Mendukung Istri Bekerja Meski Dikira Jadi Suami Tertindas

MOJOK.CO Istri saya dituduh kejam pada suami karena melakukan eksploitasi terhadap laki-laki. Semua terjadi hanya karena saya mendukung istri bekerja!

Memutuskan tetap bekerja atau tidak merupakan sebuah pilihan yang dimiliki oleh perempuan. Saya sendiri mendukung istri saya untuk bekerja, tidak sekadar untuk memenuhi kebutuhan ekonomi agar lebih aman secara finansial. Bukan juga karena khawatir kalau-kalau saya tiba-tiba mati meninggalkan istri dan anak-anak.

Alasan saya mendukung istri bekerja, lebih karena dia terlihat bahagia ketika bekerja. Tapi ingat: setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menjalani hidup dan mendapatkan kebahagiaan. Jadi, bukan berarti istri tidak bekerja dan tinggal di rumah tidak bahagia, loh.

Sebelum menikah, istri saya selalu mendapat pekerjaan yang mengharuskannya berlama-lama di lapangan. Terkadang, ia sampai live in di tempat yang jauh dan membutuhkan waktu berhari-hari. Bahkan setelah menikah pun, ia masih melakukan hal yang sama.

Untuk istri saya, bekerja merupakan passion dalam hidupnya. Dan sepertinya, istri saya mendambakan pekerjaan yang berkaitan dengan riset dan kerja lapangan. Bertemu dengan orang berbagai latar belakang dan melakukan perjalanan mampu membuatnya terlihat lebih bersemangat.

Setelah menikah dan punya anak, mendukung perempuan bekerja menemukan makna sejatinya. Pasalnya, terkadang hal itu tidak sekadar menjadi urusan suami, istri ,dan anak saja. Orang lain dan perusahaan bahkan juga ikut-ikutan ngurusin.

Pernah suatu saat, saya memiliki pengalaman menarik ketika mbopong anak saya yang masih balita. Saat belanja di ibu tukang sayur keliling, saya ditanya sama penjualnya, “Pak, ibunya ke mana?” Batin saya, ini tukang sayur kreatif banget bikin pertanyaan. Bukankah seharunya kalau nanya itu, “Pak, mau belanja apa?”

Jangan-jangan, tukang sayurnya emang hobi nanya hal yang aneh-aneh sama pembeli, ya? Bisa jadi, kalau istri saya atau ibu-ibu yang lain belanja, mereka bakal ditanya, “Bu, bapaknya ke mana?” Dan di sini dia mungkin akan kena getahnya kalau si ibu sewot dan balik nanya, “Ngapain situ nanyain laki gue?!!”

Di kesempatan lain, saya ngajak main anak ke luar tidak bersama istri dan mendapat pertanyaan yang lebih mantap. Orang di pingir jalan yang tidak saya kenal langsung tanya kapan ibunya anak-anak pulang.

Iya, dia langsung nuduh istri saya TKW yang kerja di Singapura.

Kalau ketemu orang yang kayak tukang sayur atau orang yang suka tiba-tiba nuduh, terkadang saya merasa kesulitan untuk menjelaskan. Dan seringnya, saya kehilangan alasan untuk menjelaskan keadaan yang sesungguhnya, karena tentu bisa memperpanjang perkara.

Mendukung istri bekerja bukan sekadar memberi izin, tapi juga harus siap dengan konsekuensi yang ada. Kami yang sama-sama bekerja tapi tidak punya ART, harus senantiasa membagi pekerjaan rumah maupun dalam urusan merawat anak.

Jadi kalau ada suami mengizinkan istri bekerja tapi dengan syarat semua kerjaan rumah harus beres, terkadang saya gagal paham. Kalau diibaratkan ungkapan Jawa, itu sama saja dengan ngeculna tapi ngganduli atau ‘melepas tapi masih dipegangi kakinya’. Tentu saja, beban kerja perempuan akan menjadi sangat berat. Ini orang sebetulnya rela apa nggak, sih, kalau istrinya bekerja?

Mendukung istri bekerja terkadang membuat saya serasa menjadi asistennya. Saya harus ikut recheck barang bawaan agar tidak tertinggal dan acara bisa lancar, mulai dari baterai recorder dan cadangannya, charger laptop, charger HP, dan memastikan semua perangkat elektronik bisa beroperasi dengan benar.

Tidak hanya itu, kertas plano, metaplan, dan alat tulis juga perlu diperiksa. Mungkin memang saya yang terlalu lebay sampai spidol pun saya buka satu-satu dan saya periksa: apakah bisa dipakai? Jadi sebenarnya, tidak hanya istri yang menikmati pekerjaanya, saya pun menikmati pekerjaan istri saya.Ternyata, pengalaman saya jadi perkap dan koordinator operasional waktu muda bisa berguna juga.

Kejadian menarik saya alami ketika saya dan anak saya mendampingi istri saya ke lapangan (bukan buat main bola, ya!). Ketika saya mengurus anak untuk mandi, nyuapin makan, sampai buang air, tuan rumah tampak heran. Hal itu karena mereka mengira hanya bapak-bapak di desa saja yang ikut ngurusi anak. Ternyata, saya yang dari daerah lain dan dianggap “orang kota” juga melakukan hal yang sama.

Tentu saja, hal itu membuat saya jadi ikut populer, padahal yang punya acara itu istri saya. Saat itu kami merasa bahagia karena kami datang sebagai orang lain, dan ketika kami pulang sudah jadi saudara. Saya jadi terharu, tapi hal itu terjadi mungkin karena saya agak lebay.

Masalah terjadi ketika kegiatan istri saya membawa suami dan anak ke lapangan diketahui oleh orang kantor. Hal ini dipandang seolah-olah menjadi tidak etis dan tidak profesional. Padahal, saya tahu itu omong kosong karena semua prosedur pekerjaan toh telah diselesaikan dengan baik.

Yang lebih menyakitkan (bagi saya, terutama) istri saya dituduh kejam pada suami karena melakukan eksploitasi terhadap laki-laki. Lah, tuduhan macam apa pula ini? Tadinya saya mau berpikir, tapi nggak jadi, ah. Ingat, ya: sebaiknya kita jangan mikirin hal-hal yang nggak penting biar otak bisa lebih awet dan tahan lama.

Sungguh dunia yang tidak adil! Ketika suami mengajak istri dan anak bekerja di lapangan, ia bakal disebut sebagai suami yang sayang istri. Sementara itu, ketika istri mengajak suami dan anak untuk bekerja di lapangan, ia malah disebut istri yang kejam karena mengeksploitasi suami. Mungkin hal macam ini sering dijumpai sama Mas Kokok Herdhianto Dirgantoro ketika melakukan kunjungan warga.

Jadi untuk mendukung perempuan bekerja memang ada rintanganya. Tantangannya terkadang berat, terkadang lucu, terkadang juga tidak masuk akal. Tapi percayalah, kalau dihadapi bersama, semua hal pasti bisa diatasi dengan baik.

Yah, paling tidak kita harus meniru Bapak Presiden: “Yang penting, optimis aja dulu.”

Tjakeeep!

Exit mobile version