Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

Khumaid Akhyat Sulkhan oleh Khumaid Akhyat Sulkhan
12 Januari 2026
A A
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO

Ilustrasi Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Benarkah yang dilakukan Pandji Pragiwaksono melalui Mens Rea sebagai pembullyan berkedok stand-up comedy?

Sejak Mens Rea tayang di Netflix, linimasa media sosial saya dipenuhi berbagai perdebatan mengenai humor Pandji Pragiwaksono yang banyak menyenggol tokoh-tokoh publik di rezim pemerintahan hari ini.

Meskipun yang dibahas adalah acara stand-up comedy, urusan lucu atau tidak lucu nyaris tak memperoleh perhatian. Materi Pandji Pragiwaksono yang sarat kritik justru memantik berbagai polemik. Salah satu yang penting untuk dikulik adalah bagaimana logika fanatisme bekerja di kalangan warganet melalui pelabelan Panji sebagai Anak Abah, simpatisan Anies Baswedan yang kalah di Pilpres 2024.

Pelabelan Anak Abah terhadap Pandji menempatkannya pada satu kubu politik tertentu, sekaligus menggeser perhatian dari argumennya ke identitas yang dilekatkan padanya. Situasi ini membuat kritik Pandji tidak diperlakukan sebagai pendapat yang bisa diperdebatkan, melainkan sekadar bentuk lain dari loyalitas terhadap Anies.

Tuduhan untuk Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah

Meskipun sebagian pembela Mens Rea kemudian mencurigai mereka yang kontra terhadap acara tersebut sebagai buzzer pemerintah, tujuan esai ini bukan untuk menghakimi atau ikut melabeli siapa buzzer dan siapa bukan. Selain sulit dibuktikan, menurut saya justru lebih relevan kalau kita membahas bagaimana logika fanatisme di media sosial menjadi  praktik yang bisa membungkam kritik dan, pada akhirnya, ikut berkontribusi pada kemacetan proses demokrasi di Indonesia.

Saya menggunakan istilah ‘logika fanatisme’ karena pelabelan Pandji Pragiwaksono sebagai “Anak Abah” memang tidak secara terang-terangan menuduh atau menarasikannya sebagai orang fanatik. Namun, cara melabeli semacam ini bekerja dengan logika fanatisme politik: kritik tidak dibaca sebagai bagian dari produksi pengetahuan, tetapi sebagai tanda keanggotaan kubu. 

Begitu sebuah posisi dipahami sebagai “punya Anies” atau “punya Prabowo”, perdebatan berhenti di urusan siapa mendukung siapa, bukan apa yang sebenarnya dikatakan. Pada titik ini, media sosial menjadi arena yang subur bagi cara berpikir biner mengenai siapa lawan, siapa kawan, yang secara perlahan menggeser ruang debat dari adu gagasan menjadi adu identitas.

Pembullyan berkedok karya seni seorang stand-up comedy 

Refleksi tentang fanatisme negatif dalam esai ini berangkat dari pembacaan saya atas buku Fanaticism: A Political Philosophical History karya Zachary R. Goldsmith. Dari buku tersebut, saya memahami bahwa fanatisme kerap dipandang sebagai perilaku negatif—terutama pada fase awal kajiannya—karena lahir dari hasrat yang terlalu kuat terhadap suatu keyakinan.

Hasrat ini membuat seseorang menjadi irasional, merasa paling benar, menolak pandangan lain, dan, dalam bentuk yang ekstrem, bahkan membenarkan kekerasan, baik verbal maupun fisik.

Makna fanatisme sebagai sikap merasa keyakinannya paling benar—baik terhadap pengetahuan maupun tokoh publik tertentu—dan menganggap keliru mereka yang punya keyakinan berbeda, bikin istilah ini kerap dipakai sebagai label, bahkan stigma.

Misalnya, kita menuding seseorang sebagai pengikut tokoh tertentu karena dia mengkritik tokoh yang kita ikuti. Ini menjadi cara yang mudah untuk membuat seluruh argumennya, yang berseberangan dengan keyakinan kita, jadi tampak sebagai ekspresi partisan belaka. 

Dalam kerangka semacam inilah, saya pikir, logika fanatisme bekerja. Sebagai contoh, saya ingin memperlihatkan dua utas yang saya temukan dari Threads dan kemudian memberi analisis sederhana untuk melihat makna yang berusaha dibentuk.

Utas pertama: “Pandji Pragiwaksono itu Anis Lovers .. bahkan dia pernah jadi tim sukses Anis juga .. pantesan aja dia begitu sangat membenci pemerintah .. si Pandji ini sedang melakukan Pembullyan berkedok karya seni seorang standup comedy dg meroasting .. mmg sangat tidak berkualitas hidupnya !!! sejahat itu dia suka membully orang lain yg padahal orang itu ga pernah kenal Pandji.”

Utas Kedua: “…sebab sebenernya simple aja, … Pandji jelas Anak Abah dia lagi mewakili rasa sakiiiiiiittt anak2 abah yg begitu mendalam dan dendam kesumat yang gak selesai2 (sukur2 gak dibawa matee) akibat jagoannya kalah Pilpres 2024.”

Iklan

Bukan isi materi Mens Rea, Pandji Pragiwaksono justru dinilai karena Anies lovers

Dua contoh postingan di Threads itu menunjukkan dengan jelas bagaimana pelabelan “Anak Abah” bekerja melalui logika fanatisme politik. Alih-alih membahas isi materi Mens Rea atau menimbang argumen Pandji, ia direduksi menjadi bagian dari kubu Anies lovers, tim sukses, bahkan representasi “sakit hati pendukung yang kalah.” 

Dengan cara ini, kritik Pandji Pragiwaksono tidak dibaca sebagai posisi yang mungkin lahir dari pertimbangan rasional, melainkan sebagai ekspresi dendam dan loyalitas partisan.

Penyederhanaan semacam ini jelas merupakan usaha untuk menutup ruang dialog. Sehingga, perdebatan pun berhenti pada soal siapa berada di pihak siapa, bukan pada apa yang dikatakan. 

Dan media sosial menjadi ruang di mana labeling terhadap Pandji mendapat tempat untuk direproduksi, dipamerkan, bahkan tak jarang pula dirayakan. Dengan logika fanatisme pula, lawakan Panji dianggap tidak lebih dari usaha menjatuhkan citra pemerintahan Prabowo-Gibran.

Siapa sebenarnya yang fanatik?

F. Budi Hardiman (2021) menjelaskan bahwa fanatisme bekerja dalam empat ranah: cara berpikir, bersikap, berinteraksi, dan berkuasa. Sebagai cara berpikir, fanatisme ditandai oleh klaim atas kebenaran yang dianggap mutlak sehingga menolak pandangan berbeda.

Sebagai cara bersikap, ia tampak dalam kecenderungan merasa paling berhak menghakimi orang lain, mudah tersinggung, bahkan marah ketika keyakinannya dipersoalkan. Dalam ranah interaksi, fanatisme hadir sebagai kompetisi antarkelompok untuk merebut pengaruh sosial. Sementara sebagai cara berkuasa, fanatisme menjelma dalam rezim-rezim politik.

Dalam polemik Mens Rea, logika fanatisme justru terlihat pada kelompok yang melabeli Pandji sebagai Anak Abah. Alih-alih membahas substansi kritik, mereka lebih sibuk mempromosikan citra positif pemerintahan Prabowo–Gibran.

Kritik disingkirkan, narasi pendukung dipertahankan, lalu dipaksakan sebagai kebenaran tunggal. Akibatnya, perdebatan soal Mens Rea direduksi menjadi sekadar adu posisi antara pendukung rezim dan oposisinya.

Dengan begitu, terlepas dari apakah mereka buzzer atau bukan, sebagian warganet yang kontra terhadap Pandji Pragiwaksono justru ikut mempraktikkan bentuk fanatisme di media sosial, sembari melabeli pihak lain sebagai “pengikut” tokoh tertentu. Secara sadar atau tidak, praktik semacam ini menempatkan mereka dalam sebuah rezim pengetahuan yang merasa berhak menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah, apa yang boleh dikritik dan apa yang sebaiknya tidak.

Penulis: Akhyat Sulkhan
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Mengajari Siswa Down Syndrome Cara Marah, karena Dunia Tidak Selalu Ramah dan artikel lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 12 Januari 2026 oleh

Tags: anak abahAnies Baswedanmens reaPandji Pragiwaksonoprabowostandup comedy
Khumaid Akhyat Sulkhan

Khumaid Akhyat Sulkhan

Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia yang menggemari topik-topik seputar kajian budaya dan media. Kadang-kadang menulis esai atau cerita fiksi sebagai medium eskapis. Novel pertamanya, Kronik Pembunuhan Selma, memenangkan juara kedua Penghargaan Sastra Rasa Ayu Utami 2025.

Artikel Terkait

kapitalisme terpimpin.MOJOK.CO
Ragam

Bahaya Laten “Kapitalisme Terpimpin” ala Prabowonomics

21 Oktober 2025
Hentikan MBG! Tiru Keputusan Sleman Pakai Duit Rakyat (Unsplash)
Pojokan

Saatnya Meniru Sleman: Mengalihkan MBG, Mengembalikan Duit Rakyat kepada Rakyat

19 September 2025
Video Prabowo Tayang di Bioskop Itu Bikin Rakyat Muak! MOJOK.CO
Aktual

Tak Asyiknya Bioskop Belakangan Ini, Ruang Hiburan Jadi Alat Personal Branding Prabowo

16 September 2025
Video Prabowo Tayang di Bioskop Itu Bikin Rakyat Muak! MOJOK.CO
Esai

Jika Pemerintah Bekerja dengan Baik, Rakyat Tidak Perlu Diingatkan Setiap Hari Pakai Video Prabowo yang Tayang di Bioskop Jelang Film Mulai: Aneh!

15 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dracin bukan sekadar kisah cinta lebay. MOJOK.CO

Kisah Cinta “Menye-menye” ala Dracin bikin Hidup Perempuan Dewasa Lebih Berbunga dari Luka Masa Lalu yang Menyakitkan

6 Januari 2026
Kisah Bu Ngatimah, pekerja serabutan yang iuran BPJS Ketenagakerjaan miliknya ditanggung ASN Kota Semarang MOJOK.CO

Kisah Bu Ngatimah: Pekerja Serabutan di Semarang dapat Fasilitas BPJS Ketenagakerjaan, Iurannya Ditanggung ASN

7 Januari 2026
MY Lawson, aplikasi membership yang beri ragam keuntungan ke pengguna MOJOK.CO

Sensasi Pakai MY LAWSON: Aplikasi Membership Lawson yang Beri Ragam Keuntungan Ekslusif buat Pelanggan

10 Januari 2026
Budaya “Jatah Ciu” kepada Pemuda Desa Dianggap Manifestasi Srawung, tapi Tak Cocok Untuk Semua Orang MOJOK.CO

Budaya “Jatah Ciu” kepada Pemuda Desa Dianggap Manifestasi Srawung, tapi Tak Cocok Untuk Semua Orang

6 Januari 2026
literasi rendah di Papua dan upaya mahasiswa BINUS. MOJOK.CO

Tantangan Mahasiswa BINUS bikin Cerita Bergambar Soal Kehidupan Sehari-hari Anak Papua dan Guru Relawan

8 Januari 2026
Dari keterangan Polresta Yogyakarta: Kantor scammer berbasis love scam di Gito Gati, Sleman, raup omzet puluhan miliar perbulan MOJOK.CO

Kantor Scammer Gito Gati Sleman: Punya 200 Karyawan, Korbannya Lintas Negara, dan Raup Rp30 Miliar Lebih Perbulan dari Konten Porno

7 Januari 2026

Video Terbaru

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.