Menjadi Pepes Zombie di Commuter Line

Menjadi Pepes Zombie di Commuter Line

Tiga hari lalu, adik saya mengirimkan gambar yang menggelitik melalui pesan WhatsApp. Gambar ini ternyata juga viral di media sosial dan dinamakan: Train to Manggarai. Entah siapa yang menggagasnya pertama kali, tapi yang jelas gambar ini merupakan plesetan dari poster film yang sedang ngehits juga, Train to Busan.

Train to Manggarai
Train to Manggarai

Train to Busan merupakan film Korea Selatan yang bercerita tentang sebuah kereta listrik cepat dengan rute Seoul ke Busan. Suatu ketka, stasiun pemberangkatan kereta tersebut diserang oleh sekelompok zombie. Masinis kereta pun sampai terbunuh. Alhasil, para penumpang berusaha menyelamatkan diri dengan melawan rombongan zombie tersebut.

Tentu saja tragedi dalam film Train to Busan tidak nyata. Tapi, lain halnya dengan Train to Manggarai. Banyak netizen yang beranggapan, Train to Manggarai bahkan lebih mengerikan karena menyajikan tragedi nyaris setiap harinya di kehidupan mereka. Dan ehidupan saya tentunya.

Sebagai warga Bekasi–iya, Bekasi yang Anda bilang harus naik roket ke sana, padahal Indonesia tidak punya stasiun luar angkasa–yang bekerja di Jakarta, tentu saja saya lebih menggunakan commuter line sebagai transportasi sehari-hari.

Murah, cepat, nyaman, begitu klaim yang selalu diumbar Humas PT. KRL Commuter Jabodetabek. Tetapi, bagi saya, klaim tersebut sudah tidak berlaku lagi saat ini.

“Anjir ketahan sinyal lagi, bakal telat nih!”

Kalimat di atas sebenarnya hanyalah deskripsi yang ada pada gambar Train to Manggarai untuk menggambarkan realita setiap pagi yang dialami para commuter. Biasanya kalimat tersebut muncul setelah pengumuman seperti ini berbunyi di dalam kereta:

“Mohon maaf kepada para penumpang, kereta Anda masih menunggu antrean aman menuju Stasiun Manggarai.”

Jika Anda terbiasa menaiki commuter line seperti saya, Anda akan merasa horor ketika pengumuman tersebut berbunyi. Dan kita tidak sendirian. Ada bapak-bapak, ibu-ibu, anak sekolah, mas-mas ganteng, mbak-mbak yang lagi dandan juga memiliki keresahan yang sama: datang terlambat ke tujuan akibat kereta tertahan. Alhasil, masinis kereta yang biasanya jadi pelampiasan amarah penumpang.

“Halah, Mas… minta maaf melulu. Kapan insyafnya?!”

Deskripsi berikutnya yang tertulis dari gambar Train to Manggarai tadi adalah: “Ketahan cuma 10 menit aja udah bagus.”

Mengapa 10 menit? Sebab penumpang tidak pernah diberi tahu berapa lama kereta tertahan dan bagaimana perhitungannya bisa sampai sebegitu lama menunggu. Tidak sekali dua kereta tertahan hingga tiga jam, bahkan lebih. Kan kurang ajar.

Coba lihat bagaimana bunyi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen: konsumen berhak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa. 

Tetapi yang terjadi selama ini, sejauh pengalaman pribadi saya dan beberapa rekan commuter line yang lain, para penumpang tidak pernah diberikan informasi sejelas-jelasnya soal balada tertahan sinyal ini.

Dari hal semacam itulah mengapa kemudian gambar Train to Manggarai tadi memiliki kemiripan dengan poster Train to Busan: bukan tidak mungkin para commuter mengamuk seperti zombie!

Saya pribadi merasa heran dengan permasalahan ini. Sebagai informasi, saya sudah lebih dari delapan tahun rutin menggunakan moda transportasi commuter line untuk beraktivitas.

Dulu, 10 menit adalah waktu paling lama untuk menunggu sinyal kereta. Kereta yang datang di stasiun pun lebih tepat jadwal. Penumpang diberi kesempatan memilih kereta: kereta ekonomi, ekonomi AC, atau express. Ada harga, ada kualitas. Yang terpenting: semua jelas.

Tentu saja kereta express lebih diutamakan. Dengan membayar Rp 12.000 sekali perjalanan, jarak Jakarta Kota – Bekasi dapat ditempuh cukup dalam waktu 30 menit–dengan estimasi kelambatan paling lama 40 menit.

Sementara waktu yang ditempuh dengan jarak yang sama menggunakan ekonomi AC–bertarif Rp 6.500–adalah 55 menit. Lalu ekonomi biasa dengan tarif Rp 1.500 adalah 60-65 menit.

Silakan bandingkan dengan kondisi saat ini. Waktu yang ditempuh untuk jarak Bekasi – Manggarai (setengah perjalanan Bekasi – Jakarta kota) saja sudah 60 menit!

Direktur Utama PT. KCJ, M. Fadhil pernah mengatakan, lalu lintas yang sangat padat di Stasiun Manggarai adalah penyebab drama tertahannya sinyal kereta. Ditambah lagi, Stasiun Manggarai menjadi pusat aktivitas ekspedisi dan tempat parkir Kereta Api Jarak Jauh.

Selesai? Belum. Fadhil menambahkan, jumlah penumpang juga kian bertambah, di mana artinya jadwal perjalanan kereta pun turut ditambah. Antrean di Stasiun Manggarai pun kian padat.

Sebagai gambaran, Fadhil menjelaskan, tiga tahun lalu hanya ada 507 perjalanan commuter line dengan penumpang berjumlah 431.886 orang. Saat ini, jumlah penumpang meningkat lebih dari dua kali lipat sehingga perjalanan pun ditambah hingga 897 setiap harinya.

Jika mengikuti nalar Fadhil, maka semestinya penumpang tetap bisa terangkut dengan nyaman, dong? Tetapi kenyataannya tidak. Adakah jawaban yang lebih memuaskan, Pak Fadhil?

Anda mungkin masih bisa menikmati kereta yang nyaman dan tepat jadwal pada tiga tahun lalu. Tapi, dengan kondisi seperti sekarang ini, Anda hanya akan menjadi seperti tumpukan pepes zombie yang tak berguna.

Untuk Stasiun Manggarai, ada perlintasan jalur yang aktif digunakan untuk lintas Manggarai – Jakarta Kota – Bogor – Tanah Abang – Jatinegara – Dipo Bukit Duri. Kepadatan ini ditambah dengan satu jalur untuk parkir kereta dan jalur lainnya untuk kereta api jarak jauh melangsir lokomotif (ganti posisi kepala lokomotif). Dampaknya, titik Manggarai dan Gambir adalah titik terlama tertahannya commuter line.

Menyambung pernyataan M Fadhil, ada beberapa hal yang sedang dilakukan pihaknya dan pemerintah pusat untuk menyelesaikan sengkarut sinyal Manggarai.

Pertama, revitalisasi stasiun Manggarai. Revitalisasi ini dimaksudkan untuk menjadikan stasiun Manggarai dua lantai dengan rel bertingkat untuk memisahkan rangkaian commuter line Bogor/Depok, Bekasi, Jakarta Kota, dan Tanah Abang.

Kedua, melanjutkan pembangunan proyek Double-Double Track Manggarai – Cikarang untuk memisahkan jalur KRL Commuter Jabodetabek dengan Kereta Api Jarak Jauh. Hal ini dilakukan agar jadwal perjalanan commuter line tidak lagi terganggu oleh Kereta Api Jarak Jauh yang harus melintas langsung.

Total ada empat pengerjaan dalam proyek ini. Konon, progresnya baru sekitar 11%. Kementerian Perhubungan memprediksi para penumpang baru dapat merasakan dampak positifnya tiga tahun lagi. Anda tahu apa itu artinya?

Selamat menjadi pepes zombie sampai 2019!

Exit mobile version