8 miliar dengan perhitungan sebagai berikut:

Perkiraan jumlah orang yang belanja atau transaksi separuh dari jumlah penduduk, yakni 11 ribu orang. Kita andaikan saja mereka menghabiskan Rp50 ribu saja sekali belanja (dibuat rata-rata).

Maka, perputaran uangnya mencapai Rp550 juta per harinya. Jika jumlah ini dikalikan tujuh hari, angkanya sebesar Rp3,85 miliar. Angka ini tidak sedikit dan menunjukkan kondisi ekonomi yang sehat dan berkembang.

Itu sebabnya, kawasan Jalan Taruna menjadi kawasan bisnis yang menjanjikan. Warga lokal yang memiliki tanah di pinggir jalan mendapatkan hikmahnya.

Harga sewa lahan atau lapak bisa mencapai Rp3 juta per bulan dengan ukuran yang tidak lerlalu besar. Apalagi jual beli tanah. Harganya mulai tak masuk akal. Mencapai Rp5 juta, bahkan lebih, untuk per meter persegi. Tentu ini untuk hitungan sebuah desa yang “masih dianggap kecil” oleh banyak orang, termasuk untuk penduduk Sidoarjo dan Surabaya.

Sudah sepatutnya penduduk Wage bersyukur akan situasi (ekonomi) ini. Warga lokal selalu mengatakan bahwa Desa Wage memang “tanah yang dijanjikan”. Seperti ratu ayu (cantik) yang memesona. Dengan demikian, Wage selalu didorong menjadi kelurahan, walau itu tidak penting menurut saya. Tetaplah menjadi “desa kecil”, namun ekonominya melampaui kelurahan.

Pengelolaan yang baik

Perkembangan pesat di sektor ekonomi di atas memang bukan potensi satu-satunya. Desa Wage memiliki potensi lain berupa sosial budaya.

Tradisi budaya semacam sedekah desa, ruwatan, wayangan, patrol, dan gotong royong masih dilestarikan. Ditambah lagi tradisi agama, seperti yasinan, tahlilan, salawatan, pengajian ibu-ibu, dan juga banjarian masih sering dikerjakan.

Namun demikian, semua potensi itu menjadi tidak berarti manakala pemerintah desa tidak mampu mengelola dengan baik. Pemerintah desa mutlak harus menangkap potensi itu dengan banyak belajar dan membuka diri, serta berkolaborasi dengan banyak pihak. Terutama dari Sidoarjo dan Surabaya yang memiliki potensi besar untuk engagement Desa Wage di media sosial.

Sedikitnya ada tiga alasan yang mesti diperhatikan. Pertama, posisi Desa Wage bukan lagi “desa seperti desa pada umumnya”, yakni menjadi penyokong Surabaya atau Sidoarjo (hinterland).

Desa Wage bahkan berpotensi menjadi entitas yang sejajar dengan kehidupan di perkotaan. Kondisi sosiologis ini tidak bisa dikelola dengan cara biasa. Harus dikelola dengan cara baru, yakni pengelolaan yang lebih professional.

Kedua, jumlah penduduk Desa Wage akan terus meningkat dalam tahun-tahun berikutnya. Mengelola jumlah penduduk yang banyak ini tidak mudah. Karena itu, peningkatan kapabilitas Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi sangat penting. Terutama kepala desa sendiri, perangkat desa, kaur desa hingga perangkat di level RT dan RW.

Ketiga, adalah soal tantangan, cepat atau lambat, masyarakat Wage akan mengalami banyak tantangan. Karena itu, Wage harus didorong menjadi entitas desa yang mandiri, otonom, bercorak lokalitas, dan menempatkan warga sebagai subjek dalam pembangunan.

Ini agar Wage menjadi basis penghidupan bagi masyarakat secara berkelanjutan. Di saat yang sama, peran pemerintah Desa Wage sangat sentral dan harus lebih sebagai fasilitator, supervisi, dan pengembangan kapasitas desa.

Dengan memperhatikan tiga hal di atas, segala potensi yang dimiliki Wage saat ini akan sangat menguntungkan bagi pemerintah dan masyarakat kebanyakan. Apalagi di era Undang-Undang Desa (UU Desa) ini, di mana desa didorong menjadi garda terdepan dalam pembangunan.

Jika regulasinya sudah ada, geliat ekonominya juga sudah ada, maka tidak ada asalan bagi Desa Wage untuk tidak berkembang dan maju. Ini tentu butuh komitmen, kerja sama, dan kemauan politik yang tinggi.

Satu hal yang pasti, geliat “desa kecil” di selatan Surabaya itu semakin terasa. Menjadi desa yang kuat secara ekonomi dan sosial. Ingat, pembangunan yang sehat berawal dari lingkaran terkecil dulu. Yah, itu kalau menurut saya.

BACA JUGA 5 Hal Konyol yang Bisa Kalian Temukan di Jalanan Kota Surabaya dan analisis menarik lainnya di rubrik ESAI.

Penulis:

Editor: Yamadipati Seno

Exit mobile version